
Sementara itu, di suatu tempat, Dayu terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak, baru satu bulan ia pensiun namun, nyatanya ia tetap masih menghandel perusahaannya karena Agung yang molor dari jadwal cutinya.
Tiga hari bisa menjadi satu minggu. Jika bukan perusahaannya sendiri, Dayu sudah pasti akan memecatnya hari itu juga.
"Sabar, Pa." Maya sengaja menemani suaminya ke kantor. Semua ini atas ide dari Maya. Saat Agung mengatakan ia gagal jalan jalan di Bali, Maya yang merasa kecewa segera merekomendasikan pantai pantai indah di kota Malang tersebut.
"Percuma Papa pensiun, Ma," desah Dayu.
"Papa mau nimang cucu gak seperti rekan kerja papa itu? kalau mau, kasih dong waktu mereka nyicil mencetak," ucap Maya sambil memijit bahu suaminya.
Sejenak Dayu terdiam, memang benar ucapan istrinya, hampir semua rekan kerjanya sudah menimang cucu, bahkan sudah ada yang menimang lebih dari satu.
....
Agung dan Nuri baru saja tiba di rumah kebesaran orang tua Agung. Atas paksaan Maya, keduanya harus pulang kerumahnya untuk memastikan oleh olehnya sudah di bawa atau belum.
Sekitar pukul tiga sore, Dayu dan Maya memilih segera pulang mendengar anak dan menantunya sudah pulang.
"Ingat, papa gak boleh marah marah! ingat darah tinggi! Mama gak mau tidur sama guling." Entah semacam ancaman atau memang Maya tak mau jatah ronda malamnya terlewatkan.
"Iya, Papa tahu." Dayu tersenyum licik. Nanti malam ia akan memperagakan main kuda seperti yang baru saja ia tonton tadi saat Maya pergi keluar sebentar.
Rumah besar namun, terasa sangat sepi. Terkadang ada rasa nelangsa pada Maya dan Dayu, begitu megah rumahnya namun tak ada suara jeritan anak anak.
Dayu yang melarang Maya mengandung lagi, karena sebuah penyakit yang mengidapnya sekarang malah melakukan progam kehamilan kembali setelah meruqyah rumah anaknya.
Diusianya yang sudah tidak muda lagi juga menjadi salah satu alasan Dayu melarangnya namun, Maya dengan keras memperkukuh niatnya.
"Mbak Mar, sudah lama mereka beristirahat?" tanya Maya.
Mbak Mar yang sibuk berkutat di dapur segera menoleh. "Sudah Bu, sepertinya mbak Nuri sakit. Wajahnya terlihat pucat," jelas mbak Mar.
Maya tidak terkejut sebab, Agung telag mengatakan kondisi Nuri saat mereka dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Di kamar, Nuri merenggangkan otot otat tangannya, entah sudah berapa lama ia tertidur. Dilirik ke samping, suaminya pun juga masih terlelap dengn selimut menutupi tubuhnya.
Nuri menyibakkan selimut namun, ia terkejut. Hampir melupakan kegiatan panas yang mereka lakukan setelah tiba di kamar suaminya.
Nuri segera memungut baju yang berada di lantai lalu berlari menuju kamar mandi.
.....
Di meja makan yang luas, banyak tersaji berbagai menu kesukaan Nuri. Setelah menceritakan liburan meraka namun, Maya menagkap bahwa ada yang berbeda dengan menantunya itu.
"Apa selama di sana kamu tidak di beri makan, Ai?" tanya Maya.
"Siapa bilang, Ma? bahkan Nuri sangat rakus, tapi.. ya gitulah... setelah makan langsung keluar semua yang di makan. Pokoknya Agung gak tega." Agung menatap nanar pada istrinya yang berada du sampingnya.
"Maklum, Ma. Nuri mabuk udara. Mas Agung di suruh ngerokin gak mau!" sambung Nuri.
"Bukan gak mau, Ai. Tapi emang gak bisa." Agung memberi pembelaan.
Maya menggeleng lalu membuang nafas kasarnya melihat perdebatan kecil di hadapannya.
"Sudah! kalian mau makan atau mau berdebat?" Dayu mulai angkat bicara.
Semua anggota pun terdiam lalu memuli kegiatan makam malam bersama.
Maya mengernyitkan dahinya saat Nuri tidak menyentuh makanan yang ada di piringnya.
"Kenapa, Ai? gak enak?" tanya Maya.
Nuri menggeleng. "Gak selera, Ma. Mas aku mau makan bebek panggang." Nuri merengak menggoncangkan lengan Agung.
"Kan... mulai deh anehnya," dengus Agung.
Ada saja kemauan Nuri yang aneh, padahal begitu banyak macam makanan di atas meja.
__ADS_1
Maya menatap Nuri tajam.
"Apa kamu sering mual?" tanya Maya memastikan.
"Bukan sering, Ma, tapi tiap nyium aroma makanan. Bahkan Agung pernah di usir saat di Bali, katanya Agung bau, padahal habis mandi." Agung segera mengadu pada sang Mama sebelum ia di salahkan lagi.
"Kan udah aku bilang kalau aku masuk angin, Mas," ucap Nuri segera.
Maya dan Dayu hanya mampu menggeleng. Keduanya menatap pasangan muda di hadapannya sambil memijit jidatnya, merasakan tiba tiba migrain.
"Sudah! kalian lanjutkan makannya! Mbak Mar!" teriak Maya.
Dengan tergopoh, mbak Mar segera menghampiri majikannya.
"Cepat pesankan bebek panggang!" Maya pun segera membisikan sesuatu lalu di jawab dengan anggukan oleh mbak Mar.
Mendengar bebek panggang, mata Nuri berbinar binar sambil menelan saliva.
Sepertinya kali ini Maya tidak akan salah dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Sebagai seorang perempuan, Maya juga pernah merasakan apa yang Nuri rasakan saat ini. Dan firasat ini tak akan meleset lagi.
Tersenyum bahagia, Maya akan memastikan besok pagi.
.
.
.
.
Hai, jangan bosan dengan cerita receh ini ya? Aku kurang fit, jadi maafkan yang selalu molor jam tayangnya.
Jangan lupa tebar tebar hadiah untuk uthor ya 😀😀
__ADS_1