Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
97. Program dan Strategi Jasson


__ADS_3

Fia kembali menatap Jasson dengan sendu, bersamaan Jasson mengacungkan kedua jempolnya tanda setuju.


Sampai jam besuk berakhir Jasson tetep duduk setia disamping box baby Rafael, sesekali mengusap pipinya yang lembut, tidak memperdulikan Fia, Inneke dan Faro bercanda ria dengan senangnya.


"Lihat tuuuh suamimu, begitu pinginnya punya baby juga, coba dipertimbangkan Fia" nasehat Faro berbisik mendekati Fia dan melirik kearah Jasson yang sedang mengusap lembut pipi baby Rafael.


"Iya Bang, nanti gue pertimbangkan lagi masalah baby" Fia menunduk sedih.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, bisa di bicarakan berdua nanti kalau sudah sampai rumah" hibur Faro dengan mengacak rambut Fia sambil terkekeh.


"Abang ayo kita pulang" Fia mengajak Jasson dengan mengulurkan tangannya.


"Sebentar lagi sayang, Abang masih belum puas memandangi baby Rafael" tanpa menerima uluran tangan Fia Jasson masih fokus memandangi baby mungil yang menggemaskan itu.


"Sayang ayo nanti kita bikin sendiri" bisik Fia didekat telinga Jasson dengan mengedipkan matanya.


Jasson merona dan membelalakkan matanya, mendengar ucapan Fia hatinya begitu menghangat seperti ada secercah harapan akan memiliki baby yang lucu.


"Betulkah itu sayang, Abang tidak mimpi kan?" Jasson sangat bahagia memeluk Fia dari belakang dan mencium leher dan tengkuknya lupa akan orang yang ada disekitarnya.


"Hm..hm.....jangan mesum disini Jasson, elo kagak lihat gue harus puasa empat puluh hari kedepan" celoteh Faro menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf Bang, e..eee ngomong ngomong betul harus puasa selama itu, kok gue kagak tahu?" Jasson merasa ngilu sendiri membayangkan puasanya bang Faro, jadi mengingat saat baru menikah terasa menyiksa karena harus bermain solo setelah menikah.


"Betul itu bang Jasson para suami harus tahan berpuasa selama istrinya nifas setelah selesai melahirkan" bibi Jum bijaksana menasehati.


"Kenapa selama itu bibi?" Jasson masih penasaran sambil melihat Faro yang merasa kasihan.


"Selama empat puluh hari itu, tubuh akan kembali normal setelah selama sembilan bulan rahim mengembang karena adanya janin dalam rahim, karena itu harus diistirahatkan agar **** ***** wanita yang telah dilewati bayi saat melahirkan kembali pulih seperti sedia kala" nasehat bibi Jum sangat menyentuh dihati Faro.


Faro bergumam dalam hati berjanji akan tahan untuk empat puluh hari kedepan karena mengingat peristiwa perjuangan Inneke saat melahirkan baby Rafael begitu penuh perjuangan antara hidup dan mati.


Jasson pamit pulang dengan berat hati karena masih ingin mengagumi makhluk kecil ciptaan Tuhan yang begitu menggemaskan yang langsung membuatnya ingin memiliki baby juga karena jatuh hati pada baby Rafael, dengan di tarik tangannya oleh Fia Jasson melangkah menuju parkiran seperti setengah hati.


Membukakan pintu mobil untuk Fia, memutari mobil itu dan duduk diposisi kemudi menggenggam tangan Fia dengan erat dan menatap sendu wajahnya.


"Sayang, betulkan kita akan memiliki baby seperti Bang Faro?" Jasson begitu mengiba membayangkan ingin memiliki baby.


Fia menangkup kedua pipi Jasson memandanginya dengan tatapan mata yang sayu, ternyata suaminya sangat mendambakan memiliki momongan, Fia yang selama ini egois karena tidak mempertimbangkan keinginannya.


"Iya Bang, aku akan berhenti minum pil KB-nya, tetapi Abang harus sabar ya, tidak bisa langsung semua harus ada prosesnya" Fia akhirnya setuju dan yakin jika tidak akan menunda lagi memiliki momongan.


