
"Ada dokter keluar dari ruang operasi mendekati Ridwan dan Rendi.
"Dokter bagaimana istri dan anak saya?" tanya Rendi sangat khawatir.
Dengan tersenyum ramah dokter itu memandangi penampilan antara Rendi dan Ridwan.
"Apakah anda suami ibu Erna, selamat anda sekarang menjadi seorang ayah, karena kesigapan anak buah anda, Istri dan putra anda selamat" dokter mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan mengucapkan selamat.
"Terima kasih dokter" dengan linangan air mata Rendi memeluk Ridwan, secara spontan.
"Bos apa yang anda lakukan, saya masih normal bos, nanti orang lihat dikiranya kita pasangan sejenis" seloroh Ridwan hanya sekedar untuk menghibur orang yang baru dikenalnya itu agar tidak menangis.
"Maaf, terima kasih banyak telah menyelamatkan putra dan istri saya" Rendi dengan mengelap air mata yang mengalir di pipinya.
"Ridwan mulai hari ini kamu aku angkat menjadi asisten saya, selesaikan administrasi rumah sakit, usahakan istri dan ibu di rawat menjadi satu kamar, kamu keluar saja dari mall HS, sini saya minta nomor rekening bank dan nomor handphone mu" perintah Rendi tanpa meminta persetujuan Ridwan.
"Tapi bos, saya cuma lulusan SMU, bagaimana menjadi asisten anda, saya juga tidak tahu apa pekerjaan anda" jujur Ridwan dengan sedikit ragu, sambil menunjukkan nomor rekening dan nomor handphone kepada Rendi.
"Saya wakil CEO perusahaan yang dipimpin oleh ayah saya, tidak masalah kamu lulusan SMU, kalau perlu nanti saya kuliahkan" perintah Rendi lagi.
Saat ada notifikasi pesan masuk, Ridwan membaca dan membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Bos ini 50 juta anda transfer ke rekening saya, sedangkan uang saya cuma tujuh juta saja" dengan gemetar tangan Ridwan memegang handphonenya sendiri.
Rendi terkekeh melihat tingkah Ridwan, karena sepertinya dia tidak pernah memiliki uang sebanyak itu.
"Cepat kerjakan, anggap saja itu bonus buatmu, kalau tidak cepat kamu kerjakan apa yang saya perintahkan, akan saya tambah lagi uang transfer nya mau?" canda Rendi dengan melototkan matanya.
"Eeeee jangan bos" spontan Ridwan menolak karena gugup bos yang sedikit aneh habis menangis malah melotot.
Rendi terkekeh melihat tingkah aneh sekuriti kok tidak doyan uang gumamnya mau ditambah malah menolak.
"Kamu itu aneh, sekuriti kok tidak doyan duit, sono cepat selesaikan tugas pertamamu, setelah selesai baru kamu ke mall mengundurkan diri" titah Rendi sambil duduk didepan ruang kamar operasi.
"Baik bos, saya laksanakan sekarang" Ridwan berlari sambil menggelengkan kepalanya dan bergumam sendiri dasar bos somplak dan aneh, bisa bisanya mengancam dengan tambahan uang transferan.
Setelah Ridwan meninggalkan tempat itu Rendi menghubungi Faro dan menceritakan tentang kejadian yang baru saja terjadi, dan minta bantuan untuk menyelidiki kejadian di mall serta mencari wanita yang belum diketahui oleh Rendi identitasnya juga menghubungi ayah serta orang tua Erna yang ada di Bandung.
Dengan sedikit merayu sana sini akhirnya Ridwan berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Rendi,
"Bos semua sudah beres, ibu dan istri anda sudah ada diruang rawat inap sekarang, mari saya tunjukkan ruangannya" Ridwan memberikan laporan kepada bos barunya.
"Bagaimana dengan putraku?" tanya Rendi berjalan mengikuti Ridwan.
"Karena putra anda prematur, lahir dengan berat badan hanya 1,9 kg dan panjang 51 cm sekarang ada didalam inkubator dengan pengawasan ketat dokter anak" keterangan Ridwan dengan detail.
"Apakah ada hal yang menghawatirkan mengenai putraku" tanya Rendi lagi.
"Tidak bos, semua normal dan sehat hanya kurang berat badan saja karena lahir prematur" jawabnya singkat dan jelas.
