
"Menjauhlah, jangan dekati gue" bentak Faro dengan suara lantang mundur beberapa langkah kebelakang.
"Gue Sari Sagita, masak elo lupa sama gue" dia mendekati Faro kembali merentangkan tangannya ingin memeluk Faro.
"Gue tahu, makannya jangan dekati gue, cepat menjauh dari gue" bahkan Faro hampir mendorong tubuh wanita itu tetapi tidak jadi dan lebih memilih menjauh dari wanita gila yang pernah mendorong Erna.
Datang pihak kepolisian, Mario dan jenderal Hendro beserta Uda Padang, sekaligus Pak Kumis hampir bersamaan.
"Sari Sagita, jadi elo yang mengikuti mobil bos Faro, dasar sinting" Mario naik pitam karena melihat wanita yang ada didepannya itu seperti tidak ada beban.
Dengan bergegas Mario menghubungi Rendi karena seharusnya Sari Sagita masih ada di penjara saat ini tetapi sekarang ada didepannya bebas dan melakukan ulah lagi.
"Gue kesana sekarang karena kebetulan ada disekitar perusahaan bos elo, jangan lupa share lokasi" suara Rendi dari balik handphonenya.
"Mario gue tidak berniat ingin mencelakai Faro, gue hanya ingin lebih dekat dengan dia" usap Sari Sagita tanpa merasa bersalah sedikitpun, sambil mendekati Faro kembali.
Dengan cepat Faro memundurkan tubuhnya bahkan menyusup dibalik badan Mario, sehingga Mario menjadi terkekeh geli karena tingkahnya.
"Bos, kenapa seperti sedang melihat hantu saja sih?" bisik Mario di telinga Faro.
"Gue jijik bro sama nenek sihir yang tidak tahu malu itu, jauhkan dia dari gue" perintah Faro berjalan mendekati jemderal Hendro yang sedang meneliti kerusakan mobil Faro.
Datang Rendi bersama asistennya Ridwan dengan memarkirkan mobilnya disembarang tempat dan berlari mendekati Faro tetapi melihat ada Sari Sagita berdiri diapit oleh dua polisi.
"Rendi, elo bisa katakan kenapa si nenek sihir ini bisa keluar dari penjara dan sekarang mengejar bos Faro" tanya Mario mendekati Rendi sebelum dia sampai didekat Faro dengan suara kencang.
"Ridwan kenapa bisa begini, itu nenek sihir---?" Rendi ikut naik pitam karena Mario bertanya dengan nada yang tinggi.
"Gue bukan nenek sihir, kurang ajar elo semua ya!" teriak Sari Sagita dengan amarah yang meledak-ledak.
"Sebentar bos, gue telepon pengacara sebentar" Ridwan mengambil handphone yang ada dibalik jas dengan cepat menghubungi pengacara yang menangani kasus Erna saat di mall HS.
Setelah ditangani oleh pihak kepolisian yang datang, Sari Sagita dibawa oleh polisi ke kantor polisi, kedua mobil diderek oleh petugas, jenderal Hendro dan anggotanya kembali ke markas.
"Mario, jadwal ulang meeting kita, antar gue ke rumah Abi dan umi?" Faro membuka mobil Mario tanpa menengok kearah Sari Sagita yang ditarik paksa oleh petugas polisi.
"Bos, yang membebaskan wanita itu bernama Felix Siregar baru kemarin sore dia bebas" teriak Ridwan mendekati Rendi.
Faro tidak jadi naik mobil Mario mendengar ucapan Ridwan yang menyebut nama Felix Siregar.
"Kita ke rumah Abi nanti kita bahas disana, sekalian hubungi detektif Conan, perintahkan sekarang juga mencari informasi apa hubungannya Sari Sagita dengan Felix Siregar, setelah selesai suruh datang ke rumah Abi?" setelah mengatakan itu Faro kembali naik ke mobilnya Mario.
Mario naik dan duduk di kemudi diikuti oleh Rendi dan Ridwan dengan mobil yang berada berjalan menuju rumah Abi yang berada di pinggiran kota Jakarta.
Sampai diparkiran rumah Ken, Faro dan Mario langsung masuk rumah sedangkan Rendi berjalan ke kafe diikuti oleh Ridwan dibelakangnya.
