
Cello.... Cello jaga Mama dan Papa dari grandpa, berjan....ji....lah, please" mommy kembali berucap lirih menatap Cello dengan penuh harap.
"Yes grandma, pasti.... grandma.... grandma" panggil Cello dengan suara yang bergetar dan penuh cemas.
Perlahan mata mommy menutup dan melepaskan genggaman tangan Cello.
Setelah mendengar suara tembakan seluruh anggota intelejen dan polisi masuk tetapi Ara yang mendengar sayup-sayup suara mommy tadi langsung mendorong pintu dan berucap lantang.
"Ya Daddy dia adalah Cello putraku, bukan Rafael putra dari Faro Sanjaya Wiguna"
Theo langsung berdiri menoleh kearah datangnya suara itu, ya suara yang bertahun tahun dia rindukan, bertahun tahun mencari jejaknya tetapi sekarang ada dihadapannya dengan suara lantang yang penuh amarah dia adalah Achara yang sudah mempunyai putra sangat tampan.
"Achara..... Achara" hanya itu saja yang bisa Theo ucapkan.
"Phi Ara.....phi...!" Thora langsung lemas melihat kakak sepupunya yang bertahun tahun tidak ditemukan.
Seluruh anggota intelejen dan kepolisian menangkap seluruh anak buah Thora satu persatu dan di bawa keluar, tangan Thora di borgol juga dibawa keluar area itu, tetapi belum sempat melangkah, Theo dengan cepat menarik Cello diangkat dan di peluknya dari belakang, serta diarahkan pistol itu di kepala Cello.
"Mundur kalian semua, atau aku tembak anak ini sekarang juga!" teriak Theo Thanapon dengan lantang.
"Daddy....itu Cello cucu Daddy" bentak Ara kembali dengan kesal.
Seluruh anggota semakin siaga, karena tindakan nekat dari Theo Thanapon demikian juga Mario sangat panik melihat putranya di todong senjata otomatis di kepalanya.
"Cello....tenang nak...jangan bergerak!" teriak Mario bergerak mendekati Cello.
"Papa....pa...pa. tolong Cello" lirih Cello ketakutan berderai air mata tanpa henti.
Mendengar Cello memanggil Mario dengan sebutan Papa matanya langsung menatap tajam kearah Mario, dengan cepat Faro yang berada disamping Ara mengarahkan pistol kearah pundak Theo Thanapon sebelah kiri.
"Dor......" tangan Theo Thanapon spontan melepaskan Cello dan bersamaan pistol yang ditangan Theo jatuh di kaki kiri dengan gagang dibawah dan otomatis peluru melesat mengenahi perutnya sendiri saat dia terhuyung kedepan karena berniat akan memangkap Cello, sedangkan Cello berlari melesat cepat memeluk Ara.
Theo Thanapon akhirnya terkapar jatuh disamping mommy, Ara berlari mendekati daddy-nya dan memangku kepalanya dengan cepat.
"Daddy.... Daddy stay with me please!, tetaplah bersamaku Daddy!" Ara mengguncangkan badan Theo Thanapon dengan kencang.
__ADS_1
Theo Thanapon hanya bisa menggenggam tangan Ara, berderai air mata mulutnya ingin mengucapkan sesuatu tetapi tidak bisa terucap hanya gerakan mulut saja yang bisa dia lakukan.
"Sorry.... sorry..... sorry" mulut itu hanya bergerak tetapi tidak keluar sama sekali suaranya, perlahan genggaman tangan Theo mengendur terlepas dari tangan Ara lemas jatuh dilantai.
"Daddy... Daddy.....hiks...hiks... hiks" teriak Ara memanggil daddy-nya dengan tangisan yang menyayat hati.
Hari ini Ara kehilangan kedua orang tuanya, mommy yang tertembak tanpa sengaja oleh cucu angkatnya sendiri Thora dan daddy-nya karena kecerobohan dirinya sendiri.
Polisi dan intelejen bergerak dengan cepat menyelesaikan kekacauan yang ada, membawa satu persatu anggota dimasukkan kedalam mobil tahanan, mommy di semayamkan di ruang keluarga, Daddy diantar ke rumah duka sesuai agama yang dianutnya.
