Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
70. Surat Ijin Nikah


__ADS_3

Setelah selesai pemakaman, dan pulang ke rumah Rendi, Faro masih sedikit penasaran sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Erna terpaksa di operasi walaupun usia kandungan baru menginjak delapan bulan.


"Apa sebenarnya yang terjadi bro, kenapa bisa seperti ini?" tanya Faro kepada Rendi yang sedang duduk di sofa dengan tatapan mata yang sayu dan sedih.


"Begini ceritanya, tadi malam kejadiannya sekitar pukul satu malam" cerita Rendi perlahan.


Flashback on.


Malam itu Rendi tertidur pulas memeluk Erna dari belakang sampai pukul satu malam perut Erna merasa lapar, memang bawaan bayi setiap malam rasa lapar Erna selalu datang saat tengah malam tiba semenjak usia kandungan lima bulan.


Biasanya Erna menyiapkan makanan di kamar dan di letakkan di meja agar mudah mengambilnya tanpa keluar kamar, tetapi malam ini Erna menginginkan puding buah yang ada di dalam kulkas yang dibuat oleh bibi tadi siang, sehingga terpaksa Erna keluar kamar pelan-pelan agar suaminya tidak ikut terbangun.


Saat bersamaan ada seorang pemuda residivis mencongkel jendela yang berada di samping pintu dapur, padahal jendela itu ada tralis nya, tetapi pemuda residivis itu bisa membuka dengan mudah menggunakan alat khusus yang sudah dia persiapkan.


Pemuda itu mengendap-endap dari dapur menuju ke arah ruang makan, tanpa sadar ada Erna yang berada di depan kulkas sedang membuka kulkas itu untuk mengambil puding buah, sontak keduanya kaget saat saling pandang walaupun dalam keadaan lampu tidak dinyatakan, hanya ada cahaya dari dalam kulkas tetapi terlihat jelas ada siluet sosok laki-laki asing yang masuk rumahnya.


Karena kaget puding terjatuh, mangkuk kaca itu pecah dengan mengeluarkan suara keras.


"Praaaaaang"


"Maling.....maling..... kakak" suara Erna sangat keras memanggil suaminya.


"Kakak.....kakak" teriak Erna lagi dengan keras.


Karena panik pemuda residivis itu mendorong tubuh Erna dengan kuat perutnya berbenturan ke pinggir pintu kulkas dengan keras.


"Aaaaaa....kakak" teriak Erna keras.


Pemuda itu berlari keluar melalui jendela yang sudah di rusak tralis nya saat dia masuk tadi dan bersamaan Rendi terbangun karena ada suara teriakan Erna dan suara mangkuk yang pecah, berlari mencari suara gaduh dan teriakan Erna yang keras, keluar dari kamar mencari sosok istrinya yang sudah menangis dan merintih kesakitan.


Erna terbaring miring dengan memegangi perutnya yang sakit teramat sangat kaki sampai pinggang berdarah terkena pecahan kaca, ada darah segar juga keluar kedua kakinya sampai membasahi daster yang dia kenakan.


"Say.... sayang ya Allah ya Tuhanku, mana yang sakit, kita ke rumah sakit" kata Rendi khawatir.


"Kak, malingnya lari lewat jendela dapur" Erna menunjuk arah belakang sambil menahan perih dan sakit perut.

__ADS_1


"Tidak usah pikiran itu, yang penting kau dan bayi kita selamat" Rendi mengangkat Erna diletakkan di sofa panjang yang ada di ruang keluarga sebentar, berlari mengambil handphone dan kunci mobil serta memanggil bibi yang sedang tidur di kamar samping ruang makan, dan bergegas membawa Erna ke rumah sakit di bantu bibi yang bekerja di rumah Rendi.


Flashback off


Selesai Rendi bercerita, Rendi berpamitan untuk mandi sebentar dan akan mempersiapkan keperluan yang akan dibawa ke rumah sakit untuk Erna.


"Bos, bisakah menghubungi jenderal Hendro untuk kasus yang dialami Rendi?" tanya Mario saat Rendi sudah meninggalkan mereka berdua.


