Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
29.Ditemukan Posisinya


__ADS_3

"Pak, ini handphone saya temukan di saku salah satu mayat yang memakai baju batik, lebih dari sepuluh kali handphone itu berdering, saya tidak berani mengangkat, bahkan kedua teman saya dan tiga orang warga yang berniat mengambil jenazah lari ketakutan karena di kira ada hantu handphone dibalik kantong jenazah" cerita pegawai kamar mayat itu.


"Ya pak, terima kasih, saya yang terima" kata salah satu anggota polisi yang ikut rombongan itu sambil tersenyum membayangkan orang yang lari ngirit ketakutan karena ada hantu handphone.


Setelah satu jam memeriksa tiga korban itu, mendapatkan informasi yang di perlukan, jenderal Hendro dan anggotanya pamit kepada Kapolsek dan anggota juga, menuju markas intelejen.


Dalam perjalanan menuju markas intelejen Faro begitu kalut, dadanya terasa sesak, mengapa harus uminya yang terkena imbas dari apa yang dia lakukan pada masa lalu, mengapa harus uminya yang selalu menderita dan berkorban untuk dirinya, berkali-kali tangan Faro memukul jok mobil yang dia duduki.


Sesampainya di markas, mereka bersiap-siap untuk menyelidiki kasus yang baru saja terjadi, Faro sudah tidak sabar ingin menemukan uminya, Kakak sekaligus pengganti ibu baginya.


Karena kejadian berada di wilayah Jawa barat, jenderal Hendro sedikit kesulitan untuk mengecek CCTV lalu lintas yang berada di daerah TKP.


"Jenderal, cepatlah gunakan satelit, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan ibuku?" teriak Faro dengan kemarahan yang sudah memuncak.


"Sabar Faro, ini wewenang daerah Jawa barat, kita harus mengikuti prosedur" jawab pak kumis lirih.


"Aaaahhhh... bruuaaak" teriak Faro sambil memandang kursi kayu yang ada di depannya sampai kursi itu patah menjadi beberapa bagian.


"Cepatlah minta ijinnya jenderal, jika ibuku tidak di temukan sampai besok pagi, aku bersumpah akan aku hancurkan kantor intelejen ini tidak perduli aku masuk penjara, aku juga akan keluar dari instansi jika terjadi apa-apa dengan ibuku" kata Faro dengan mata yang merah karena menahan emosi yang memuncak, berkali-kali tangannya memukul apapun yang ada di depannya.


Dengan ancaman Faro akan keluar dari intelejen jenderal Hendro ciut nyalinya, seperti akan kehilangan kemampuan yang sangat berharga, tanpa menunggu lama jenderal Hendro langsung menghubungi staf menteri pertahanan dan keamanan.


Setelah sekitar lima belas menit bernegosiasi jenderal Hendro mendapatkan ijin menggunakan satelit yang di miliki oleh intelejen pusat.


"Ok... let's go, kita beraksi, kita sudah mendapatkan ijin untuk berselancar menggunakan satelit pusat" ucap jenderal Hendro, seketika Faro berdiri dari tempat yang dari tadi duduk di pojokan markas.


Layar monitor besar di nyalakan, mouse di gerakkan oleh tangan kanan, disambungkan ke satelit khusus yang terhubung langsung dengan intelejen pusat.


"Di awali rekaman pukul tujuh malam di daerah Cileungsi, koordinatnya 15,06° dan 19,71°" perintah jenderal Hendro mengawali penyelidikan.


Semua anggota terutama Faro memperhatikan layar monitor yang mulai fokus pada koordinat itu.


"Fokuskan ke jalan raya pukul tujuh malam pak Kumis!" perintah Faro yang tidak sabar menunggu tayangan itu seolah-olah begitu lambat berlalu.


Setelah tayangan menyusuri jalan raya yang sedikit lengang selama lima menit, melintas mobil Toyota berwarna putih yang terlihat nomor mobil dengan jelas.


"Itu nomor mobil umi, pak Kumis, fokuskan di sekitar mobil umi aja" titah Faro lagi.


"Itu moge yang di belakangnya, yang mengikuti umimu, kenal Bang siapa dia?" jenderal Hendro bertanya sambil menunjuk motor gede mengikuti mobil Imma.


