Dia Kakakku Bukan Ibuku

Dia Kakakku Bukan Ibuku
86. Undangan dari Malaysia


__ADS_3

Sepulang dari Bali Ara trauma jika masuk kamar Mario, dia sering pingsan berkali kali, akhirnya Mario memutuskan untuk membeli rumah di daerah tidak jauh dari restauran milik Ara, dan mengajak bapak untuk pindah juga, rumah yang lama di kontrakan.


Tanpa terasa kehamilan Inneke memasuki bulan keempat, seiring bertambahnya usia kandungan Inneke sudah mulai terlihat buncit, kebiasaan makan ikan tetap Inneke lakukan sampai sekarang hanya saja rasa kantuk tiap pagi sudah mulai berkurang.


Mario membuktikan jika dia akan tancap gas, karena sebelum menikah sering di bully oleh kedua sahabatnya sekarang Ara juga sudah hamil dua bulan, jadi hanya berbeda dua bulan depan Inneke.


Lebih parahnya lagi yang mengalami ngidam bukannya Ara melainkan Mario, setiap pagi harus mengalami muntah sampai keluar cairan putih dari mulut Mario, sedangkan Ara tidak mengalami gejala apapun.


Seperti hari ini saat Rendi berkunjung ke kantor Faro sore hari bertiga bercanda ria saling meledek dan berbicara tentang hal yang sedikit fulgar seperti biasa apalagi Mario yang sedang ngidam, sehingga menjadi bulan bulanan kedua sahabatnya.


"Pusing banget kepala gue gara-gara lo berdua, gue juga ogah kalau di tawari mau ngidam atau tidak, ini bukan kemauan gue" kesal Mario selalu di ledek oleh kedua sahabatnya.


"Tidak usah sewot bumil, sabar aja" ledek Rendi dengan tertawa lepas.


"Gue doain Erna hamil tetapi elo yang akan lebih parah ngidamnya" cabik Mario lebih kesal lagi.


"Lebih baik ayo kita cari makan lapar gue siang tadi belum sempat makan, gara-gara rapat mendadak" ajak Rendi penuh harap.


"Makan apa, gue muntah kalau bau bawang, masakan apa yang tidak pakai bawang?" tanya Mario tambah kesal lagi, diikuti tertawa lepas lagi oleh Faro dan Rendi.


"Sekarang elo pingin apa, anggap aja kita lagi nurutin kemauan ibu hamil biar anaknya tidak ileran?" Faro berkata dengan serius tidak tega karena diledek terus.


Mario mengerutkan keningnya sudah dua hari yang lalu dia ingin rujak bebek yang ada di taman dekat kediaman Ken (bukan bebek binatang ya, maksudnya rujak yang di tumbuk semua buah-buahan nya, rujak khas dari Jawa barat)


"Baiklah kita ke taman dekat rumah bos besar, ada rujak bebek disana, gue pingin makan itu sekarang" ajak Mario dengan antusias membayangkan enaknya rujak yang pedas dan asam membuat liur rasanya mau menetes.


Disinilah akhirnya ketiga sahabat itu nongkrong, memenuhi keinginan seorang Mario yang sedang ngidam, tetapi di sebelah pedagang rujak itu ada tukang Laksa Betawi, ternyata gantian liur Faro yang sekarang hampir menetes.


"Bro, sebentar gue mau makan itu sepertinya enak sekali" cabik Faro duduk di kedai Laksa Betawi.


"Gue juga mau, siapa tahu bini gue nusul hamil juga, sepertinya enak banget" Rendi juga berbinar melihat lontong berkuah yang berwarna kuning kemerahan.


Sungguh lucu membayangkan tiga sahabat yang sedang memenuhi keinginan ngidam padahal badan dan ototnya kekar terlihat nyata.


Setelah satu bulan dengan kejadian itu, Mario dan Faro mendapatkan kabar bahwa Erna juga hamil, dan seperti doa dari Mario, Rendi lebih parah dari Mario sekarang, Rendi yang sekarang adalah Rendi yang setiap pagi muntah, Rendi yang cengeng dan mudah menangis jika hatinya tersentuh sedikit saja.


Saling mendukung, saling mencarikan keinginan satu sama lain tentang keinginan ngidamnya, membuat semakin kompak ketiga sahabat itu dalam kesehariannya.