"Good job" Rendi menepuk pundak Ridwan, hanya mengenalnya beberapa jam seakan Rendi sudah mengenal Ridwan sudah lama.
__ADS_1
"Ridwan berapa umur mu, sudah berapa tahun kamu jadi sekuriti?" tanya Rendi berjalan beriringan dengan Ridwan.
"Saya 23 tahun bos, hampir empat tahun saya bekerja di mall itu" jawab Ridwan bersamaan dengan sampai di depan ruang rawat inap yang dituju.
"Silahkan masuk bos ini kamarnya" Ridwan membukakan pintu perlahan.
Rendi memandangi dua wanita berbeda generasi itu dengan terharu dan masih memejamkan matanya.
"Sayang bangunlah" Rendi berjongkok disamping brankar tempat tidur dimana Erna belum terjaga karena masih dalam pengaruh obat bius saat operasi tadi.
Perlahan ibu yang pertama mengerjapkan matanya, menyapu sekeliling ruangan rawat inap.
"Rendi...." panggil ibu ingin bangun dari tempat tidur.
Rendi dan Ridwan berlari mendekati ibu dengan cepat.
"Jangan bangun dulu Bu, hati-hati nanti infusnya terlepas" ternyata Ridwan lebih dahulu menahan ibu dengan lembut seperti merawat ibunya sendiri.
"Nak, bagaimana dengan cucu dan menantu ku?" tanya Ibu berkaca kaca ingin menangis.
"Ibu tenang, mereka selamat Bu, sekarang ibu sudah menjadi nenek, karena bantuan dari Ridwan semua baik baik saja Bu, coba lihat menantu ibu masih belum bangun setelah operasi Caesar" Rendi menggenggam tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.
"Cucu ibu mana, ibu ingin melihatnya?" antusias ibu ingin kembali bangun segera.
"Ibu sabar, cucu ibu masih dirawat di inkubator, ibu sehat dulu baru nanti aku kesana" nasehat Rendi dan melarang ibu untuk duduk.
"Bu, apakah ibu kenal wanita yang mendorong menantu ibu di mall?" Rendi bertanya setelah melihat ibu sudah mulai tenang dan tidak bersedih.
"Sakit Bu, itu jaman dulu Bu, sekarang istriku bidadari lo, ibu tahu siapa namanya wanita yang mendorong Erna?" tanya Rendi sambil mengusap lengannya yang sakit.
"Ibu lupa namanya, nanti tanya Erna saja kalau sudah bangun" dengan pelan Rendi mengangguk, maklum saja karena ibu susah untuk mengingat nama seseorang yang baru dikenalnya.
"Bos, saya ke mall dulu untuk mengundurkan diri, setelah selesai saya akan kembali kesini lagi" bisik Ridwan di telinga Rendi.
"Ok bro, kamu bisa bawa mobil?, pakai mobilku saja biar cepat" perintah Rendi dengan mengambil kunci mobil yang ada didalam kantong jasnya.
"Bisa bos, tetapi saya tidak punya SIM A, apa anda tidak takut kalau saya bawa kabur mobil anda?, saya naik taksi online saja, lagian di mall ada motor saya nanti setelah selesai saya akan membawa motor kesini" celoteh Ridwan dengan tersenyum defil.
"Gampang, jika kamu membawa lari mobil saya, akan saya tambah transferan ke rekening mu, dengan begitu kamu pasti akan kembali mencari saya" Rendi tertawa lepas melihat tingkah Ridwan yang lucu.
"Dasar bos gila, menganggap uang seperti kerupuk saja" gerutu Ridwan dengan lirih tetapi masih terdengar oleh Rendi.
"Ridwan saya mendengar ucapan kamu ya" dengan suara sedikit meninggi.
"Sorry bos, saya pamit dulu, ibu saya permisi pulang" dengan mencium punggung tangan ibu dan menepuk punggung Rendi, Ridwan keluar kamar rawat inap dengan geleng geleng kepala.
Sedikit demi sedikit mata Erna mengerjap, mencari orang yang ada di sekitarnya dan meraba perutnya, perlahan merasa ada nyeri di perut perlahan menangis tersedu-sedu.
