
Jam sepuluh pagi Mario sudah membuat janji dengan dokter kandungan untuk bosnya, dengan di temani bunda dan umi mereka berangkat pukul sembilan tiga puluh.
Bunda dan umi yang sangat antusias pukul sembilan pagi sudah siap bahkan menunggu Faro dan Inneke di ruang keluarga, tetapi yang di tunggu masih tidur cantik dan terlelap dalam mimpinya.
Setiap di bangunkan Faro selalu minta waktu sepuluh menit karena alasan masih mengantuk, mata Inneke tetap tidak bisa di buka walaupun beberapa kali di bangunkan, karena minimal sebelum pukul sepuluh pagi dia tidak akan terbangun, padahal bunda dan umi sudah menunggu di bawah.
Sehingga Faro berinisiatif mengganti baju rumahnya dengan gaun sederhana berwarna krem kesukaannya walaupun dia tertidur pulas, satu masalah sudah selesai, biasanya Inneke akan berdandan tipis dengan memakai pelembab, bedak tabur, maskara dan lipstik dengan tipis tetapi terlihat segar, Faro mendandani istrinyanya perlahan dia ingat setiap tahapan yang di lakukan Inneke saat berdandan.
"Sempurna, ternyata tidak sia-sia Abang selalu memperhatikanmu saat berdandan, Abang bisa juga melakukannya, kau sudah terlihat cantik" ucap Faro mencium pipi Inneke dengan lembut setelah selesai mendandani istrinyanya.
"Apalagi yang belum, Oya tas, handphone dan dompet juga harus di bawa" monolog sendiri Faro sambil memasukkan yang dia sebutkan tadi dalam tas selempang Inneke.
Di selempang kan tas Inneke dan tasnya sendiri di badannya, mengantongi kunci mobil, menggendong bridal istrinyanya yang masih tertidur pulas ke luar kamar turun melalui lift mendekati bunda dan umi.
"Bunda, umi ayo kita berangkat?" ajak Faro keluar rumah menuju mobil yang sudah di persiapan oleh sopir di halaman rumah.
"Bang mengapa Inneke masih tertidur pulas?" tanya umi dengan sangat khawatir.
"Setiap pagi sebelum pukul sepuluh pagi dia tidak akan bisa membuka matanya umi, nanti jika sudah sampai rumah sakit pasti terbangun tenang aja" Faro terkekeh mengingat akhir-akhir ini Inneke selalu bangun setelah pukul sepuluh pagi, jika di bangunkan Sebelum itu dia hanya akan bilang minta waktu sepuluh menit lagi.
Bunda di depan duduk bersama sopir, sedangkan Faro tetap memangku Inneke dan memeluknya dengan erat sesekali mengecup keningnya lembut agar dia terbangun, dan ada empat bodyguard yang mengawal mereka.
"Ini sudah hampir sampai Bang, tapi kenapa belum bangun juga" cabik bunda sedikit khawatir dan mengelus tangan Inneke dengan lembut juga.
"Sabar Bun, sebentar lagi" jawab Faro singkat.
Lima menit berlalu dengan diam, Inneke mulai menggeliat manja, membuka matanya, langsung mengerutkan keningnya menengok ke kanan dan kiri ternyata dalam pelukan suaminya dan berada di dalam mobil bersama umi dan bunda.
"Ini dimana Bang, kenapa tempat tidurnya berjalan sendiri?" tanya Inneke yang masih setengah ngantuk.
Faro melepaskan pelukannya, tersenyum mengacak rambutnya dengan gemas diikuti oleh bunda dan umi tersenyum juga.
"Kita sudah hampir sampai di rumah sakit sayang, sudah janjian dengan dokter kandungan" jawab Faro dengan kembali memeluknya.
"Tapi Bang, aku belum ganti ba---" Inneke tidak jadi melanjutkan ucapannya setelah melihat dia sudah berganti gaun sederhana berwarna krem.
"Sudah sayang jangan panik" Faro hanya singkat menjawab.
Kemudian dengan sedikit panik Inneke memegangi pipinya, bangun tidur biasanya mukanya bau bantal dan tidak terlihat segar, tanpa berbicara Faro mengarahkan kamera handphone ke wajahnya.