Hari ini akhir pekan usia kandungan Inneke memasuki bulan keenam rencana Faro hanya tengah hari ke kantor, sedangkan intelejen tidak ada kasus yang berat, sehingga bisa pulang tengah hari berkumpul dengan istri tercintanya.


Saat baru masuk parkiran ada tukang pos datang memberikan amplop yang lumayan besar dengan perangko bertuliskan Malaysia dengan jelas.


"Surat untuk siapa pak?" tanya sekuriti saat berhadapan dengan tukang pos itu.


"Ini untuk Inneke Farissa pak, mohon tanda tangan disini" pinta tukang pos dan berpamitan pulang dengan ramah.

__ADS_1


"Surat dari mana pak?" tanya Faro penasaran setelah mendengar surat itu untuk istrinya.


"Tidak tahu bos, ini perangkonya ada tulisan Malaysia" balas sekuriti itu mengulurkan tangannya memberikan kepada bosnya.


Dibaca belakang surat itu tertulis nama Ahmad Budiansyah dan Hasanah Basri, nama yang asing bagi Faro karena memang Inneke jarang bercerita tentang teman-temannya kecuali Erna.


"Sayang ini ada surat dari Malaysia, siapa ini Ahmad Budiansyah?" Faro sedikit menyelidik.


"Aku tidak punya teman dengan nama itu sayang" cabik Inneke santai saja.


"Kalau Hasanah Basri kenal?" penasaran Faro lagi.


"Oooo itu panggilannya Sanah teman kerja aku di Malaysia dulu Bang" cerita Inneke bahagia mengingat teman seperjuangan saat di Malaysia.


Inneke jadi mengingat seorang Sanah, gadis ceria yang selalu bisa membuatnya tertawa jika dia mengingat perjodohan waktu dulu yang selalu menyiksa hatinya, dulu sebelum berpisah Sanah berjanji jika dia menikah akan mengirimkan undangan pernikahan dengan syarat Inneke harus datang dengan pasangannya.


"Cepat buka Bang!" perintah Inneke antusias dengan senyum yang mengembang. surat itu, ternyata undangan pernikahan yang akan berlangsung satu Minggu lagi.


"Sayang paket honeymoon kita ke Malaysia masih berlaku kan, aku mau kesana boleh ya, aku mau babymoon sekalian?" rayu Inneke bergelayut manja, dan mengedipkan matanya.


"Babymoon, kenapa harus ke Malaysia, jauh banget?" Faro jadi khawatir jika hamil harus naik pesawat.


Sampai selesai mandi sore dan bersantai di ruang keluarga, bibi Jum sedang massage kaki Inneke agar tidak bengkak, Inneke masih merengek ingin menghadiri acara pernikahan temannya yang asli gadis Melayu Malaysia.


"Buat janji Bang sekarang, aku sudah tidak sabar lagi" titah Inneke antusias senyum yang mengembang sempurna.


"Iya sabar, ini masih lihat jadwal dokter Rianti" Faro membuka handphone melihat jadwal praktek dokter itu melalui media sosial.


"Neng Keke, bibi kok bingung apa maksudnya babymoon itu?" tanya bibi Jum pemasaran.


Inneke tersenyum mendengar pertanyaan dari bibi yang lugu, walaupun hampir seluruh hidupnya tinggal di kota tetapi bibi Jum tetaplah orang sederhana dari desa yang mengabdikan hidupnya untuk keluarga Ken.


"Itu bibi, liburan berdua persiapan sebelum lahirnya bayi kedunia, menghabiskan waktu berdua jalan jalan, senang senang sehingga ibu dan bayinya merasa rileks dan bahagia" cerita Inneke dengan hati yang bahagia.


"Sayang, nanti hari Senin pagi kita ke rumah sakit, konsultasi dengan dokter Rianti" setelah Faro berhasil membuat janji dengan dokter itu melalui asistennya dengan online.


"Iya Abang memang the best" jempol Inneke mengarah ke Faro yang duduk di sofa sedangkan Inneke masih rebahan di Hambal meluruskan kakinya di massage oleh bibi Jum dengan telaten.


Hari Minggu setelah bangun tidur pagi Inneke mengajak Faro ke mall berniat untuk membelikan kado untuk hari pernikahan temannya Sanah Minggu depan.


