Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
91. Kunjungan Pribadi Inspektur Ahmad


__ADS_3

"Sayang.. mereka sudah pulang, ayo kita mulai belajar latihan menembakkannya" panggil Faro membuka pintu kamar mendekati istrinya yang masih ditekuk mukanya.


Inneke masih merajuk tidak menjawab panggilan Faro, hanya duduk selonjoran diatas tempat tidur sambil bermain handphone, dengan gemas Faro mencium bibir Inneke dengan lembut dan tangan yang nakal ingin menyusup kebalik baju.


"Kalau tidak jadi, Abang mau makan dirimu lagi aja" ucap Faro setelah melepas tautan bibir itu dengan senyum defil nya.


Inneke langsung membelalakkan matanya dengan sempurna bergegas turun dari tempat tidur mendorong suaminya yang mulai mesum lagi.


"Aku mau latihan menembak sekarang" berjalan mendahului Faro berjalan cepat menuju ruang menembak yang berada di balik lemari buku besar.


"Hati-hati sayang, jalannya pelan aja" teriak Faro menyusul istrinya yang berjalan cepat.


Dengan menekan tombol kecil di samping buku yang tertata rapi otomatis lemari itu terbuka bergegas Inneke masuk disusul oleh Faro.


"Pakai ini saja tipe Laras panjang SS2 standar kompetensi menembak untuk sipil beratnya 2,5 kg" Faro mengangkat senapan itu tempatnya.


Dengan tanpa ragu Inneke mengangkat senapan seolah olah sudah terbiasa memegang senjata itu dan mengarahkan sasaran.


"Sayang, kaki dibuka selebar bahu, agak condong kebelakang sedikit badannya" Faro mengarahkan Inneke dari belakang dengan badan menempel punggung Inneke tangan melingkar di atas kedua bahunya.


"Tangan kanan di posisi belakang tepatnya diposisi tempat pelatuk pistol" arahan Faro lagi tetapi bibirnya menyentuh pipi Inneke dan mengecupnya dengan cepat.


"Abang ini lagi latihan bukan mesra-mesraan, jangan curi-curi cium segala, dasar mesum" protes Inneke karena konsentrasinya terpecah.


"Tangan kiri didepan gagangnya, siku menempal pada samping badan, pangkal senapan menyentuh pundak sebelah kanan, faham sayang" kembali Faro mengecup singkat pipinya tangannya melingkar samping pundak membantu membetulkan posisi ujung pangkal senapan.


"Begini Bang" Inneke dengan cepat memahami arahan Faro.


"Pintar... terakhir agak miringkan badan hampir 90°, baru mata lurus kearah sasaran" terakhir arahan Faro menurunkan tangannya melingkar sempurna di pinggangnya.


"Tembak..." Perintah Faro.


"Dor.....dor....dor...."


"Dor....dor....dor..."

__ADS_1


Peluru melesat cepat kearah sasaran, tidak di sangka-sangka dari enam peluru hanya satu yang meleset sisanya tepat sasaran.


"Istri Abang memang hebat, hanya sekali diajari langsung tepat sasaran, Abang bangga, tinggal diperdalam dan sering latihan" Faro mengacak rambut Inneke dengan gemas.


Karena asyik berlatih Faro dan Inneke tidak menyadari jika waktu hampir petang, matahari mulai bersiap ke peraduannya, langit memancarkan cahaya jingga kegelapan, sedangkan Mario sudah pulang bersamaan dengan rombongan Ken dan Andri Pranoto.


Karena ada janji malam ini dengan inspektur Ahmad Budiansyah di kediaman Faro, malam ini Mario dengan mengajak istrinya Ara datang lebih awal di rumah Faro, tetapi ternyata tuan rumahnya belum sampai rumah.


Sampai Mario mengirim pesan jika dia sudah sampai di rumah, baru Faro bergegas mengajak Inneke pulang ke rumah, ternyata sopir dan bodyguard sudah standby menunggu didepan pintu lobi perusahaan.


Setibanya di rumah Mario dan Ara sudah duduk manis di ruang tamu sambil menikmati jus mangga dan camilan kecil buatan bibi Tini.


