Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Jodoh dari Hongkong


__ADS_3

Azam kini telah resmi menjadi salah satu guru IPA KIMIA. Mendengar kabar tersebut Nuri merasa senang karena dia bisa melihat kedua kakaknya, tapi dalam relung hatinya ia sedih sebab jauh di kampung halaman sana kedua orang tuanya hanya tinggal berdua. Tak terasa buliran bening membasahi pipi mulus gadis itu.


“Hei, kamu nangis?” Tika yang berada di samping Nuri tak percaya. Baru kali ini ia melihat sosok Nuri menangis begitu juga dengan Ratna Dan Galih.


“Kamu kenapa Nur? Kamu sakit?” Ratna panik karena Nuri telah sesenggukan. Namun yang di tanya hanya diam saja membuat ketiga sahabatnya merasa bingung.


“Lho, mbak Nuri kenapa?” Bu Nisa yang tak sengaja melihat Nuri menangis segera memghampiri.


“Saya gak papa kok buk, Cuma rindu sama bapak dan ibu karena mas –.” Nuri menggantung ucapannya.


Bu Nisa yang mengerti akan ucapan Nuri berusaha menenangka. “Ibu dengar kemarin Mas- , Masnya mbak Nuri kan ngasih Handphone, kenapa gak Vidio Call aja sama bapak dan ibu di sana?”


Nuri segera menghapus bekas air matanya, membenarkan ucapan Bu Nisa. Kenapa ia tak perpikir sampai sana?


Atas saran bu Nisa, Nuri di bawa ke ruangannya.


Terlihat Bu Nisa sedang mengetik pesan, ia mengirim pesan kepada Adam agar datang ke ruanganya.


Dengan rasa penuh penasaran Adam di dampingi Azam pun segera meluncur ke asrama putri.


“Assalamualaikum.” Adam dan Azam serentak mengucapkan salam. Pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Nuri yang murung. Mereka mengira adiknya sakit.


“Waalaikumsalam.” Bukan Bu Nisa, tapi pak Dzaki menjawab salam kedua pemuda itu.


Azam segera memberondong berbagai pertanyaan kepada Nuri. Sedangkan Adam berbincang dengan pak Dzaki dan Bu Nisa.


“Aduh dek, kamu kan bisa telpon atau VC kalo rindu. Mana nih Nuri yang dulu,” ejek Azam.

__ADS_1


“Mas, Nuri yang sekarang bukan Nuri yang dulu lagi. Gak lihat apa kalo Nuri udah udah fasih mengaji,” rajuknya.


Pak Dzaki dan bu Nisa hanya geleng geleng. Sementara Azam malah tertawa.


Ketiga bersaudara itu kini tengah asik menelpon kedua orng tuanya melalui vidio call. Raut wajah bu Aisyah terlihat berseri saat melihat ketiga anaknya dari layar ponsel.


Sementara Bapak Nuri pun ikut tersenyum bahagia. Baru beberapa minggu yang lalu mereka bertemu saat acara wisuda namun rasa rindu Nuri untuk kedua orang tuanya selalu menghantuinya.


“Bapak, ibu. Nuri selalu merindukan kalian.” Ucapan Nuri sebelum mengakhiri telepon.


🍁🍁


Ini adalah pertama kali Azam mengajar di kelas Nuri. Saat memasuki kelas, pertama yang ia cari adalah keberadaan adiknya. Duduk di tengah menggunakan jilbab putih sedang berbincang dengan teman sebangkunya , itulah Nuri.


Setelah Azam memperkenalkan diri, ia pun mulai menerangkan materinya.


Sesekali Azam melirik Nuri yang begitu khusyuk mendengarkannya.


Ditengah tengah kegiatan Nuri menulis ia mendengar beberapa bisikan dari para temannya.


“Kalau gak salah itu adiknya pak Adam, tapi beda banget ya?”


“Pak Azam lebih bersahabat, murah senyum.”


“Iyalah pak Azam kan jodohnya Syifa.” Suara yang membuat Nuri muak.


Seketika Nuri menahan nafasnya.

__ADS_1


Jodoh dari Hongkong? Najis punya kakak ipar elu mas Azam yang kaya oppa Hyun kagak mungkin mau sama kecebong model elu. Batin Nuri.


Selama pelajaran Azam sesekali melempar candaan kepada para siswa tujuanya agar mereka tidak terlalu bosan dan agar dirinya lebih dekat dengan para siswa, sebab mata pelajarannya memang sangat membosankan karena harus menghitung rumus rumus seperti pelajaran matematika.


“Pak, kalau bapak gurunya, lama lama saya bisa kena diabetes lo,” canda salah seorang siswa. Azam hanya terkekeh mendengarnya.


Hih, najis. Batin Nuri.


“Dasar ganjen, malu maluin anak pondok aja tuh anak,” decak Galih


“Nama sama sifatnya jauh beda,” gumam Nuri.


Beberapa siswa sebagian telah membubarkan diri ke kantin. Sementara Nuri dan Tika masih enggan berdiri karena Nuri mengatakan bahwa dirinya ngantuk berat. Tika merasa kasihan pun memilih menemani Nuri di kelas. Tika pun menyuruh Ratna dan Galih membelikan bakso pedas agar mata Nuri bisa melek.


“Kenapa dengan Nuri.” Azam bertanya pada Tika.


“Dia ngantuk pak, tadi malam tidur larut karena nanti sore jadwalnya menyetorkan hafalan,” jelas Tika.


Dalam hati Tika bertanya tanya kenapa pak Azam bisa tahu nama Nuri padahal tadi tak ada sesi perkenalan dari siswa, pak Azam hanya mengabsen berdasarkan buku absen saja.


“Dasar, bocah.”


“Jangan biarkan dia tertidur, dia itu kayak kebo!” perintah Azam


Tika hanya mengangguk, dari mana ia tahu bahwa Nuri itu kalau tidur kayak kebo.


Bersambung. .

__ADS_1


Harap tinggalkan Jejak. Like dan komentar kalian adalah semangat Author untuk menulis.


Jadi please dukung Author ya 😘


__ADS_2