"Seharusnya kasus seperti ini pihak kepolisian yang menanganinya, pasti mereka akan bisa mengatasi dengan cepat, tetapi coba gue hubungi jenderal Hendro agar prosesnya lebih cepat" keterangan Faro sambil mengeluarkan handphone dan menghubungi jemderal Hendro, setelah tersambung Faro langsung menceritakan kejadian yang dialami Rendi dan Istrinya.


"Abang tidak usah turun tangan langsung menangani kasus ini, serahkan kepada kepolisian, semoga tidak sampai dua puluh empat jam akan tertangkap pencurinya" janji jenderal Hendro dalam suara handphone Faro.


"Baik jenderal terima kasih, kami tunggu kabar baiknya" balas Faro, dan mengacungkan jempolnya kepada Mario jika semua sudah teratasi.


Rendi selesai bersiap, berangkat ke rumah sakit bersama Faro dimana hanya Inneke dan Erna saja di ruang rawat inap itu sedangkan Mario pulang untuk membersihkan badannya dan akan ke kantor sampai sore.


"Bagaimana sayang keadaan Erna?" tanya Faro saat sudah sampai di ruang rawat inap itu duduk disampingnya.


"Dia sudah mulai stabil Bang, hanya masih menangis terus" jawab Inneke dengan sendunya.


Pukul tiga sore saat Faro dan Inneke bersiap untuk ke rumah sakit mendapatkan informasi dari Jenderal Hendro bahwa penyelidikan sudah selesai, dan pelakunya sudah diketahui identitasnya, serta menangkap pemuda residivis itu di tahan di kepolisian.


Pihak kepolisian juga mendatangi rumah sakit meminta keterangan dari korban yaitu Rendi dan Erna, saat Faro dan Inneke sampai disana juga, penyelidikan sangat cepat dan tepat karena ada rekomendasi dari jenderal Hendro.


Hampir satu Minggu ini Inneke dan Ara menemani Erna di rumah sakit, membuat ketiganya semakin akrab, dan jika malamnya mereka berenam akan bercengkerama dengan akrab untuk saling memberi dukungan.


Sudah dua bulan berlalu dari peristiwa yang dialami Rendi dan Erna, mereka sudah bisa menerima dengan ikhlas takdir yang dia lalui sebagai pelajaran hidup.


Tinggal satu bulan lagi rencana pernikahan Jasson dan Fia akan menikah, persiapan pernikahan juga hampir semua selesai, terutama Imma dan Trisya Hamsah yang selalu sibuk mempersiapkan semuanya.


Hari ini di kantor datang Conan melaporkan bahwa di Thailand sedang ada pertarungan besar-besaran dan perebutan kekuasaan wilayah narkoba, bahkan hampir semua anak buah Theo Thanapon yang menyebar di seluruh wilayah Asia tenggara di kerahkan ke Thailand termasuk Decha Thanapon juga berada disana juga.


Mendengar wilayah Singapura sedikit ada kelonggaran dari pengawasan Decha Thanapon, Faro mendapatkan ide untuk rencana perijinan pernikahan asistennya.


"Mario elo dengar Bang Conan, sebaiknya elo berangkat sekarang bersama Ara ke Singapura untuk mengurus administrasi pernikahan elo" perintah Faro dengan tegas.

__ADS_1


"Betul juga bos, atau kalau perlu gue temanin ke Singapura bagaimana?" tawar Conan kepada Mario dan Faro.


"Tidak usah, gue dan Ara bisa mengatasi ini, kapan gue berangkat bos?" tanya Mario buru-buru.


"Hari Kamis saja karena tidak ada agenda penting untuk kita" titah Faro lagi.


"Baiklah gue beli tiket sekarang" Mario langsung membeli tiket untuk berdua melalui online.


Akhirnya hari Kamis Ara dan Mario berangkat ke Singapura dengan penerbangan sore hari, sengaja menginap di hotel melati agar tidak terlalu mencolok dan tidak diawasi oleh anak buah Decha Thanapon yang masih tersisa di Singapura.


Dengan menggunakan nama Amara Khotijah dan penampilan yang berbeda serta lebih dewasa ternyata memang tidak terdeteksi dan tidak di kenali oleh anak buah Decha Thanapon.


