Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
145. Epilog Kebahagiaan Keluarga Faro


__ADS_3

Lapas kelas satu yang ditempati Thora ada di lantai tiga, Thora menaiki tangga dengan tetap melamun, tangga lantai pertama lancar diikuti oleh dua pengawal dari belakang, tangga lantai kedua sedikit tersandung setelah sampai dilantai tangga ketiga kaki Thora seperti melayang tidak mendapatkan pijakan dan menggelinding jatuh dengan menabrak dua pengawal juga ikut menggelinding sampai bawah dan parahnya lagi kepada Thora terbentur tembok dan tertindih dua orang pengawal sekaligus.


"Aaaaaaaarrrgggh" suara ketiga orang itu menggema diseluruh ruangan lapas.


Ada beberapa petugas lapas berlari mendekati mereka dan membawanya ke klinik lapas yang berada di samping kiri lapas.


Bersamaan dengan Thora jatuh dari tangga, Ara menandatangani berkas surat perjanjian yang menyatakan tidak menerima harta warisan dan kedudukan yang ditinggalkan oleh ayah kandungnya.


Setelah selesai menandatangani berkas itu Ara dan Mario meninggalkan lapas tanpa mengetahui jika Thora jatuh dari tangga, Ara dan Mario melanjutkan perjalanan menuju perbatasan Singapura dan Kalimantan untuk menemui keluarga besar dari almarhumah mommy yang diwakili oleh asisten mommy.


Disana Ara juga menolak semua warisan dari mommy bukan karena harta itu berasal dari pembagian harta gono-gini dari Daddy tetapi karena melihat semua keluarga besar dari mommy hidup secara sederhana dan bahkan masih banyak yang hidup kekurangan.


Ara juga membuat hitam diatas putih menyatakan tidak akan menerima peninggalan warisan tetapi ikhlas dibagikan secara adil kepada seluruh keluarga besar yang tinggal disana, Mario mendukung semua keputusan Ara tanpa kecuali, langsung kembali ke Jakarta setelah urusan selesai disertai isakan bahagia keluarga besar mommy yang tinggal dipinggiran kota Singapura.


________________________


Pada tengah malam hari Faro terbangun karena merasa pusing dan mual, bangun dan berjalan keluar menuju dapur mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa mual dalam perutnya, bergegas membuka kulkas, walaupun lampu dapur tidak dinyalakan tetapi saat membuka kulkas ada terang disana ada puding mangga yang sangat menggiurkan air liur untuk dinikmati.


Tanpa menutup kulkas sengaja untuk penerangan Faro duduk bersila didepan kulkas menikmati puding mangga itu sampai habis tidak tersisa, baru kembali ke kamar melanjutkan tidurnya.


Pagi harinya ada yang merajuk kehilangan puding mangga yang dibuat tadi sore oleh bibi Tini raib, padahal itu tugas Rafael yang harus dibawa sekolah untuk acara makan bersama karena ibu guru berulang tahun, hari ini, setiap anak membawa menu makanan yang sudah ditentukan dalam rapat tiga hari yang lalu


"Maaf El, Papi tidak tahu kalau itu akan dibawa ke sekolah, tadi malam Papi yang makan" ucap Faro saat mendengar ribut-ribut dibawah dan melihat Rafael menghentakkan kakinya karena marah.


"Mami ini jadinya bagaimana?, El harus bawa apa sekarang?" tambah marah El dengan pengakuan Papi yang terus terang padahal puding itu untuk satu kelas habis sekali makan oleh Faro.


"Apakah harus puding sayang, atau bisa diganti yang lain?" tanya Inneke memeluk El dari belakang agar tidak merajuk.


"Tidak juga sih Mi, El mendapatkan tugas membawa makanan penutup yang rasanya manis-manis" sanggah El tetapi sambil mengerucutkan bibirnya, sebentar lagi berangkat sekolah dan bingung apa yang harus dibawa ke sekolah jika pudingnya sudah dimakan habis oleh Papi.

