
Saat Ramos Sandara duduk termenung di rumah petak berada di gang Nangka Cimanggis Depok yang di sewa dua bulan lalu menahan kantuk menunggu kabar dari anak buahnya, tiba-tiba masuk laki-laki angkuh tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apakah kali ini sukses?" tanya Ramos kepada orang yang baru masuk di kamarnya pada malam itu dengan bertolak pinggang.
"Ya, wanita itu ada di kamar depan, lagi pingsan dia, tinggal kamu melanjutkan rencana selanjutnya, tetapi belikan tiket pesawat dulu, aku mau pulang hari ini" jawabnya ketus.
"Mengapa harus buru-buru?" tanya Ramos Sandara lagi.
"Gara-gara anak buah kamu yang tidak becus aku tertahan di negara ini hampir setengah tahun, sekarang sudah aku selesaikan tugasku, cepat belikan tiket sekarang" jawab laki-laki naik pitam.
"Sebentar gue hubungi dulu bos besar, sekalian mengabarkan jika kita sudah berhasil menculik istrinya pengusaha itu" penjelasan Ramos Sandara.
"Cepat...aku sudah bosan disini" balasnya lagi.
Ramos Sandara menghubungi bos besarnya yang ada di markas besar di Thailand yaitu Theo Thanapon, menceritakan jika rencana penculikan sudah berhasil, sekarang tinggal mengintrogasi target yang sudah di tempat awal rencana.
Ramos juga meminta ijin jika Andrew Hidayat akan pulang ke Malaysia sekarang juga, karena hukumannya sudah berakhir setelah berhasil menculik istri dari pengusaha Kenzie Wiguna.
Setelah diberikan ijin oleh Theo Thanapon, Ramos membelikan tiket pesawat dengan penerbangan pagi hari ini melalui online, dan memberikan bukti tiket melalui handphone.
Sedangkan Ramos Sandara kembali termenung memikirkan tingkah laku laki-laki yang baru saja berinteraksi dengannya bernama Andrew Hidayat itu.
Andrew Hidayat adalah seorang laki-laki keturunan ibu berasal dari Inggris dan ayahnya berasal dari Malaysia, berumur tiga puluh tahun, memiliki kemampuan menebak yang sangat handal, seorang juara penembak tingkat internasional saat dia remaja, hampir lima tahun didik oleh Theo Thanapon untuk bisa membidik sasaran persis seperti yang Faro lakukan.
Wajah Andrew gagah, muka oriental blasteran Inggris Melayu terlihat tampan penampilannya tetapi tidak berbanding lurus dengan sikap dan melakukan, bengis, kejam, tanpa mengenal belas kasih.
Andrew menjadi ketua kelompok Theo Thanapon di wilayah Malaysia, tetapi Andrew adalah orang yang sifatnya hampir seperti Ramos Sandara ceroboh dan mudah marah, karena kesalahannya yaitu penyelundupan narkoba sebesar dua puluh kilogram tertangkap kepolisian raja Malaysia, akhirnya dia di hukum oleh Theo untuk menyelesaikan tugas Ramos Sandara yang gagal menculik anak dari Kenzie Wiguna yaitu Fia.
Tidak mudah Ramos Sandara harus melayani segala permintaan Andrew yang sedikit gila, jika tidak di turuti dia sering naik darah, setiap Minggu harus menyediakan seorang wanita penghibur untuk melayaninya, harus membelikan minuman beralkohol, menyediakan narkoba dan masih banyak lagi permintaan yang harus dipenuhinya, karena itu adalah perintah dari bos besar.
Andrew Hidayat juga yang menembak dua preman yang menyerang Fia waktu itu, karena tidak becus menjalankan tugas, Andrew juga yang telah membunuh pengacara gaek mantan pengacara Baron Pranoto karena perintah dari Theo Thanapon.
"Hey... melamun aja, antar aku ke markas untuk mengambil baju baru ke bandara internasional Soekarno Hatta sekarang" perintah Andrew.
"Baiklah.... dasar bule kampret, memerintah tidak tahu waktu, ayo cepat!" teriak Ramos tidak kalah tinggi nada bicaranya.