Pagi harinya seluruh keluarga mommy datang satu persatu, melakukan prosesi pemakaman secara Islam sesuai agama yang dianut mommy, dimandikan oleh Ara, Erna dan Inneke langsung tanpa merasa takut, setiap insan pasti akan kembali kepada Allah SWT, inilah bakti terakhir Ara kepada ibu kandungnya, di sholatkan yang dipimpin oleh imam masjid di sekitar rumah, rumah duka dijaga ketat oleh kepolisian dan intelejen seolah-olah tikus pun tidak mampu masuk ke rumah.
Mommy dimakamkan di pemakaman umum di perbatasan Singapura dimana mommy dilahirkan, tetapi sayangnya Faro dan rombongan dilarang ikut ke pemakaman karena demi keselamatan keluarga bahkan Ara putri kandungnya juga tidak boleh mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya, Lung Dio yang yang meyakinkan Ara bahwa semua akan baik-baik saja, dengan terpaksa Ara menuruti semua nasehat Lung Dio.
Ara dan seluruh rombongan hanya bisa menyaksikan pemakaman melalui zoom yang dilakukan berdua oleh Ara dan asisten almarhumah mommy.
Di dunia mafia setelah Theo Thanapon dibawa berada di rumah duka, baru tersiar kabar meninggalnya ketua mafia terbesar di Asia tenggara, tetapi setelah keluarga besar Theo Thanapon yang ada di Thailand mendengar kabar itu jenazah akhirnya dikirim kesana untuk di kremasi dikampung halaman.
Tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, tidak ada satupun rombongan Faro terendus oleh media, saksi mata anak buah dari Thora Thanapon tidak ada yang berani membuka suara karena sudah diancam oleh Thora Thanapon dan kepolisian Singapura tidak mengijinkan mereka menemui tamu didalam penjara, mereka diasingkan tanpa bisa menghubungi keluarga.
Tetapi karena banyak berita simpang siur diluar yang bergulir bak udara yang mudah menyebar, akhirnya polisi Singapura mengadakan konferensi pers yang disiarkan langsung dari televisi nasional Singapura.
Menyatakan bahwa karena pertengkaran antara Theo Thanapon dan mantan istrinya dengan menodongkan senjata ke kepala lawannya, Thora mencoba melerai mereka tetapi naas peluru justru menembus kearah dada istri Theo Thanapon, sedangkan istri istri Theo Thanapon sebelum tumbang merebut senjata otomatis itu menembakkan peluru kearah Theo ke pundak dan perutnya dan tewas di tempat.
Setelah konferensi pers itu, media baru mulai mereda, sebagian besar terfokus kepada Thora Thanapon yang mendekam dibalik jeruji besi, tanpa melakukan perlawanan, tidak satupun yang ditemui selama dipenjara bahkan Istri dan putrinya sendiri.
Didalam rumah utama Ara dan rombongan belum bisa keluar sama sekali karena adanya penjagaan yang sangat ketat, hanya bisa saling mendukung dan saling menguatkan, teruma spisikis Cello yang mengalami langsung kejadian itu sehingga dia selalu menempel pada Mama ataupun papanya saja, berinteraksi dengan Kanno dan Rafael juga dalam pelukan mamanya tanpa mau turun sama sekali.
Sesekali trio jenius itu bercanda khas mereka tanpa beban, tetapi saat mengingat peristiwa itu Cello akan sedikit murung, Ara akan terus memeluk Cello dengan erat jika melihat wajah Cello murung kembali.
Sedangkan istri Thora Thanapon yaitu Fatty Fatimah yang tidak menyaksikan peristiwa itu langsung hanya termenung setelah melihat konferensi pers yang di lakukan pihak kepolisian.
Setelah pulang dari markas intelejen yang berada di Singapura Faro dan Jenderal Hendro memasuki rumah utama bergabung dengan seluruh rombongan dengan pengawalan ketat polisi Singapura, tak seorangpun yang tahu tentang keduanya, karena masuk rumah itu dengan menyamar menggunakan seragam polisi Singapura, menggunakan wig, kacamata hitam topi dan masker sehingga tidak dicurigai oleh media masa.