__ADS_1


"Sebentar Papi hubungi Paman Bayu di Imma kafe siapa tahu ada menu dessert dalam jumlah banyak" Faro bergegas menghubungi manager Imma kafe untuk menanyakan tentang makanan penutup yang manis sesuai keinginan Rafael.


Ternyata ada mini tart red Velvet dalam jumlah besar dan cukup untuk satu kelas dan ditambah guru dan staf yang ada.


"El berangkat aja, nanti grandpa Bayu akan mengirim mini tart red Velvet untuk satu kelas" titah Faro setelah selesai menyelesaikan sarapannya.


"Ya baiklah El berangkat Papi, Mami, Oma Meera, lain kali kalau mau makan sesuatu tanya dulu siapa yang punya, Papi sebetulnya doyan atau rakus?" Seloroh Rafael sedikit meledek papinya dan berlari keluar mencari Pak Pardi untuk mengantarkan sekolah.


Semua tersenyum karena ledekan El, Faro menjadi teringat sudah beberapa hari ini jika tengah malam akan terasa mual dan pusing.


"Entahlah akhir akhir ini rasanya kalau malam pusing dan mual, pinginnya makan terus" Faro heran sendiri yang terjadi pada dirinya sendiri dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Mama Meera jadi mengerutkan keningnya berpikir, sepertinya ada yang aneh jika mual dan pusing hanya pada malam hari.


"Apakah kalian sedang merencanakan program anak kedua?" tanya Mama Meera penasaran.


Inneke membulatkan matanya dengan sempurna, saling bertatapan dengan suami tercinta, baru menyadari hampir satu tahun ini sudah melepaskan KB-nya karena Faro selalu merayu ingin memiliki anak perempuan seperti Afiyana putri Jasson dan Fia.


"Sayang bagaimana kalau kita langsung ke dokter saja hari ini?" ajak Faro sangat antusias ingin sekali memiliki anak perempuan segera.


"Tidak bisa Papi, Papi pagi ini akan meeting jam sembilan, besok aja buat janji dengan dokter Rianti, sekarang Mami beli tespect aja di apotek" tolak Inneke sambil merapikan meja makan setelah sarapan.


Setelah meninggalnya ketua mafia se-Asia tenggara, dan Thora ada dalam tahanan, Felix Siregar terkena stroke dan kesehatannya semakin menurun, Agus Martono juga mulai menurun perfomanya, banyak anak buah dari ketua mafia melepaskan diri dan tidak kompak lagi seperti saat adanya Theo Thanapon sebagai ketua.


Setiap negara banyak yang berdiri sendiri menjalankan organisasi mereka, ini sangat mempengaruhi keselamatan keluarga Ken dan Faro lebih kondusif, tidak ada lagi yang mengancam keselamatan keluarga.


Pemerintah juga banyak menangkap anak buah dari Agus Martono yang sering melakukan menyelundupkan narkoba, barang terlarang, ataupun barang ilegal lainnya yang sering diperdagangkan di pasar gelap.


Tahun ini ketiga anak jenius akan memasuki sekolah dasar, mereka akan masuk sekolah dasar yang sama seperti waktu TK.

__ADS_1


Faro dan Inneke sedang menantikan anak kedua yang sudah diprediksi anak perempuan, sedangkan Erna dan Rendi tidak berniat memiliki momongan lagi karena trauma sudah dua kali hamil dan dua kali mengalami musibah, sedangkan Mario dan Ara ingin juga memiliki momongan kembali tetapi Ara masih takut saat melahirkan sehingga belum berniat untuk menambah anak.


Semenjak terjadinya penculikan itu Rafael, Kanno, dan Cello semakin kompak, bahkan Kanno yang dulunya sakit-sakitan sekarang tubuhnya fit ikut bela diri yang dilakukan oleh Rafael dan Cello.


