
Hari kedua di Bali kondisi Nuri telah normal seperti biasa, Tak lagi merasa pusing atau mual. Hanya saja waktu mereka sarapan Nuri harus menahan gejolak dalam perutnya.
Hamparan laut membentang luas, kini mata kedua pasutri harus ternodai oleh pemandangan langka para turis yang hanya mengenakan penutup seadanya saja, membuat mata seakan khilaf untuk terus memandang.
"Gak ada bedanya pantai disini dan pantai di sana, sama saja," gerutu Nuri.
Agung yang masih senantiasa menggandeng tangan Nuri pun menyadari bahwa istrinya sedang merasa tidak nyaman.
"Balik aja ke hotel yuk, Ai!" ajak Agung.
Cuaca panas yang menyengat membuat Nuri mengiyakan ajakan suaminya meski ia tahu ada maksud tersembunyi di balik ajakannya.
"Mas, kita coba ayam betutu dulu ya?" saran Nuri sebelum keduanya memasuki kawasan hotel penginapan.
"Dilivery aja ya," ucap Agung.
Nuri telah merebahkan tubuhnya di ranjang lebar, meski hanya berjalan sebentar ia sudah merasa lelah. Berbeda dengan Agung lelaki itu sangat bersemangat saat melihat istrinya sudah terkapar di tempat bertarung.
Berhambur menindih sang istri, Agung mencumbu setiap celah lehernya hingga Nuri mendorong kepala Agung.
"Mas bau jigong!" protes Nuri
Agung mengernyitkan dahinya, dari mana bau jigong. Padahal pagi tadi sebelum mandi Nuri menikmati sentuhan lidahnya namun,tak memprotesnya.
"Sana mandi! bau tahu." Nuri menutup hidungnya.
"Wangi kok, Ai. Bau darimana coba." Agung membela dirinya yang di katakan bau.
"Pokoknya mandi! kalau gak mau mandi gak boleh masuk rawa." ujar Nuri sambil mengerucutkan bibirnya.
Ok. Fine! Agung mengalah demi sang rawa. Apa gunanya jauh jauh sampai Bali jika tak menjajahi rawa yang membuatnya candu selama ini.
Tak perlu waktu lama ,Agung telah siap menuruti ucapan permaisurinya dan kini siap untuk berpetualangan menjelajahi rawa yang sudah tiga hari tak ia singgahi karena Nuri mengatakan sangat lelah dengan berbagai tugas dan kegiatan kuliahnya.
__ADS_1
Saat keduanya sudah memburu deru nafas, terdengar ketukan pintu. Suara lantang seorang lelaki mengatakan delivery.
Agung mengumpat kesal.Pesanan datang tak sesuai dengan waktunya.
Membuka pintu sambil bersikap dingin, Agung menerima pesanannya lalu menyerahkan dua lembar uang gambar proklamator.
"Mas, kebanyakan ini."
"Sisanya untukmu saja. Jika mengantar pesanan pastikan dulu mereka sedang santai atau sedang berpetualang," ucap Agung sambil menutup kembali pintunya.
Di luar sana lelaki muda menatap uang lalu mencerna ucapan Agung. Memangnya mereka sedang camping sehingga sedang berpetualang. Dasar satu kilo kurang satu gram, batin sang deliver.
Terlihat Nuri sangat menikmati makanan khas pulau dewata tersebut. Siapa sangka dua box ia lahap sendiri tanpa menyisakan untuk sang suami. Agung hanya menelan ludah sesekali meneguk air minum di gelasnya saat menatap Nuri makan dengan rakus.
"Ai, pelan."
Nuri tersedak. "Mas, air!" perintahnya.
"Itukan bekas mas Agung," protes Nuri.
Agung mengerutkan dahinya. Sejak kapan Nuri menolak gelas bekasnya.Biasanya pun segelas bergantian.
Agung hanya bisa menahan rasa laparnya. Biarlah ia menahan lapar jika setelah ini ia akan merasakan kepuasan tiada tara.
"Mas kenyang," lirih Nuri kala Agung telah menjalankan tangan nakalnya ketempat yang sensitif.
"Tapi aku lapar." bisik Agung.
"Salah Mas Agung, Kenapa tadi menolak makan. Gengsi itu gak kenyang mas!" protes Nuri.
Lagi lagi Agung harus menelan kekecewaan kala hasratnya harus tertunda lagi.
Saat ini Nuri hanya memandangi Agung yang makan dengan lahap, setelah setengah hari mengabiskan diri di alam mimpi ternyata membuatnya sangat lapar.
__ADS_1
Kali ini tidak dengan Nuri, menetap suaminya makan tiba tiba ia yang merasakan kenyang di perutnya.
"Kamu gak makan?" tanya Agung saat melihat hidangan di hadapan istrinya sama sekali belum tersentuh.
"Tiba tiba kenyang, Mas," ucap Nuri.
Di dalam kamar, Nuri sudah berganti sesuai dengan permintaan suaminya. Baju bak saringan tahu harus ia pakai. Sementara itu Agung juga telah bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer pendek.
Berjalan pelan menghampiri Nuri yang masih memberi nutrisi di wajahnya, Agung mengecup jenjang leher Nuri yang terlihat mulus sebab rambutnya telah di cepol keatas.
Merasakan merinding, Nuri mendesah pelan. Agung segera membopong tubuh Nuri menuju pembaringan.
Sekali tarik langsung terlepas penutup tubuh istrinya. Agung merasa sangat puas dan tertantang untuk segera mencicipi hidangan yang telah terpampang jelas di depan matanya.
Hanya kurang satu centi Agung akan merasakan kekenyalan buah gantung, tiba tia Nuri bangkit dan berlari menuju ke dalam kamar mandi. Mengeluarkan cairan bening hingga membuat tubuhnya lemas seketika. Agung yang merasa sangat khawatir segera menutup tubuh istrinya dengan sebuah jubah putih.
"Ai, kamu kenapa?" Agung terlihat sangat cemas dan khawatir. Dalam hati ia menahan penuh rasa kecewanya.
Ma, maafkan agung jika pulang tak membawa oleh oleh, batinnya penuh dengan rasa nelangsa.
.
.
.
.
Maap kalo ada Typo. Uthor belum sempat memperbaiki.
Demy reader yang masih setia, uthor berjuang keras untuk nulis episode ini.
jangan lupa bagi hadiahnya biar uthor cepat sembuh. Hehehe
__ADS_1