Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Horang Kaya


__ADS_3

Setelah berpamitan dengan Pak Ali, Agung segera menggiring Nuri menuju mobil, meski gadis itu masih ingin bersama bapaknya.


Namun, ia juga tak dapat melawan Agung, sebab bapaknya telah menyerahkan dirinya kepada sang guru.


Mobil melaju sedang, tak ada perbincangan diantara kedua manusia itu. Hanya alunan sholawat yang menggema di genderang telinga masing masing. Agung hanya fokus dengan jalanan sedangkan Nuri memilih memainkan gawainya. Sibuk membalas chat dari para sahabatnya mungkin adalah salah satu cara menghilangkan rasa kesalnya.


"Lho kok berhenti Pak?" Nuri kaget saat Agung menepikan mobilnya ke pinggiran jalan.


"Mau beli batagor. Mau?"


Nuri hanya mengangguk. Bagaimana mungkin ia bisa menolak jajanan kesukaannya. Sudah lama Nuri tak menyantap jajanan itu, saat ini membuang gengsi adalah cara terbaik.


"Makasih Pak. Bapak tau aja kalau aku suka Batagor." Nuri sudah mencomot kantong plastik di tangan Agung.


"Lho kok cuma satu?" protes Nuri saat membuka plastiknya.


"Satu untuk berdua lebih nikmat. Saya kan lagi nyetir, jadi tolong kamu yang suapin ya!" Perlahan Agung menancap gas mobilnya pelan.


Tak dapat di gambarkan lagi kekesalan Nuri.

__ADS_1


"Bilang aja bapak pelit," rajuknya.


"Sampai kapan kamu panggil calon suamimu ini Bapak? Panggil Mas atau sayang gitu kek."


Sayang dari hongkong?


"Anggap aja sekarang lagi jalan sama gurunya," timpal Nuri.


Agung hanya sekilas melirik Nuri yang telah sibuk mengunyah batagornya. Ada rasa bahagia di relung terdalamnya. Agung memang tahu apa yang di sukai Nuri karena sejak kecil ia dan Nuri sering bermain bersama. Kadang jika di ingat lagi Agung merasa malu, karena saat main bola ia bisa di kalahkan oleh bocah ingusan yang sekarang duduk di sampingnya.


"Aaa." Agung membuka mulutnya ke arah Nuri, berharap gadis itu akan menyuapkan batagor.


Lagi lagi jantung Nuri maraton dengan kencang.


Agung yang mendapatkan suapan merasa girang tak karuan.


Tak terasa keduanya telah memasuki sebuah halaman yang luas. Sungguh seperti ia di negri dongeng saat melihat bangunan megah di hadapannya.


"Pak ini rumah atau istana?" gumamnya.

__ADS_1


Agung yang telah membukakan pintu mobil Nuri hanya terkekeh mendengar ucapan Nuri.


Di depan pintu sana telah terlihat seorang wanita tengah menunggu kedatang mereka.


Saat Nuri akan mengambil kopernya Agung melarang. "Sudah biarkan saja. Nanti ada yang bawa."


Waow, jadi seperti ini rasanya menjadi anak horang kaya? Nuri tak pernah terpikir jika Agung dari keluarga berada. Ia terheran mengapa Agung mau menjadi guru di asrama padahal jika di lihat pasti papanya adalah seorang pengusaha sukses.


"Ya ampun, kalian lama sekali sih," gerutu Maya saat Agung dan Nuri memberi salam.


"Maaf Tan, tadi singgah di ruko."


"Ya sudah ayo masuk!" Maya menuntun Nuri memasuki rumahnya. Nuri di buat terkagum kembali saat penglihatannya menangkap isi setiap sudut ruangan.


"Kamu istirahat dulu pasti lelah. Mbak Mar, antar si Ai ke kamarnya ya!" Maya memanggil seorang wanita yang bisa di pastikan adalah seorang pelayan di rumah ini.


Nuri pun hanya mengikuti Mbak Mar dari belakang, hingga keduanya sampai di depan sebuah pintu.


"Ini kamarnya Non. Kalau begitu saya permisi." Mbak Mar pun meninggalkan Nuri.

__ADS_1


Di dalam kamar Nuri sungguh mengagumi setiap perabot yang menghiasi setiap sudutnya.


Nuri masih penasaran dengan sosok Agung yang sebenarnya. Mengapa selama ini keluarganya tak pernah menceritakan tetang Agung yang ternyata adalah anak horang kaya.


__ADS_2