
Satu bulan Nuri dan Agung harus menahankan hatinya menghadapi tingkah Maya yang kekanak kanakan. Jika tidak mengingat itu adalah ibunya, Agung sudah pasti menendangnya.
Pernah suatu malam saat Agung hendak nganu bersama istrinya, Maya menggedor pintu hendak dibelikan Ayam goreng.
Disaat seperti itu, Dayu harus terbang ke Kalimantan untuk meninjau bisnis batu baranya, mengingat Agung menolak pergi kesana karena alasan Nuri tengah hamil muda.
Pagi itu Maya sudah menyeret koper besarnya. Meski kehadiran Maya kadang membuat Nuri kesal, nyatanya istri Agung merasa sedih kala Maya akan kembali ke rumah besarnya.
"Mama yakin ingin pulang sekarang?" tanya Nuri sendu.
"Iya, Mama bosan disini! Coba lihat papamu itu, seenaknya dia terbang kesana kemari tak mengajak Mamamu ini!" ucap Maya sinis di hadapan Dayu.
"Ma, itukan bisnis bukan liburan." Dayu membela diri.
"Ah, sudah! Pokoknya Mama mau kita keliling dunia sebelum Mama mbrojol," pinta Maya.
....
Agung menikmati harinya bersama Nuri yang kini usia kandungan sudah memasuki usia delapan bulan. Menurut perkiraan, bulan depan Agung bisa bertemu dengan para jagoannya.
Nuri yang sudah mengambil cuti kuliah dari tiga bulan lalu hanya berdiam di rumah. Kadang juga Zahra dan Rian sesekali singgah ke rumahnya sekedar bercerita.
Ya, Zahra dan Rian, kini keduanya telah berpacaran dan akan menikah menunggu Nuri melahirkan agar ia bisa menghadiri acara sakral mereka, mengingat Agung yang selalu melarang Nuri untuk keluar rumah akhir akhir ini.
Seperti biasa, Agung selalu pulang lebih awal dari waktu jam kantor. Menghabiskan waktu bersam Nuri yang perutnya buncit lebih besar. Kadang Agung suka tertawa sendiri kala Nuri mengeluh sesak dadanya akibat keberadaan nyawa yang singgah di rahimnya.
"Sayangnya papa, apa kabar?" Agung mengelus lembut perut buncit istrinya lalu mengecup pelan. Spontan Agung merasakan tendangan dari dalam perut istrinya.
Seakan ingin menjawab pertanyaan dari papanya.
"Pintar, sehat sehat ya sayang, papa gak sabar ingin peluk kalian." Agung mengecup kembali perut Nuri.
Malam ini keduanya tengah asyik menonton sebuah acara televisi di temani secangkir teh dan camilan. Sudah dua bulan ini Agung sengaja mempekerjakan asisten rumah tangga meski awalnya Nuri menolak. Namun, bukan Maya jika tak bisa meluluhkan hatinya Nuri.
Sebuah kehormatan bagi mbak Inah wanita tiga puluh tahunan yang menjadi asisten rumah tangga Agung, sebab wanita itu diberi fasilitas kamar mewah yang ada di lantai atas tapi bukan kamar utama milik majikannya.
__ADS_1
Semenjak dua bulan ini juga, Agung lebih memilih tidur di kamar bawah dengan alasan menjaga kehamilan isteinya.
Semenjak melakukan USG, sikap Agung berubah total. Memperlakukan Nuri bak seorang ratu.
"Mas coba pegang!" pinta Nuri.
Agung segera meletakkan tangannya pada perut buncit istrinya. Ternyata di dalam sana mereka sedang bermain bola, melihat benjolan telihat sangat jelas bergerak sekitar sepuluh detik itu.
"Mereka main bola, Ai." Agung terkekeh di ikuti Nuri yang mengusap pelan perutnya.
...
Sore itu, Zahra dan Rian berkunjung ke rumah Nuri dengan membawa banyak makanan. Pernah suatu hari Zahra dan Rian tak membawa makanan, Nuri mengusirnya, menyuruh keduanya membelikan makanan jika ingin berkunjung ke rumahnya.
"Efek bumil, turuti aja, Iah!" perintah Zahra kala itu.
Dengan sekejap makanan itu ludes seketika membuat kedua pasangan muda itu hanya mampu menelan saliva.
"Kamu doyan atau memang rakus sih, Nur?" Zahra merasa geli saat Nuri menjilat jari jarinya, menikmati sisa makanan yang menempel.
Rian yang selalu setia menemani Zahra mengunjungi sahabatnya namun, kadang merasa lelah dengan kelakuan Nuri yang terlihat konyol.
Bahkan Rian pernah di suruh masak ayam penyet oleh Nuri. Padahal selama ini Rian tak pernah menginjakkan kaki di dapur, dengan alasan anak yang di dalam perut, Rian terpaksa menuruti kemauan Nuri.
"Lho, kalian disini?" sapa Agung yang baru saja memasuki rumah.
Nuri segera menuju kearah Agung, menyalaminya lalu mengecup pipinya tak lupa ia juga memeluk suaminya dengan mesra.
"Kalian jangan ngiri, halalkan dulu baru boleh kayak gini," sindir Nuri.
"Pelan jalannya, Ai." tegur Agung kala Nuri segera mengarah ke sofa lagi.
....
Malam ini tiba tiba turun hujan lebat, seketika lampu pun ikut padam. Agung menyarankan agar mbak Inah berada saja di dalam kamarnya mengingat kondisi gelap.
__ADS_1
Setelah menyalakan lilin, Agung segera menghampiri Nuri yang menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil mengelus dan sekali kali mengajaknnya berbicara.
"Sayang, bagaimana hari ini? jangan nakal ya, mamamu sesak nafasnya," bisik Agung di perut Nuri.
"Aku baik baik saja, Pa." Nuri menjawabnya sambil menirukan suara khas anak anak.
Agungpun tertawa.
"Bagus. Boleh Papa ikut main bola di dalam? Papa janji mainya pelan? Boleh ya sayang?" rengek Agung sambil mengedipkan mata kearag Nuri.
"Dasar Papa modus!"
Benar saja, hujan lebat dan listik padam tak menyurutkan keduanya untuk berpacu dalam kenikmatan malam ini.
Agung yang khawatir akan jagoannya tersakiti hanya memacu dengan pelan sesuai dengan ucapannya tadi namun, tidak dengan Nuri.
Perempuan itu menyuruh Agung menambah ritme kecepatan.
"Mas... ayo!" pintanya pada Agung sambil memejamkan matanya.
"Tapi, Ai..."
"Mas, ayolah!" rengeknya lagi.
Sebenarnya Agung juga tidak ingin bergerak lambat namun, melihat Nuri mendambakannya ia menambah sentakan hingga keduanya mengerang bersama saat kenikmatan mencapai pada puncaknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terus dukung uthor ya, walaupun ACDP End βΊπ