"Bang...putraku...mana putraku, ibu hiks hiks hiks" Erna mulai menangis dan takut kehilangan putranya.
Rendi menghampiri istrinya dengan menggenggam tangannya dengan erat.
__ADS_1
"Sayang dengar Abang, putra kita selamat dan sehat, sekarang ada di ruang bayi, jangan khawatir" dengan menciumi seluruh wajah Erna dengan cepat.
"Berarti aku sudah menjadi mommy dan Abang menjadi Daddy" Erna dengan tersenyum tetapi masih mengeluarkan air matanya.
"Iya kita sudah menjadi orang tua sekarang, terima kasih sayang, demi mengandung putraku, kau harus berjuang sangat berat, terima kasih banyak, I love you so much" berulang kali Rendi menciumi seluruh wajah Erna dengan gemas.
"Bagaimana dengan ibu, dimana ibu Bang, aku juga ingin melihat putra kita Bang, boleh ya?" baru ingat Erna dengan ibu yang tadi mengantarnya ke mall.
"Ibu disini nak, jangan khawatir" lirih ibu sambil melambaikan tangan yang tidak dipasang infus.
"Ibu kenapa di infus?" Erna mencoba ingin bangun dan memeriksa keadaan ibu.
Dengan cepat Rendi menahan Erna dengan memeluk dan memegang pundaknya.
"Jangan bangun dulu, ingat habis operasi Caesar, ibu tadi terlalu tinggi tensinya makanya di infus, sekarang sudah baikan" Erna kembali menangis karena ibu jadi ikut dirawat gara-gara wanita tidak jelas yang ketemu di mall tadi.
Setelah Rendi menceritakan keadaan putranya yang masih di inkubator dan ibu yang pingsan setelah melihat Erna mengalami pecah ketuban saat sampai di rumah sakit, Rendi baru mengingat wanita yang dibilang nenek sihir oleh ibunya.
"Sayang, siapa sebenarnya yang tega mendorongmu sampai kamu harus melahirkan prematur, kata ibu teman kita kuliah?" tanya Rendi dengan menahan amarahnya.
"Sari Sagita, mantan Abang kalau tidak salah" dengan cemberut Erna menyebut nama itu dan mengingat waktu kuliah suaminya itu sering bergonta-ganti pacar.
"Eleh...eleh Istri Abang kalau cemburu malah tambah cantik" rayu Rendi mentowel hidung Erna dengan tersenyum.
Bersamaan datang Faro dan Mario pulang kerja langsung ke rumah sakit tanpa berganti baju, melihat Rendi yang sedang merayu istrinya.
"Bro, jangan mesum di rumah sakit, ingat harus puasa" cabik Mario sambil mendekati ibu meraih dan mencium punggung tangannya bergantian dengan Faro.
Kembali Rendi menceritakan tentang kejadian yang baru menimpa Erna dan nama yang telah mendorongnya serta sekuriti yang membantu sampai Erna dan bayinya selamat, dan telah di angkatnya menjadi asisten pribadi.
"Dimana sekuriti itu sekarang, kenapa tidak kelihatan?" tanya Faro menyapu seluruh ruangan tetapi tidak melihat sosok laki-laki yang telah membuatnya tertarik untuk mengenalnya.
"Dia gue suruh mengundurkan diri dari mall HS, paling sebentar lagi juga kesini dia" jawab Rendi cepat.
Pintu terbuka masuk hampir bersamaan bapaknya Rendi dan Ridwan masuk keruang rawat inap, bapak langsung mendekati Ibu bergantian mendekati Erna bersalaman dengan Mario dan Faro.
Tetapi Ridwan hanya terpaku melihat dua orang laki-laki memakai jas, dengan penampilan yang maskulin, wajah tampan, kekar dan sangat berwibawa.
"Wan, ngapain berdiri disitu, bagaimana sudah selesai urusannya dengan mall HS?" panggil Rendi dengan melambaikan tangannya.
"Iya sudah bos, itu wanita yang mendorong istri bos sekarang masih di kantor polisi, harus diapakan dia?" Ridwan melaporkan kejadian tersebut dan meminta apa yang harus di kerjakan lagi.
______________________
like vote dan komentar
serta hadiahnya jangan lupa
jaga kesehatan shobat semua
taati protokol kesehatan
__ADS_1
terima kasih