"Berarti mulai malam ini Abang akan berusaha dengan keras dan sungguh-sungguh agar baby nya cepat datang" Jasson memeluk Fia dengan erat dan senyum yang mengembang sempurna.

__ADS_1


"Idih maunya Abang mesum aja, dari kemarin emang tidak tidak berusaha, perasaan setiap hari berusaha nya" Fia mengerucutkan bibirnya dengan raut muka cemberut.


Jasson terkekeh dan menggenggam erat tangan Fia dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya memegang kemudi.


"I love you more and more" mencium punggung tangan Fia dengan mesra.


"I know" jawab Fia singkat.


Karena bahagia Jasson mengajak Fia makan romantis di sebuah restauran Korea di area mall yang baru grand opening hari ini.


"Sayang untuk merayakan program baby, Abang ingin kita ke restauran Korea baru grand opening hari ini" ajak Jasson mengedipkan matanya.


Fia hanya menjawab dengan anggukan kepala, memandangi wajah suaminya yang terus tersenyum mengembang.


"Apakah wajah Abang terlalu tampan sehingga kau menatapnya tanpa berkedip" goda Jasson mengusap lembut pipinya.


Fia hanya merona malu memalingkan wajahnya kearah jalan raya tanpa berani menatap wajah suaminya yang selalu tersenyum detil.


"Abang GR.....mana ada memuji diri sendiri" cabik Fia dengan wajah yang memerah karena malu.


Parkir di parkiran mobil yang lumayan luas, turun dan sedikit berlari memutari mobil membukakan pintu untuk Fia.


"Silahkan turun kesayangan Abang" Jasson mengulurkan tangannya untuk membantu Fia dengan mesra.


Berjalan bergandengan masuk di restauran Korea yang lumayan ramai pengunjung, Jasson mengambil ruang VIP tertutup yang disediakan restauran itu.


Setelah memesan menu Korean BBQ grill dan minuman jus jeruk, dengan telaten Jasson memanggang daging, menambahkan bumbu, mengambil daun selada, meletakkan nasi dan daging yang sudah di panggang dan di bumbui kemudian di suapkan kepada Fia.


"Aaa buka mulutnya sayang" dimasukkan kedalam mulut Fia.


"Enakkan sayang?" tanya Jasson sambil mengulangi membuat lagi untuk dirinya sendiri.


Menikmati menu makanan itu sampai habis berdua, Fia hanya duduk dan makan sampai kenyang dengan disuapin oleh Jasson membuat suasana menjadi lebih romantis.


Keluar dari restauran Korea ada toko emas dan berlian membuat Jasson menarik tangan Fia menuju kesana.


"Sayang ayo kita ke toko itu sebentar" Jasson langsung duduk di kursi dan mengajak Fia duduk juga.


"Mau ngapain Bang?" tanya Fia duduk dengan terpaksa disamping Jasson.


Jasson memilih duduk di depan etalase yang menyediakan perhiasan untuk anak-anak yang letaknya bagian pojok toko.


"Sayang Abang ingin membeli perhiasan coople untuk ibu dan anak, coba pilih yang mana yang bagus?" ucap Jasson matanya mengarah kearah perhiasan yang sebagian besar berukuran kecil tetapi lucu dan imut.

__ADS_1


"Abang kenapa harus coople, nanti kalau anak kita laki-laki, masak harus memakai perhiasan emas" Fia masih bingung dengan kemauan Jasson.


Jasson terkekeh mendengar celotehan Fia, merasa heran sebagian wanita pasti akan bahagia jika dibelikan perhiasan emas tetapi ini istrinya tidak terlalu antusias.


"Sayang nanti tidak usah dipakai juga tidak apa-apa, Abang membeli ini sebagai simbol kita memulai program memiliki baby, disimbolkan dengan emas coople karena pasangan Ibu dan anak yang sangat berarti bagi hidup Abang, Abang akan sangat mencintai keduanya" Jasson bercerita panjang sambil tangan kirinya memeluk pinggang Fia.