Ramos Sandara dengan gontai berjalan keluar kamar menemui anak buahnya dan melihat wanita yang sudah diculiknya.
"Bos, lihatlah kita berhasil" celetuk salah satu anak buah itu.
Ramos memandangi wanita yang berwajah cantik dan anggun tetapi dengan muka yang pucat, terikat tangan dan kakinya dengan lakban, meringkuk di tempat tidur dipan tanpa bergerak sedikitpun.
__ADS_1
"Kenapa dia posisinya seperti itu?" tanya Ramos Sandara penasaran.
"Dia pingsan bos, di pukul tengkuknya sama si botak" jawab anak buahnya lagi.
"Kalau wanita itu terbangun cepat interogasi, pagi ini kita harus sudah melaporkan kepada bos besar, gue mau anter bule kampret dulu ke bandara!" titah Ramos keluar dari rumah petak menyusuri jalan setapak pinggir kuburan sampai mobil yang ada di jalan.
Imma yang sedari tadi sebetulnya sudah sadar dari pingsannya mendengar semua ucapan yang di panggil bos dan ketiga anak buahnya.
Mata Imma sedikit di buka dan melirik ke tiga laki-laki yang ada di depannya, sontak di kaget dengan penampilan mereka setelah tidak memakai masker dan topi seperti pertama saat mereka menghadang mobil saat di jalan raya itu.
Seragam hitam-hitam yang di kenakan mereka seketika mengingat masa lalu saat dia di kejar oleh dua orang bodyguard Tomy Sanjaya ketika mereka bersembunyi dan pindah dari kampung ke Jakarta bersama Ibu lestari dan bibi Sumi.
Spontan badannya menggigil panas dingin, keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhnya, kilatan bayangan itu seperti berputar kembali dengan jelas.
"Hey... sepertinya dia sudah sadar" cicit si botak.
Langsung dibuka ikatan tangan dan kaki Imma, serta di tarik paksa melorot jatuh dari dipan itu, gigi Imma seperti mengerat, mata terpejam tangan digenggam di depan dada mencoba duduk langsung memegang lututnya.
"Ibu.... tolong Imma, bibi...kau dimana, mereka ada tiga Bu, mereka menangkap Imma Bu" rancu Imma sambil menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
"Bu..Bu...lihat sini..." bentak salah satu dari mereka.
"Ibu tahu siapa mereka kan?" tanya si botak dengan menunjukkan foto ukuran 2R yang ada Ken, Sandi dan Faro saat masih kecil sambil menarik rambut Imma agar bisa melihat foto itu.
"Heeeeey... Bu.... lihat foto ini..." perintah si botak lagi.
"Bi.... Bi..... Ibu.... ibu tolong" Imma memanggil suami dan ibunya dengan lirih.
"Botak, sepertinya dia tidak waras, dengar omongannya, tidak nyambung" kata salah satu dari mereka.
"Imma semakin menggigil panas dingin, ketakutan, mundur masuk di bawah kolong dipan, dengan kasar di tarik oleh si botak membuat Imma pingsan seketika.
"Pingsan lagi dia, ayo kita angkat ke depan lagi". titah si botak.
"Kita tunggu di luar saja sambil ngopi dulu" kata salah satu dari mereka keluar kamar duduk lesehan di ruang tamu sambil membuat kopi bersama.
Sementara waktu hampir menjelang pagi, jenderal Hendro dan gabungan Polsek Cibinong dan Cimanggis sudah mengepung rumah petak itu, lampu sekitar rumah petak sudah di matikan.
Sebelum penggerebekan di lakukan mereka menyusun strategi, polisi dengan peralatan lengkap di barisan depan dibagi dari depan rumah dan belakang rumah, sedangkan anggota jenderal Hendro hanya diminta di belakang mereka, karena ini adalah wewenang kepolisian, sedangkan badan intelijen hanya membantu.
Saat mereka selesai menyusun strategi, bergegas Faro mengirim pesan WA kepada Sandi.