Penelitian penelitian ketiga anak jenius itu sekarang selalu dalam pengawasan dari Jenderal Hendro, semenjak jenderal Hendro pensiun mereka bertiga diangkat menjadi muridnya.


Dari latihan menembak, menyusun tragedi, kedisiplinan, bela diri, kemandirian, penelitian penelitian yang sesuai minat mereka bertiga selalu diawasi oleh jenderal Hendro, seminggu tiga kali pertemuan dengan Jenderal Hendro selalu rutin dilaksanakan.


Faro akhirnya membangun satu lantai lagi dalam rumahnya untuk membuat fasilitas yang diperlukan untuk ketiga putra kesayangan dalam menjalankan latihannya, dari laboratorium mini, markas intelejen mini, sasana tinju, tempat latihan menembak, ruang latihan karate, bar mini, bahkan ruangan tempat bermain play station juga ada.


Pembuatan berbagai fasilitas itu bertujuan agar Rafael, Cello dan Kanno tidak mengulangi penelitian dan pembuatan hal yang diluar dugaannya seperti waktu TK, karena mereka secara sembunyi sembunyi melakukan hal yang membahayakan, dengan difasilitasi kemampuan dan hobi mereka akan terarah dan tidak merugikan orang lain.


Sedangkan trio cabe-cabean sekarang sudah mulai berlatih memimpin perusahaan, Rayhan secara pelan dan pasti mulai menggantikan Papa Edi yang memasuki masa pensiun dan karena kepincut dengan gadis perkebunan sepupu Papa Edi yang pernah satu kampus dengan trio cabe-cabean saat kuliah, Ezo dan asisten Bagas mulai menggantikan posisi Abi Ken yang juga mulai akan berniat pensiun dini karena ingin konsentrasi dengan cucunya yang lucu-lucu.


Jasson dan Fia yang sudah pindah rumah setelah melahirkan juga hidup bahagia dengan keluarga kecilnya di perumahan dekat dengan Mama Trisya dan Papa Andri.


Demikian juga keluarga Rendi dan Erna walaupun hanya berniat memiliki satu putra yaitu Kanno, sudah sangat bahagia, sedangkan keluarga Mario dan Ara semakin bahagia karena sudah tidak ada bayang bayang ketakutan karena dikejar oleh daddy-nya dan tak perlu sembunyi lagi, dengan menggunakan nama Amara Khadijah tidak mudah dikenali oleh lawan ataupun kawan dari almarhum Daddy-nya yaitu Theo Thanapon.


Apalagi keluarga dari Faro dan Inneke, sedang menunggu kehadiran anak keduanya juga sangat bahagia, sudah tidak ada bayang bayang lagi pengejaran ketua mafia se-Asia tenggara, dendam itu seolah oleh tenggelam seiring meredupnya organisasi itu yang kehilangan pemimpinnya di tangan cucu angkatnya sendiri.


________TAMAT____________


Shobat ku semua sengaja sosok Thora Thanapon agak author gantung, karena akan nongol di novel season 3 yang menceritakan tentang tiga sahabat jenius yang hidup di dunia digital dan tegnologi mutakhir, dan menceritakan sosok ketiga sahabat jenius bertemu dengan cinta sejatinya.


Terima kasih shobat ku semua yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir season 2, mohon maaf jika tidak sesuai dengan keinginan pembaca semua, dan mohon maaf jika tulisannya kurang sempurna.


Insyaallah novel season 3 akan di tulis dalam waktu dekat di bulan Agustus ini mungkin bersamaan give away, untuk pengumuman give away insyaallah akan diumumkan sekitar tanggal 20 Agustus ini, mohon bersabar ya.......


Terima kasih sekali lagi dan mohon maaf lahir dan batin apabila tulisan author tidak berkenan di hati shobat semua, karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT, dan kekurangan miliki author sebagai manusia biasa, semoga Shobat semua selalu dalam lindungan Allah SWT Aamiin yarobbal Aalamiin.......

__ADS_1


Author


Muda Anna.


__ADS_2