"Itu bodyguard yang Abi sewa untuk mengawal umi secara diam-diam" jawabnya singkat.


"Sejak kapan menyewa bodyguard?" tanya jenderal Hendro memandangi badan bodyguard yang kekar dan macho.


"Sejak Fia di serang orang yang tidak di kenal di depan sekolahnya dahulu" jawab Faro kemudian.


Di belakang moge ada Avanza hitam juga mengikuti mobil Toyota putih dan moge, tetapi setelah di tempat sedikit ramai terlihat motor oleng dan posisi penumpang pengendara motor seolah bergeser dan bergerak..

__ADS_1


Melesat dua peluru dari arah depan yang hampir bersamaan mengenai dada sebelah kanan sesaat kemudian motor oleng dan menabrak trotoar sebelah kiri, dan dua bodyguard itu tewas di tempat.


"Fokus ke arah datangnya peluru pak Kumis!" kata anggota intelejen yang berada di samping Faro dengan julukan Uda Padang.


Tayangan itu di slow motion mundur dari dada korban menuju mobil Avanza hitam, peluru berasal selah pintu mobil bagian belakang.


"Ooooo dari mobil Avanza hitam itu ternyata arah pelurunya, coba di putar 30° dan zoom wajah penumpang yang ada di dalam" titah Faro lagi.


Pak Kumis menggerakkan mouse perlahan sesuai permintaan Faro, adrenalin mereka seperti tertantang, karena kesempatan langka bisa menggunakan satelit pusat yang tidak semua instansi bisa menggunakannya.


Setelah di zoom ada lima penumpang termasuk sopir Avanza itu, semua wajah sudah di foto walaupun wajahnya menggunakan masker semua dan di kirim ke laptop yang di pegang oleh Uda Padang.


"Mulai Uda, cari biodata lengkap mereka jangan sampai terlewat, sudah masuk ke leptop kan?" tanya pak Kumis kepada Uda Padang.


Uda Padang mengacungkan jempolnya, langsung bergerak cepat, tangan yang bergerak mengetik di keyboard tanpa melihat layar monitor besar lagi.


"Lanjut pak Kumis" perintah jenderal Hendro.


Layar monitor terus mengikuti mobil Toyota putih milik Imma sampai mobil Avanza hitam itu tiba-tiba memotong jalannya mobil Imma dengan cepat, Faro hanya fokus pada orang yang menembak mati pak Rudi tetapi sayangnya semua laki-laki memakai masker, topi dan kacamata, sehingga hanya terlihat sorot matanya saja.


Saat Faro melihat uminya di tarik keluar dan di pukul tengkuknya hingga terkulai lemas dan pingsan tanpa sadar tangannya memukul meja kaca yang ada di depannya hingga pecah berkeping-keping dan tangan mengeluarkan darah segar.


Sontak semua kaget dengan reaksi Faro, bahkan pecahan kaca mengenai lengan jenderal Hendro.


"Sabar Bang, tetap saja fokus mobil Avanza hitam itu berjalan kemanapun?" ucap jenderal Hendro sambil mengusap lembut punggung Faro.


"Tidak usah jenderal, tidak sakit, lanjutkan lagi aja" jawab Faro dengan penuh amarah.


Akhirnya mereka melanjutkan mengamati layar monitor lagi, mengikuti mobil Avanza hitam sampai masuk jalan tol Jagorawi dan keluar lagi sampai ke daerah Cimanggis, dan masuk gang.


"Coba zoom nama gang itu kecil banget, apa nama gang nya?" tanya Faro sambil berlinang air mata mengingat Imma yang di pukul tengkuknya.


"Namanya gang nangka" jawab pak Kumis cepat.


Mobil Avanza hitam itu masuk sekitar dua kilometer dan berhenti di rumah petak samping kuburan, dan ada seorang yang mengangkat Imma kedalam rumah petak itu, yang masih terkulai lemas dan kedua tangan serta kakinya terikat lakban.


"Uda, bagaimana apakah sudah mendapatkan biodata lengkap para tersangka itu?" tanya jenderal Hendro mendekati leptop yang ada di depan Uda Padang.