Hanya dalam waktu tiga hari Ara mengurus surat ijin menikah di pemerintahan Singapura dengan lancar dan tanpa halangan sedikitpun, acara pernikahan akan dilakukan satu bulan setelah Fia menikah, jadi tepatnya dua bulan dari sekarang Mario dan Ara akan menikah tetapi tidak dengan meriah, mereka berniat mengadakan acara yang sederhana.


Karena tidak ingin mencolok dan tentunya tidak ingin di ketahui oleh ayah kandungnya ataupun kakak angkatnya, hanya akan meminta restu dari ibu kandung Ara saja.


Selesai dalam administrasi perijinan Ara menghubungi mommy nya berniat ingin bertemu ternyata mommy berada di Thailand karena terjadi kekacauan disana.


Ara mendapatkan informasi dari ibunya jika ayahnya banyak kehilangan anak buah karena terjadinya perebutan wilayah tetapi wilayah tetap di kuasai oleh Theo Thanapon.


Kekuatan Theo Thanapon tidak bisa di anggap remeh oleh lawan-lawannya bahkan orang yang berasal dari Eropa dan Amerika juga berpikir dua kali jika ingin merebut wilayah yang dikuasai setelah peristiwa perebutan wilayah itu.


Bahkan saat ini Theo Thanapon dalam penanganan dokter pribadinya karena tertembus peluru panas pada pundak sebelah kanan, sedangkan Decha Thanapon mengalami retak pada tulang punggungnya karena terkena lemparan kayu balok dari musuhnya.


Ara juga mendapatkan informasi dari ibunya jika ayahnya kehilangan pimpinan wilayah Indonesia dan Malaysia karena perebutan kekuasaan wilayah narkoba di Thailand, dan yang cedera tidak cuma Decha Thanapon saja, pimpinan wilayah Kamboja sampai kakinya harus di amputasi karena hancur terkena lintasan motor lawan.


Tetapi sayangnya Theo Thanapon tidak tersentuh sedikitpun oleh hukum di Thailand karena koneksi yang kuat dengan penguasa dan orang orang dalam kepolisian.


Ada dua kelemahan Theo Thanapon yaitu pertama seratus persen mempercayai istrinya bercerita jika Ara masih ada di USA, membuka usaha disana dan yang kedua Theo Thanapon tidak berani menemui putrinya sendiri karena ada perselisihan antara keduanya, saat Ara menginjak dewasa saat umur tujuh belas tahun Ara membaca artikel tentang sepak terjang ayahnya dalam dunia mafia dan narkoba dia langsung meninggalkan Thailand setelah lulus SMU dan kuliah ke USA dan bersumpah tidak akan menemui ayahnya sampai ayahnya mencari nafkah dengan cara halal, saat di USA Ara mencari biaya kuliah sendiri dengan menjadi model majalah sampai berhasil mengumpulkan biaya hidup, dan memiliki tabungan yang cukup baru berhenti dari dunia model.


Dengan memanfaatkan kelemahan ayahnya, Ara berhasil meyakinkan ibunya jika untuk mengatakan tidak perlu mencarinya karena dia hidup bahagia di USA, bahkan berkali-kali Decha dan Andrew meyakinkan jika Ara tidak di USA, tetapi Theo kekeh masih percaya pada istrinya jika putrinya hidup bahagia dengan usahanya di USA.


Pernah ibunya Ara bercerita kepada ayahnya jika putrinya ingin berpindah agama yaitu memeluk agama Islam, dan ayahnya tidak setuju menambah jarak keduanya semakin jauh, sudah hampir lima tahun tidak pernah bertemu, Ara tidak setuju dengan sepak terjangnya ayahnya dalam dunia hitam, sedangkan ayahnya tidak setuju jika Ara memeluk agama Islam, membuat keduanya sama-sama tidak ingin bertemu ataupun saling menyapa, membuatnya semakin jauh jarak di antara keduanya.


Karena tidak bisa bertemu dengan ibunya di Singapura, Ara dan Mario memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia setelah selesai mengurus administrasi perijinan pernikahan agar tidak terdeteksi keberadaanya oleh anak buah dari Decha Thanapon.

__ADS_1


__ADS_2