Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Siapa Dia?


__ADS_3

Nuri hanya diam mendengarkan setiap kata yang terucap oleh ibunya karena dirinya memang bersalah. Maaf, itulah yang bisa Nuru ucapkan.


"Jangan ngeluyur lagi, bantu ibu masak!" titah Bu Aisyah saat Nuri meninggalkan dapur.


"Iya ibu," ucap Nuri manis.


Nuri sudah pastikan bahwa tamu yang akan berkunjung ke rumahnya adalah tamu istimewa, sebab ibunya terlihat sangat antusias menyiapkan perjamuannya.


"Nduk, gimana sekolah kamu di sana?"


"Alhamdulillah Bu, Nur betah di sana. Semuanya baik sama Nuri. Apalagi sekarang mas Azam juga ada di sana," celoteh Nuri.


Sang ibu memandangi wajah Nuri saat ia menceritakan berbagai macam keadaan di asrama. Dapat di pastikan Nuri bahagia di sana.


"Kalau pak Agung gimana?" tanya Bu Aisyah.


mendadak jantung Nuri berdesir mendengar nama tersebut. Wajahnya pun telah berubah lesu.


"Dia baik kan sama kamu?"


"Siapa bilang?" protes Nuri.


"Ibu tahu sendiri," pungkas ibunya.


Nuri merasa kesal sebab ibunya terus saja membela Agung yang sudah jelas mendapat predikat guru galak seantero.


Ia memilih merutuki guru menyebalkan itu dalam hatinya saja. Percuma ia mengadu pada ibunya, toh ia tak akan percaya.


"Ingat pesan ibu, saat tamu ibu datang nanti kamu harus sopan. Pakai baju ini!" Nuri menerima paper bag sebelum ia meninggalkan dapur.


"Iya ibu." Semanis mungkin Nuri berucap.


Dalam hati Nuri merasa senang saat melihat gamis pemberian ibunya. "Subhanallah, pasti mahal," gumamnya saat mencoba gamis tersebut.


Nuri semakin penasaran kepada tamu sang ibu.


Nuri terheran saat mendapati Adam dan Azam terlihat kompak dalam mengunakan pakaian.


"Sejak kapan ada Upin dan Ipin," sindirnya saat melihat kedua kakaknya tengah menikmati acara televisi.


"Masha Allah nduk, cantiknya," gumam Bu Aisah

__ADS_1


saat netranya menangkap sosok Nuri telah duduk di samping Adam dan Azam. Nuri hanya tersenyum malu. Mungkin karena pemberian dari ibunya sehingga ia di puji, toh semenjak dari tadi Adam dan Azam tak ada mengomentari dirinya.


"Mana Bapak Bu,?" tanya Nuri. Bu Aisyah masih sibuk menyusun kue ke dalam toples. "Bentar lagi juga nongol," jawabnya santai.


"Ingat, kamu harus sopan. Jangan memalukan keluarga kita." Terdengar seperti ada yang sedang di rencanakan oleh keluarganya.


"Bu, sudahlah," tegur Adam.


Nuri semakin penasaran.


"Sebenernya siapa sih tamunya, kayaknya sangat terhormat dan sangat istimewa," tanya Nuri penasaran.


"Udah nanti juga tahu," jawab Azam cepat.


Saat Pak Ali keluar dari kamarnya seketika terdengar sebuah deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah mereka.


Tak lama suara salam terdengar. Pak Ali dan Bu Aisyah bergegas menuju keluar. Begitu juga Adam dan Azam segera bangkit dari ruang televisi.


"Ayo," ajak Adam pada Nuri.


"Bersiaplah," sambung Azam.


Terdengar disana bapak dan ibunya begitu akrab dengan tamunya. Bisa di pastikan mereka adalah sepasang teman lama orang tuanya sebab, mereka seperantara.


Nuri pun menghampiri tamu dan menyalami tangan mereka, seperti pesan ibunya tadi


"Nduk, ini tante Maya sama om Dayu." Bu Aisyah menjelaskan sosok tamunya.


"Wah, sudah besar ya si Ainur. Sampai pangling lo tante. Makin besar makin cantik," puji Maya


Nuri hanya tersenyum mungkin Maya salah mengucap namanya.


"Maaf ya Ais, anakku masih di jalan," tutur Maya.


"Iya gak papa, namanya juga pembisnis," ucap ibunya Nuri.


Keempat lelaki di hadapan mereka terlibat obrolan ringan. Terlihat dari raut pak Ali begitu bahagia.


"Oh ya, om dengar Ainur dapat juara satu ya?" Dayu melayangkan basa basi kepada Nuri.


Dalam benaknya, Nuri menganggap kedua tamu orang tuanya ini terjepit lidahnya.

__ADS_1


"Nuri om," terang Nuri.


Ucapan Nuri malah mendapat tawa dari Dayu dan Maya.


"Iya, tapi kamu tetap Ainur nya tante sama om," ucap Maya. Dayu lagi lagi terkekeh.


Sampai disini pun Nuri belum paham akan ucapan Maya.


"Itu nama pemberian dari tante tapi gak di pakai sama bapakmu," timpal Maya dengan pura pura manyun.


Dulu sewaktu Nuri baru lahir, Maya sudah menyiapkan namanya, namun pak Ali kurang puas dengan nama itu, tak ingin menyakiti hati sahabatnya ia pun hanya mengambil nama tersebut namun dengan sedikit perombakan. Dan pada akhirnya mereka sepakat keputusan pak Ali. Bayi yang baru lahir tersebut di beri nama Nuri.


"Tante tuh pengen banget punya anak perempuan, tapi sayangnya tante gak bisa mewujudkan keinginan tante. Tapi dengan kehadiran Ai, mimpi tante sudah terwujud."


Disini Nuri merasa terharu atas penuturan Maya.


Tapi mengapa selama ini ia tak pernah melihat Maya di sekitarnya, dan ibunya tak pernah bercerita tentang semua ini.


"Ai, masih suka berantem?" tanya Maya.


Nuri merasa malu, mengingat masa silam yang sering berantem sehingga orang tuanya sering di labrak.


Belum juga Nuri sempat menjawab, suara salam terdengar.


"Itu pasti dia," ucap Maya berbinar.


Jantung Nuri berdegup lebih kencang saat mendengar ucapan salam. Sepertinya ia mengenali sura tersebut. Dalam hati ia berdoa mudah mudahan pikirannya salah.


Dada Nuri terasa sesak saat pandanganya menatap sosok lelaki yang menghampiri mereka.


"Maaf saya terlambat," ucapnya.


*Sebenarnya Author pengen hiatus.


jujur aku belum bisa buat cerita konflik yang greget soalnya kadang suka baperan sendiri.


Mungkin cerita ini terlalu garing dan membosankan.


Makasih atas dukungan kalian semua.


insha Allah cerita ini aku lanjutkan kembali*.

__ADS_1


__ADS_2