"Sudah cantik dan terlihat segar seperti biasa" ucapannya lagi, Inneke memandangi wajahnya dengan kagum, padahal dia baru bangun tidur tetapi wajahnya segar dan bedak yang sempurna menempel di wajahnya.
"Siapa yang mendandani aku Bang, bunda atau umi?" tanya Inneke melihat umi dan bunda bergantian, tetapi mereka menggelengkan kepalanya bersamaan.
__ADS_1
"Abang yang melakukan, setelah ini Abang akan ganti profesi aja jadi MUA artis" celoteh Faro dan diikuti oleh bunda dan umi melihat wajah Inneke.
"Wuiiih Abang hebat juga terima kasih" Inneke jadi menciumi tangan suaminya berkali kali.
Tanpa terasa asyik bercerita sudah sampai di parkiran rumah sakit dan mereka langsung menuju ruang dokter spesialis kandungan, ternyata sudah banyak yang duduk menunggu giliran di panggil oleh seorang suster yang bertugas.
"Duduk dulu sayang, bunda, umi sebelah sini" Faro menunjuk kursi kosong yang masih tersisa.
Sedangkan keempat bodyguard berdiri di samping mereka dengan tegap, banyak para pengunjung rumah sakit memandang heran mereka, tidak sampai lima menit mereka menunggu seorang suster memanggil.
"Ibu Inneke Farissa" panggil suster dari pintu dengan suara lantang.
"Ya...." Faro dan Inneke menjawab bersamaan berjalan mendekati suster itu dan masuk ruangan, diikuti oleh bunda dan umi berjalan di belakang Faro dan Inneke.
"Pagi bapak, ibu waaaah rombongan ini siapa yang mau di periksa, kenalkan saya dokter Rianti" dokter berdiri menyalami satu persatu rombongan Faro.
"Pagi dok, ini dia istri saya yang mau di periksa" jawab Faro sambil mempersilahkan Inneke duduk.
Di awali seorang suster mengecek tensi darah, menimbang berat badan, tinggi badan dan suhu tubuh.
"Ok tensi bagus 110/90, ibu dalam keadaan sehat, kapan terakhir menstruasi?" tanya dokter Rianti sambil membaca laporan yang di tulis oleh sister tadi.
"Maaf saya lupa dok, soalnya tanggal menstruasi saya sering berubah-ubah" Inneke hanya menjawab sekenanya.
Faro juga membantu Inneke naik ke brankar berdiri di samping Inneke dan menggenggam erat tangannya, suster memberikan selimut di kaki Inneke dan membuka sedikit gaunnya di bagian perut dan mengoleskan jel bening ke beberapa bagian perutnya.
Kemudian dokter itu menempelkan alat kecil ke tempat dimana jel bening tadi dioleskan, dengan ada suara yang sedikit aneh layar bergerak-gerak mengikuti gerakan tangan dokter Rianti.
"Itu bapak, ibu ada gumpalan kecil di tengah rahim ibu, itu sudah berumur tujuh Minggu ternyata, selamat kalian akan menjadi orang tua" dokter Rianti mengatakan sambil tersenyum.
"Terima kasih dok, anak kita Bang" Inneke memandang wajah Faro yang bahagia.
"Iya sayang" jawab Faro singkat.
Suster membersihkan jel bening dari perut Inneke dengan tisu, merapikan gaunnya kembali dan mempersilahkan untuk turun dan duduk kembali di hadapan dokter Rianti.
"Apakah ada keluhan, mual, muntah jika pagi hari?" tanya dokter Rianti kemudian setelah Inneke sudah duduk kembali di depannya.
"Mual dan muntah tidak pernah dok, tetapi sudah hampir dua Minggu ini dia jarang makan nasi" cerita Faro dengan antusias.
"Tidak apa-apa pak, itu wajar setiap wanita yang hamil akan mengalami permasalahan yang berbeda-beda, yang penting asupan gizi dan nutrisi terpenuhi, tidak makan nasi bisa juga diganti roti atau karbohidrat yang lain" keterangan dokter Rianti panjang lebar.