Uda Padang menyambungkan leptopnya ke layar monitor besar, agar semua bisa membaca biodata tersangka.


"Itu jenderal biodata lengkapnya, tetapi sayangnya hanya empat orang saja yang aku dapat, sepertinya yang satu itu bukan warga negara Indonesia" jawab Uda Padang sambil menunjuk seorang laki-laki dengan sorot mata yang tajam.


Beberapa sisi diambil foto orang yang tidak di kenal itu oleh Uda Padang, baik saat menembak pak Rudi ataupun saat sampai masuk di rumah petak di Cimanggis.


"Tunggu dulu, sepertinya aku mengenali siluet tubuh laki-laki itu" kata Faro sambil memegangi tangannya yang masih mengeluarkan darah.


"Pak Kumis, coba putar ulang CCTV saat Fia diserang itu, tetapi fokuskan pada mobil yang membawa salah satu tersangka melintasi rel kereta api kemarin" pinta Faro lagi.

__ADS_1


Bergegas pak Kumis membuka kembali file CCTV dan mempercepat sampai kejadian yang di inginkan Faro.


"Itu...itu... motor yang berada di belakang mobil hitam, sepertinya sosoknya sama dengan laki-laki tadi" tunjuk Faro ke layar monitor besar.


"Coba fokuskan pada sepatunya, sepertinya dia memakai sepatu yang sama" titah Faro.


"Iya itu persis sepertinya memang orang yang sama" pendapat pak Kumis.


"Benar-benar si mata elang, otakmu memang brilian, kejadian sudah sekian lama, tetapi masih saja kau masih ingat" puji Uda Padang dengan mengacungkan kedua jempolnya.


"Coba di selidiki ulang apa yang ada di dalam tas punggungnya menggunakan kamera khusus pak kumis, agar langsung terlihat apa isinya?" perintah jenderal Hendro dengan tegas.


"Ok.... laksanakan".


Ternyata pistol yang digunakan untuk menembak pak Rudi dan kedua bodyguard itu sama persis seperti yang ada di dalam tas punggung laki-laki yang belum di ketahui identitasnya.


"Berarti sudah terungkap tersangkanya, tinggal mencari identitas dirinya saja" jenderal Hendro merasa lega dengan penemuan itu.


"Kita cari tahu nanti identitas laki-laki itu sebaiknya kita fokus untuk menyelamatkan uminya Faro dulu" perintah jenderal Hendro.


Semua anggota bersiap dengan langkah selanjutnya, termasuk Faro.


"Uda, bisa tolong kirim biodata mereka handphone aku, termasuk laki-laki yang belum jelas identitasnya" bisik Faro, dan diikuti anggukkan Uda Padang.


Setelah selesai penyelidikan kejadian itu, Jenderal Hendro langsung berkoordinasi dengan Polsek Cibinong dan Polsek Cimanggis Depok untuk melakukan langkah selanjutnya yaitu penyelamatan Imma.


Waktu menunjukkan pukul dua pagi, saat penyelidikan sudah selesai, Faro langsung bergegas mengirim pesan WA kepada Sandi untuk berangkat ke daerah Cimanggis Depok.


"Om cepat ke daerah Cimanggis Depok, umi sudah ditemukan posisinya, kita sedang mengkoordinir anggota menuju kesana" tulis Faro dalam pesannya.


Ken yang sedari tadi hanya bisa termenung dengan tatapan kosong, selalu menganak sungai air matanya mendengar ada notifikasi pesan WA masuk, langsung melihat posisi handphone itu.


"Pesan WA dari Abang bos, ini baca" kata Sandi menunjukkan handphonenya kepada Ken.


"Ayo kita kesana sekarang" Ken berlari keluar dari lobi Polsek tanpa berpamitan kepada petugas.


Sandi menghampiri petugas jaga yang sedang duduk di dalam ruangan "Pak...kami akan keluar dulu" berlari menuju parkiran langsung melesat menuju daerah Cimanggis Depok, tanpa di curigai oleh petugas polisi yang berjaga saat itu.


________________________


Jaga kesehatan sobat, agar bisa full puasanya


sampai hari yang Fitri tiba.


jangan lupa like vote dan komentar serta


hadiahnya, Terima kasih

__ADS_1


I love you all


__ADS_2