Setelah ber-o ria Fia akhirnya ikut menunduk melihat koleksi perhiasan anak dengan seksama.


"Untuk putrinya berumur berapa tahun Bu?"" tanya salah satu penjaga toko itu dengan ramah.


Fia dan Jasson langsung saling pandang karena mendengar pertanyaan dari pegawai itu tersenyum manis.


"Sebentar kita lihat-lihat terlebih dahulu ya mbak, rencananya sih kita mau cari yang coople untuk ibu dan anak" jawab Jasson sopan.


Ternyata di tengah-tengah toko emas dan berlian sedang ramai datang dua laki-laki bertato dengan wajah ditutup topeng datang mengagetkan para pengunjung dan pegawai toko dengan memegang senjata badik dan golok.


"Dengar elo, cepat masukkan emas itu kedalam kantong ini, kalau tidak gue tebas leher lo dengan golok ini!" perintah salah satu laki-laki pertato itu.


Pengunjung berlarian menyelamatkan diri dengan suara yang riuh, menjerit bersahutan, pegawai yang di todong dengan golok sudah gemetar dan keluar keringat dingin dan menangis.


Fia dan Jasson yang masih duduk di bagian pinggir dekat etalase toko saling pandang seolah bisa membaca pikiran masing-masing.


"Sayang ingat pertemuan pertama kita, kita bernostalgia lagi yok" bisik Jasson turun dari tempat duduknya.


"Boleh juga Bang, bagaimana strateginya?" Fia ikut berbisik dan turun juga dari kursi tinggi yang didudukinya tadi.


"Abang dari sebelah sana, nanti kita serang bersamaan dari dua arah, ingat arahkan tendangan ke punggung dan serangan tangan kearah tangan yang memegang senjata agar senjata mereka terjatuh tanpa melukai sandera, tunggu Abang jalan kearah sana dulu" bisik Jasson meninggalkan Fia perlahan.


"Bang, aku hitung dengan tangan ya" Fia berucap hanya mulut yang bergerak tetapi tidak bersuara, dan Jasson mengangguk setuju dan faham maksudnya.


Berjalan perlahan dari sisi kiri dan kanan sampai jarak dua meter saat dua laki-laki bertato itu fokus melihat penjaga toko akan mengambil emas dan golok agak jauh dari posisi penjaga toko Fia mengangkat tangan dengan mengacungkan jari, satu, dua tiga.


"Hyaaaaaat ......hak......huk.....". kaki menendang punggung dan dengan cepat tangan memukul lengan.


Jasson dan Fia menyerang kedua laki-laki bertato dengan bersamaan dan jurus yang sama membuat kedua perampok itu terhubung kedepan membentur kaca dengan keras sehingga kaca etalase itu pecah berantakan, bersamaan golok dan badik terpental di kaca etalase itu juga sehingga kaca dengan mudahnya pecah.


Suara jeritan kembali terdengar dari pegawai toko karena kaget dan panik terkena pecahan kaca, dan pingsan seketika, Jasson juga terkena pecahan kaca di lengan kiri dekat siku darah langsung mengalir deras membuat Fia panik setelah mati.


Tetapi kedua laki-laki bertato itu saat mencoba bangun kembali di tendang oleh Jasson dan Fia bersamaan sehingga saat sedang menendang darah dari lengan Jasson mengenai muka salah satu laki-laki bertato.


Datang orang mendekati mereka membantu Jasson dan Fia termasuk sekuriti yang bertugas saat itu, ada yang meringkus perampok ada juga yang mengangkat penjaga toko yang pingsan, dan sebagian sekuriti mengamankan emas dan berlian agar tidak dijarah oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


Dengan perlahan Fia mencabut serpihan kaca yang masih menancap di lengan Jasson dan membalutnya dengan Bolero berbahan kaos berlengan panjang berwarna putih tulang yang sebelumnya Fia pakai.

__ADS_1


"Apakah sakit Bang, sepertinya dalam kacanya menancap di lengan, ini darah kenapa tidak berhenti?" Fia panik mengikat lengan Jasson dengan kuat saat mereka duduk berjongkok di samping etalase toko.


__ADS_2