"Dok seringnya saya mengantuk saat pagi dan sore hari, apakah itu tidak apa-apa?" tanya Inneke penasaran.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bu, bawaan bayi, nanti saya resepkan vitamin di minum rutin ya, jangan lupa minum susu hamil" perintah dokter Rianti lagi.
Saat mereka asyik berbincang bunda dan umi saling sikut ingin menanyakan hal sedikit tabu karena seringnya melihat kedua pasangan itu lehernya belang seperti kulit macan.
"Dok boleh kami tanya juga dok?" Imma berbicara dengan ragu-ragu.
"Calon Oma cantik juga boleh bertanya silahkan Bu" jawab dokter Rianti ramah.
"Apakah boleh, sering-sering melakukan hubungan suami istri saat hamil muda begini?" tanya bunda tanpa malu-malu.
Dokter tersenyum sedangkan Inneke dan Faro tersentak kaget dengan pertanyaan aneh dari bunda yang didukung pula oleh umi.
"Bunda, umi pertanyaan macam apa itu?" cabik Inneke berbisik di telinga bunda.
"Tidak apa-apa, untuk calon Oma cantik bertanya, sekalian saya jelaskan, sebaiknya dalam trimester pertama hubungan suami istri di kurangi, karena janinnya masih rawan, boleh saja melakukan dengan lembut kalau bisa" keterangan dokter Rianti dengan senyum yang mengembang, tetapi tidak untuk Faro mukanya jadi masam dan ditekuk karena pertanyaan dari bunda akan mengurangi kesenangannya yaitu kegiatan olahraga malam yang di lakukannya hampir setiap hari.
Setelah keluar dari rumah sakit, Faro yang masih dalam keadaan muka di tekuk, tidak tahan bunda dan umi menggodanya.
"Eleh.....eleh Abang, sampai segitunya, kenapa mukanya lecek kayak baju baru di cuci" goda umi dengan senyum defil.
"Iya nich, kenapa sih Bang, tadi berangkat semangatnya empat lima sekarang kenapa pulangnya jadi ditekuk begitu mukanya?" tambah bunda tidak mau kalah.
"Bunda dan umi sih, pakai tanya begitu pada dokter Rianti tadi, jatah Abang jadi berkurang" protesnya dengan mengerucutkan bibirnya. Sedangkan bunda dan umi tersenyum lebar bahkan sopir yang mendengar aja ikut geleng-geleng kepala karena tingkah Faro.
"Tenang Bang, masih ada jalan lain menuju Roma" rayu Inneke mengedipkan matanya genit.
Mendengar rayuan Inneke Faro langsung tersenyum mengembang dan memeluk Inneke dengan mesra.
"Eeee apa itu maksudnya masih ada jalan menuju Roma?" tanya bunda sambil melihat umi, sedangkan yang dilihat hanya menaikkan bahunya dan menggelengkan kepalanya.
"Rahasia, bunda dan umi tidak usah tahu" gantian Faro menjawab seperti merasa menang dari perdebatan antara mereka.
Saat mereka melewati pasar, bunda mempunyai ide ingin mengadakan syukuran di rumah Faro mengumpulkan keluarga dengan bakar ikan dan ayam nanti saat makan malam.
"Bang, bunda dan umi turun di depan ya, kita mau belanja nanti makan malam kita bakar ikan dan ayam untuk merayakan kita mau jadi sobo cantik" titah bunda.
"Asyik ikan bakar, yang banyak Bun" antusias Inneke mendengar ikan bakar seakan liur akan menetas di bibirnya.
"Baiklah, ajak pengawal Bun, untuk membawa belanjaan nanti, biar Abang hubungi pak Min untuk menjemput bunda dan umi jika sudah selesai belanja" balas Faro turun dari mobil mendekati para mengawal memerintahkan harus mengikuti kemanapun mereka berbelanja dan membantu membawakan belanjaannya nanti.
Masuk kembali ke mobilnya dan memerintahkan kepada sopir untuk berjalan kembali pulang duluan karena masih banyak yang menunggu di rumah terutama menunggu kabar baik tentang kehilan Inneke.
Sampai di rumah sudah di sambut oleh keluarga besar yang menunggu harap-harap cemas, tetapi setelah mendapatkan kepastian dari dokter semua merasa bahagia karena akan datang anggota keluarga baru sebentar lagi.
__ADS_1