__ADS_1
"Mau kemana lo, kabur aja tanpa permisi? Mario berbalik badan karena Rendi tidak mengikuti mereka masuk rumah.
"Gue mau makan sebentar, gue kangen masakannya Om Bayu, sudah lama tidak kesini" Rendi berjalan menuju kafe melalui pintu samping.
"Kenapa tidak makan di rumah Abi aja?" Faro ikut menimpali pertanyaan Mario.
"Kagak minat" jawab Rendi singkat.
"Dasar sableng lo" dengan langkah panjang Faro memasuki rumah mencari umi ataupun anak dan istrinya tetapi seperti tidak penghuninya rumah Abi.
"Bibi kemana umi kok sepi?" Faro duduk di ruang tamu diikuti oleh Mario yang duduk disebelahnya.
"Jalan ke taman bersama neng Keke, baby El dan kakak Fia barusan berangkat, mau minum apa Bang?" bibi tergopoh-gopoh menghampiri Faro dan Mario.
"Jus jeruk aja bibi sekalian camilan kalau ada" kembali bibi berjalan ke dapur.
Datang Ezo dari atas dengan berlari kecil membawa tas punggung dan penampilan yang rapi.
"Mau kemana lo?" Faro melihat Ezo yang tergesa-gesa berjalan menuju pintu keluar.
"Mau bimbel Bang, sebentar lagi gue mau ujian Nasional" balasnya sambil berjalan tanpa menghampiri Faro ataupun Mario.
Tetapi sebelum keluar dari pintu Ezo kembali berbalik badan mendekati Faro dan menengadahkan tangannya.
"Pajak kuota dong Bang, tinggal sedikit nich, paling tinggal satu GB" dengan senyuman manisnya Ezo pasang.
"Gue sudah besar Bang, bukan cabe-cabean lagi, sebentar lagi gue kuliah, buset dengan cewek semua matre, tidak ada hubungannya ama gue" celoteh Ezo dengan wajah garangnya.
"Eeee habis patah hati lo Zo, atau diselingkuhin hahaha" Mario meledek dengan suara tawanya yang lepas.
"Sembarangan aja kalau ngomong asal jeplak aja, umi emang matre, bini gue, kakak Fia itukan juga cewek" dengan melotot Faro protes dan menghitung uang yang ada di dompetnya.
"Yang Abang sebutkan tadi pengecualian, lama betul tangannya capek nich, mana pajak pulsanya?" tangan Ezo masih tetap dalam posisi menengadah didekat Faro.
"Bini gue kagak matre juga, makanya jangan sembarangan kalo ngomong, gue pecat lo menjadi adiknya bos" Mario melempar bantal sofa kearah Ezo.
"Niiih, buat bertiga, elo, Reyhan dan Bagas juga, awas elo embat sendiri, bukan cuma gue pecat jadi adik, gue pecat elo dari anaknya Abi" Faro memberikan enam lembar uang warna merah.
"Abang sadis, gue ini putra kesayangan Abi, mana bisa dipecat, udah Ezo berangkat terima kasih" mencium punggung tangan Faro dan Mario bergantian.
"Pak Min ayo berangkat" Ezo berteriak kencang memanggil sopir pribadi yang selalu setia.
Saat Ezo berangkat ke sekolah diantar pak Min, detektif Conan masuk dan memarkirkan mobilnya disamping mobil Mario.
"Bos, sorry agak terlambat, ini laporannya" Conan menyodorkan map coklat dan tidak lupa mengirim bukti autentik yang bisa mendukung penyelidikannya melalui pesan WA.
__ADS_1
Faro dan Mario bersamaan membaca laporan yang diterima dari Conan, Sari Sagita adalah anak dari pengusaha furniture yang terkenal di Jakarta bahkan memiliki cabang di Bogor dan Bandung, tetapi saat sampai dia kuliah di semester tiga, orang tuanya bangkrut, ayahnya bercerai dengan istrinya, dalam perceraian itu ibunya Sari Sagita memakai jasa dari pengacara Felix Siregar.
Dari awal perkenalan dengan pengacara ibunya itulah Sari Sagita mengenal Felix, dan menjalin hubungan gelap dari kuliah sampai setengah tahun yang lalu ketahuan oleh istri Felix,
Akhirnya Felix memutuskan hubungannya dengan Sari Sagita karena diancam oleh istri sahnya, istrinya mengancam jika tidak putus dengan Sari Sagita dia akan pergi dan membawa putra putrinya pergi darinya.