"Sampai berapa ronde bos, jam segini baru ingat pulang, dasar bucin kronis?" cabik Mario dengan senyum yang tidak bisa di artikan.


"Apakah seharian ini bos dan Bu bos ada di kantor?" tanya Ara penasaran memandangi wajah suaminya yang cengar-cengir.


"Iya kak Ara, emangnya kenapa?" Inneke jadi curiga melihat tingkah Ara dan Mario yang cengar-cengir tidak jelas.


"Pantas aja dia pulang dari kantor ngajak perang di tempat tidur tanpa bisa ditunda lagi, padahal aku sedang masak, ternyata seharian melihat bos dan Bu bos perang di kantor" celoteh Ara kesal karena mengingat tadi sore Mario langsung mengajaknya bercinta tanpa mandi terlebih dahulu.


Faro dan Inneke tertawa lepas mendengar kejujuran Ara, sedangkan yang di bicarakan hanya terkekeh sambil menikmati camilan dengan santai.


Kali ini inspektur Ahmad Budiansyah datang sendirian karena alasannya memang masalah pribadi yang akan dilaporkan kepada Faro menyangkut dengan janji yang di ucapkan saat pertama kali mereka bertemu di saat resepsi pernikahan di Malaysia saat itu.


Sebelum inspektur Ahmad berniat melaporkan kepada Faro, mereka menikmati makan malam bersama dengan lahap tanpa suara, setelah selesai makan malam bersama Faro, Mario dan Ahmad masuk ke ruang kerja sedangkan Ara dan Inneke masuk di ruang bioskop mini yang ada di lantai tiga, sedang menikmati film laga idola Inneke ternyata Ara juga menyukainya.


"Katakan sebenarnya apa yang akan anda bicarakan?" tanya Faro setelah mereka duduk berhadapan di ruang kerja Faro.


"Saya akan melaporkan tentang kepemimpinan ketua mafia Singapura setelah meninggalnya Decha Thanapon" awal Ahmad bercerita kepada Mario dan Faro.


Diteruskan oleh putranya yang baru saja selesai kuliah di Australia yang baru berusia Dua pulang tiga tahun yang di didik oleh kakeknya Theo Thanapon lebih keras dari ayahnya sendiri Decha Thanapon menjadikan pimpinan mafia termuda di Singapura itu semakin terlihat garang dan tanpa ampun dengan semua lawannya.


Dari kecil sampai lulus SMU putra Decha Thanapon yang bernama Kathora Thanapon itu tinggal bersama Theo Thanapon di Thailand, tidak selayaknya remaja pada umumnya hari-harinya hanya di habiskan dengan belajar dan mengikuti serangkaian jadwal yang sudah disusun oleh opanya yaitu menembak, karate, bahkan strategi perang dan perakitan senjata baik senjata abi dan bahan peledak adalah makanan sehari-hari bagi anak kandung Decha Thanapon.


Thora panggilan ketua mafia Singapura itu tumbuh menjadi remaja yang kaku, dingin, tidak mengenal belas kasih, selalu mengutamakan logika dan strategi dari pada hati nuraninya, tidak pernah juga mengenal wanita karena memang dilarang untuk berpacaran sebelum lulus kuliah.

__ADS_1


Inspektur Ahmad juga memberikan foto-foto sepak terjang Thora selama beberapa bulan ini memimpin organisasi mafia sekaligus perusahaan resmi yang ada di Singapura dengan didampingi seorang asisten yang dulu menjadi asisten Decha Thanapon semakin disegani oleh kawan maupun lawan.


Selesai melaporkan tentang sepak terjang mafia Singapura, inspektur Ahmad juga mengabarkan jika di Malaysia dan Indonesia sampai saat ini masih belum ada orang yang dipercaya sebagai ketua umum mereka karena ketatnya pengawasan dari pemerintah.


"Bagaimana dengan perkembangan Andrew Hidayat dan putranya?" tanya Faro setelah selesai mendengar laporan dari inspektur Ahmad.


Inspektur Ahmad menarik nafas dalam dan panjang ternyata tidak semudah membalik telapak tangan jika mengenai hak asuh anak laki-laki kecil yang kabarnya putra dari Andrew Hidayat.