__ADS_1
"Om Sandi, tunggu di jalan depan gang Nangka, tunggu ambulance keluar dari gang dan rombongan polisi, jangan lupa ikuti kemanapun nanti ambulance itu berjalan" setelah Faro menulis pesan diam-diam kembali dimasukkan handphone itu kedalam kantong.
Saat mulai meringsek masuk ke teras rumah petak itu, ketiga anak buah Ramos Sandara sudah berada didalam kamar Imma, karena dia sudah sadar dari pingsannya.
Tetapi Imma semakin merancu tidak jelas, karena kilatan bayangan masa lalu yang membuatnya depresi saat remaja seperti terulang lagi saat ini dalam pikirannya, dua bodyguard Tomy Sanjaya seolah-olah tengah menangkapnya dan merebut adiknya yang masih dalam kandungan ibunya.
"Jangan... jangan ambil dia....dia adikku" rancu Imma semakin tidak jelas.
"Dasar wanita gila" gerutu si botak putus asa, sambil menendang dipan itu dengan keras.
Imma jadi kaget, meringsek minggir mendekati dinding yang terbuat triplek, sehingga membuat dinding itu ikut bergetar karena tubuh Imma yang panas dingin menggigil.
"Aaaaaaa ja...ngan... bibi Sumi tolong".
Bersamaan Imma berteriak pintu dengan di dobrak oleh polisi dari depan dan belakang bersamaan.
Anak buah Ramos Sandara langsung mengeluarkan pistol rakitan dari balik bajunya mengintip keluar pintu kamar tetapi polisi sudah sampai di depan pintu kamar.
"Doooor" di botak melepaskan tembakan kepada salah satu anggota polisi meleset mengenai pinggangnya.
"Dor...dor...dor"
Polisi itu terpaksa menembak ketiga orang laki-laki yang memegang senjata itu, di botak tewas seketika karena peluru terkena perut bagian bawah, sedang kedua temannya terduduk memegangi kakinya karena peluru tembus di betisnya.
"A...hiks....ibu....bibi...hiks" rintih Imma semakin melemah, tangisan itu begitu memilukan di telinga Faro, sehingga membuat Faro menerobos anggota polisi itu tanpa memperdulikan teriakan mereka untuk tidak masuk kedalam kamar karena takut masih ada anak buah Ramos Sandara yang masih siaga menegang senjata.
"Umi...umi....umi.. hiks...hiks" Faro langsung naik di tempat tidur meraih tubuh Imma yang bergetar dan memeluknya dengan erat.
"Jangan ambil adikku... jangan.." Imma masih merancu mengingat masa lalu yang seolah baru dialaminya.
Hati Faro seperti di iris-iris sembilu karena mendengar rancuan itu karena dia tahu betul siapa yang di maksud adik oleh Imma, tentunya dirinya sendiri, perjuangannya memang begitu berat bagi kakak sekaligus uminya itu.
"Mi..ini Faro mi, Abang tidak di ambil oleh mereka, lihat Abang...umi hiks..hiks.." Faro mengusap pipi Imma lembut dan memandangi wajah Imma yang pucat pasi.
Saat Imma melihat wajah Faro dengan linangan air mata, Imma langsung seketika pingsan dalam dekapan Faro.
"Jenderal ambulance mana?" teriak Faro sambil turun dari dipan itu menggendong Imma dengan bridal berlari keluar rumah petak itu menuju ambulance yang sudah standby di jalan yang berada di samping kuburan.
Faro sudah tidak perduli polisi yang sedang sibuk dengan tersangka, berlari menyusuri jalan setapak menuju jalan raya ke arah ambulance yang sudah standby dan diikuti oleh jenderal Hendro dari belakang.
Langsung naik ke dalam ambulance duduk, memeluk uminya dengan erat tanpa di baringkan di brankar tempat tidur yang ada di depannya, berteriak kepada sopir untuk cepat berangkat menuju rumah sakit.
__ADS_1
Ambulance langsung berjalan melesat dengan suara sirine yang sangat kencang meninggalkan tempat itu, didalam ambulance itu Faro tetap memeluk Imma dengan erat, dan Jenderal Hendro ikut duduk di samping Faro dengan sangat khawatir.