"Mau beli kado apa sayang untuk Sanah?" tanya Faro saat sudah masuk diarea mall lantai dasar.


Bukannya menjawab mata Inneke berbinar sempurna melihat restauran kecil yang ada didepannya dengan menu kepiting lada hitam dan kerang hijau dengan saus Padang.


"Bang, nanti cari kadonya, aku mau itu" tunjuk Inneke kearah menu makanan yang sangat menggugah selera.

__ADS_1


"Apapun maumu sayang, ayo kita masuk" Faro menggandeng Inneke masuk restauran yang belum banyak pengunjungnya karena belum waktunya makan siang waktu menunjukkan pukul sebelas siang.


Memesan dua porsi kepiting lada hitam, dua porsi kerang hijau saus Padang, satu porsi cumi goreng, satu nasi putih dan dua jus mangga, Inneke sangat bahagia menikmati hidangan itu, Inneke tidak menyentuh nasi sedikitpun, sehingga Faro yang makan nasi dengan setengah porsi kepiting lada hitam dan cumi goreng, sisanya Inneke yang menghabiskan.


"Enaaaak banget Bang, puas rasanya makan aku hari ini" cabik Inneke setelah cuci tangan dengan bersih.


"Mau nambah lagi?" Faro menawarkan menu lagi, Inneke hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis.


Melanjutkan tujuannya semula Inneke mengajak Faro masuk ke toko yang menjual berbagai jenis baju gamis modern, karena Sanah adalah gadis berhijab dengan tampilan modern, sehingga Inneke berniat membelikan beberapa model baju kesukaan Sanah.


Saat berniat ingin pulang kerumah, ada panggilan jenderal Hendro untuk segera datang ke markas intelejen karena ada kabar yang menyangkut keluarga besarnya, akhirnya Faro mengajak Inneke langsung ke markas karena memang sudah beberapa kali semenjak hamil Inneke ingin melihat dan berkunjung langsung Markas intelejen itu.


Semenjak hamil memang Inneke sangat terobsesi dengan film yang berbau detektif, petualang, spy film dan laga, saat Faro mengajak Inneke ke markas betapa bahagianya dia, sudah membayangkan bagaimana alat canggih untuk menyelidiki suatu kasus.


Sampai di markas itu ternyata hanya ada tiga orang saja, yaitu jenderal Hendro, Pak Kumis dan Uda Padang.


"Bang boleh aku berkeliling melihat Markas?" tanya Inneke penuh harap.


"Tentu sayang, Uda bisa tolong ajak istri berkeliling sebentar?" pinta Faro kepada Uda Padang.


"Dengan senang hati, siapa yang bisa menolak jika yang diajak keliling kinyis-kinyis begini" rayu Uda dengan mengedipkan matanya kearah Faro.


"Jangan macam-macam Uda, istri lagi nunggu di rumah" cabik Faro cengar-cengir.


"Bilang aja cemburu" Uda Padang melempar pensil kearah Faro.


Setelah Inneke masuk Markas bersama Uda Padang, jenderal Hendro menyodorkan map coklat, bergegas membaca laporan itu, sudah diketahui identitas dari salah satu orang yang menculik uminya dulu dengan nama Andrew Hidayat berasal dari Malaysia, dia adalah ketua mafia cabang Malaysia tetapi sayangnya setelah terjadi kecelakaan di Singapura Andrew Hidayat mengalami amnesia permanen dan sekarang seperti anak berumur sepuluh tahun.


"Apakah sekarang dia tidak bisa di adili oleh pengadilan jenderal?" tanya Faro pura-pura tidak tahu kabar dari Andrew Hidayat.


"Tidak bisa Bang, anggap saja Allah sudah menghukumnya Sebelum pengadilan menjatuhkan hukuman padanya" jawab jenderal Hendro tegas.


Walaupun sebenarnya Faro yang menyebabkan terjadinya amnesia permanen Andrew Hidayat tetapi rahasia itu tetap tidak diketahui oleh pihak intelijen terutama jenderal Hendro, memang sengaja untuk kebaikan dan keselamatan seluruh keluarga.


,_________________


mohon like vote dan komentar


serta hadiahnya


jangan lupa untuk semangat


author menulis.


terima kasih dan sehat selalu.

__ADS_1


__ADS_2