"Kami belum menemukan titik temu dengan mereka tuan, keinginan dari orang tua Andrew Hidayat agar anak laki-laki itu tinggal di Malaysia tetapi neneknya disini juga tinggal sendiri sehingga dia merasa keberatan" balasnya cepat.


"Seharusnya neneknya sekalian diajak tinggal di Malaysia kasihan sudah tua tidak ada yang merawat" saran Mario kemudian.


"Itu juga yang kami mau, tetapi beliau tak berkenan ikut kami, makanya kami masih mencari solusi apa jalan terbaik untuk masalah ini" jawabnya cepat.


Inspektur Ahmad hanya satu Minggu berkunjung di Indonesia, selain tugas resmi dia juga harus melaksanakan tugas keluarga yaitu menyelesaikan apa yang sudah di tabur oleh Andrew Hidayat selama di Jakarta termasuk bertemu dengan keluarga almarhum pak Rudi sopir dari Ken yang tertembak oleh Andrew Hidayat waktu itu.


Tetapi Faro tidak mengijinkan inspektur Ahmad untuk bertemu dengan umi dan abi, ini karena Faro masih trauma jika itu diungkit akan membuka memori lama bagi uminya dan takut mengalami trauma lagi.


Sampai hari terakhir inspektur Ahmad berada di Indonesia, berpamitan akan kembali ke Malaysia masih sempat bertemu dengan Faro berada di intelejen bersama Jenderal Hendro, walaupun inspektur Ahmad merasa heran kenapa bisa Faro berada di kantor intelejen tetapi dia tidak berani bertanya kepada Faro.


Inspektur Ahmad masih sempat melaporkan kepada Faro jika anak laki-laki kecil itu memang positif anaknya Andrew Hidayat dibuktikan dengan tes DNA dan besok akan di ajak ke Malaysia beserta neneknya, neneknya setuju ikut ke Malaysia karena tidak mau berpisah dengan cucunya.


Pulang dari kantor intelejen setelah bertemu dengan inspektur Ahmad dan jenderal Hendro Faro langsung pulang ke rumah Ken meminta Inneke menyusul juga kesana dengan diantar sopir dan dikawal oleh bodyguard seperti biasa.


Sampai di tengah perjalanan tepatnya di dekat SMK Inneke dan keempat bodyguard itu terjebak tawuran pelajar, para pelajar itu tiba-tiba berlari dari gang kecil langsung menuju jalan raya dengan berbagai macam alat yang digunakan untuk tawuran diantaranya batu, kayu, ikat pinggang bahkan ada yang membawa golok dan senjata tajam lainnya.


Tanpa sengaja kaca mobil Inneke terkena lemparan batu sehingga kaca mobil pecah dan mengenai lengan Inneke dekat bahu dan sopir juga terkena pecahan kaca di punggung dan leher bagian belakang, tetapi untungnya sopir bisa menguasai mobil yang sedikit oleng dan bisa mengerem tepat di depan restauran cepat saji yang sedang ramai pengunjung agak jauh dari pelajar yang sedang tawuran.


Keempat bodyguard itu sampai panik melihat darah yang mengalir pada lengannya, ada juga salah satu bodyguard terkena sabetan golok di punggungnya, bodyguard itu turun dari motor berlari mendekati mobil yang sudah sudah pecah berantakan kaca samping dan belakang.


"Bagaimana ini, ayo cepat panggil taksi kita bawa Bu bos ke rumah sakit" ucap dengan panik salah satu bodyguard.


Datang rombongan polisi untuk mengamankan daerah TKP dan mendekati mobil yang di tumpangi oleh Inneke.


"Pak...ada yang terluka, ada berapa orang?" tanya salah satu polisi yang mendekati mobil Inneke.

__ADS_1


"Ini pak, bos kami dan sopirnya terluka terkena pecahan kaca, apakah bisa panggil ambulance?" pinta salah satu bodyguard itu dengan cemas.


"Cepat kabari bos, kita menuju rumah sakit, sebentar lagi ambulance datang" perintah bodyguard dengan muka pucat.


__ADS_2