"Mario bagaimana keadaan Cello sekarang?" tanya Faro setelah memasuki rumah utama dan bertemu Mario yang duduk sendiri di ruang tamu.
__ADS_1
"Sudah lumayan bos, mulai bercanda dengan El dan Kanno, tetapi belum mau turun dari gendongan mamanya" jawab Mario dengan raut wajah yang sedikit murung.
"Sabar ya bro" Faro menepuk pundak Mario untuk memberi dukungan penuh.
"Bagaimana perkembangannya diluar sana?" gantian Mario bertanya.
Tenang, tak satupun media mengendus keterlibatan kita tentang meninggalnya Theo Thanapon dan mommy-nya Ara, bahkan Thora juga tutup mulut tentang istrimu itu" jawab Faro duduk disamping Mario.
"Bagaimana dengan anak buah mereka yang tertangkap, apakah mereka tidak cerita tentang kejadian itu?" Mario masih takut jika Cello menjadi bahan berita publik karena dia adalah cucu kandung dari ketua mafia se-Asia tenggara yang notabene mertuanya sendiri.
"Mereka sudah diasingkan di penjara khusus oleh kepolisian, dan juga diberikan obat khusus agar mereka melupakan peristiwa yang baru saja dialaminya, tenang aja bro semua sudah kita atasi semuanya" Faro memberikan keterangan yang membuat hati Mario sedikit tenang.
"Oya tentang Thora dia sampai sekarang masih syok karena tanpa sengaja menembak mommy, dia menerima semua tuduhan yang diarahkan kepadanya tanpa membantah sedikitpun, bahkan dia tidak mau didampingi oleh pengacara satupun" kembali Faro bercerita dengan detail.
Kemudian Faro mencari istri dan putranya karena setelah kejadian itu Faro langsung mengikuti jenderal Hendro ke markas intelejen Singapura.
"Papi....." teriak El setelah melihat sosok papinya yang masuk dari ruang tamu menuju ruang keluarga.
"Halo sayang" Faro menggendong El dan memeluknya dengan erat.
"Kok Papi pakai seragam polisi Singapura, namanya Jaya, seragam siapa ini Pi?" tanya El dengan melihat papan nama yang ada di dada Faro.
"Ini seragam temannya Paman jenderal, Papi pinjam" jawab Faro sekenanya.
Duduk disamping Inneke ikut bercengkerama dengan seluruh rombongan membahas langkah selanjutnya setelah ditemukan Cello.
Shifa setelah dimandikan oleh ART dengan malu-malu mendekati Cello, sambil melihat El dalam pangkuan Faro serta melirik Kanno yang sedang bermain handphone.
"Tatak CL itu tiapa, teman tatakkah?" tanya Shifa dengan suara cadelnya, El hanya memandangi wajah gadis kecil itu tetapi cuek saja, tetapi Kanno langsung mendekati Shifa tanpa canggung tersenyum manis.
"Itu teman kakak" Cello turun dari gendongan Mama Ara duduk dibawah bertiga saling berhadapan dan bermain menggunakan handphone Kanno.
Saat sedang asyik bermain Cello melihat ada kilatan sinar yang berasal dari bawah sofa panjang yang sedang diduduki oleh Mama Ara, diraihnya benda itu ternyata cincin perak berbentuk ring sederhana tetapi terlihat cantik, Cello langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak diatas meja kaca.
Dengan keterampilan tangan Cello, dengan cepat dia mengukir cincin itu dengan simbul "CL" dengan tulisan yang sangat rapi, Cello tahu betul jika Shifa juga cucu dari orang yang ditembak tadi berarti dia menyimpulkan sendiri Shifa adalah adiknya dengan cepat melepas gelang kain flanel yang ada di sebelah gelang GPS dan memasukkan cincin itu kedalam gelangnya,
__ADS_1
"Shifa adikku pakai kalung ini jangan kamu lepas, suatu saat nanti jika kita bertemu lagi kak CL akan memintanya lagi" Shifa tersenyum, mengangguk dan berucap terima kasih.