Dalam pesan WA ada foto-foto mesra antara Felix dan Sari Sagita, ternyata saat kuliah Felix juga yang membiayainya, apartemen, dan mobil juga Felix Siregar yang membelikannya.
"Kalau menurut kesimpulan gue, Sari Sagita mengejar Rendi atau bos Faro karena dia tidak tahan miskin, sudah tidak ada pemasukan di kantongnya saat putus dari Felix" Conan memberikan pendapatnya setelah mereka selesai membaca laporan darinya.
"Betul itu gue setuju dengan pendapat Bang Conan" dengan cepat Mario menyetujui pendapat Conan.
"Iya kali, tapi gue geli sama dia, tolong elo yang handle Bang Conan, jangan sampai mendekati gue" Faro sampai merinding melihat tingkah Sari Sagita saat berada di gang tadi siang.
"Ok siap laksanakan" Conan berbicara tegas.
Datang Rendi dan Ridwan bergabung dengan mereka setelah selesai makan di Imma kafe.
"Hai bro, sudah lamakah?" Rendi ber-tos ria dengan Conan duduk di sebelah Mario.
"Oya Bang Conan kenalkan asisten baru gue, Ridwan namanya.
"Halo bos, saya Ridwan salam kenal" Ridwan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Bang Conan, bisa kerjasama dengan Ridwan saja untuk menyelesaikan kasus Sari Sagita ya, jangan libatkan gue, geli gue lihat dia" ternyata Rendi juga merasa risih karena tingkah Sari yang mengejar mereka.
Sementara Ridwan dan Bang Conan mengadakan rapat kecil berdua, Faro, Mario dan Rendi membicarakan hal menyangkut kendaraan transportasi yang menghambat tadi malam saat di Bandung.
"Mario, coba elo cari informasi tentang harga pesawat helikopter, sepertinya sudah waktunya kita membutuhkan itu untuk transportasi dalam jarak dekat" Faro mengingat tadi malam kesulitan mendapatkan tranportasi.
"Wow.... serius lo mau beli helikopter?" Rendi sampai kaget mendengar niatan Faro.
"Iya karena tadi malam gara-gara tidak bisa pulang, anak gue sampai badannya panas, lebih parahnya lagi bini gue juga marah, dia tidur di kamar Rafael" cerita Faro jujur.
"Berarti elo tadi malam tidak dapat jatah dong" Mario tersenyum mengejek pada bosnya.
"Boro-boro dapat jatah, memeluknya aja tidak bisa, gue pindahkan dia ke kamar, eee dia kembali ke kamar Rafael lagi, gue bisa tidur jam tujuh pagi setelah dibolehkan memeluknya" mengingat tadi malam Inneke diam-diam kembali ke kamar Rafael karena masih marah dan kesal.
Rendi dan Mario jadi terkekeh, sahabat karibnya yang satu ini memang sangat mencintai istrinya.
"Bos gue sudah dapat informasi tentang penjualan helikopter, ini bagaimana apakah harus menghubungi dan meminta pertimbangan jenderal Hendro tentang pembelian helikopternya" Mario memberikan perusahaan dan prosedur pembelian helikopter.
Faro tampak terdiam sejenak mengerutkan keningnya berpikir, betul kata Mario lebih baik melibatkan jenderal Hendro tentang pembelian helikopternya, karena dia lebih faham tentang hal ini.
"Ya sebentar, gue hubungi jenderal Hendro aja, akan lebih mudah urusannya jika mendapatkan rekomendasi dari beliau" Faro mengambil handphone yang ada dimeja didepan Faro duduk.
__ADS_1
Ternyata hanya dengan menghubungi atasannya sekali saja, semua lancar tanpa menunggu lama, bahkan Mario tidak harus turun tangan mengurus masalah perijinan dan administrasi, semua dilakukan oleh teman jenderal Hendro yang memang dia berprofesi jual beli tranportasi yang tidak sembarang orang bisa membelinya.
Mario hanya bertugas mentranfer harga dan pajaknya saja nanti setelah mereka memproses data diri dari pemilik helikopter, serta menyediakan hanggar untuk helikopter jika sudah tiba.