
Menjalani hari hari super sibuk hingga jarang meluangkan waktu untuk berdua, Agung merasakan gundah dalam dadanya.
Satu bulan telah berlalu, pagi ini Agung berencana membawa Nuri untuk mengelilingi pulau Bali. Mengambil cuti adalah tekanan dari sang mama.
Maya merekomendasikan pulau Bali untuk tempat bulan madu mereka yang telah tertinggal jauh.
Di Bandara YIA, Dayu dan Maya mengantarkan kepergian anak dan menantunya. Berharap setelah pulang dari sana Nuri membawa oleh oleh mainan untuknya kelak.
Maya yang mengetahui bahwa Nuri sedang tidak hamil merasakan sedikit kecewa. Malam itu, setelah pulang dari rumah Agung, Dayu menjelaskan kepada sang istri bahwa menantunya belum hamil.
Nuri memegang erat tangan Agung saat pesawat mulai take off. Agung merasakan perubahan pada wajah istrinya. Keringat jagung bercucuran di wajahnya.
"Kamu takut?" tanya Agung. Tangan Agung menggenggam kuat telapak tangan Nuri.
"Iya Mas, aku takut! Ini adalah pertama kali aku naik pesawat," ucap Nuri gementar.
Agung mengerti akan kecemasan yang dirasakan oleh Nuri. Meraih kepala Nuri untuk bersandar di bahunya.
"Tidak apa apa, semua akan baik baik saja! Tidurlah." Agung mengusap pelan pucuk kepala Nuri.
....
Di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Agung tersenyum bahagia. Terus menggenggam erat tangan Nuri. Ucapan Maya masih begitu membekas di ingatannya.
"Jangan pulang ke rumah utama jika kamu tak menyemai ladangmu dengan baik. Saat pulang nanti, kalian sudah harus membawa calon cucu untuk Mama. Ingat Agung! harus!" tekan Maya saat masih di Bandara YIA.
Hotel dekat pantai adalah pilihan keduanya.
Selain bisa menikmati sunset dari hotel, gulungam ombak bisa mereka lihat dengan jelas tanpa harus turun ke pantai.
__ADS_1
Setelah meletakkan koper, Agung merebahkan tubuhnya di sofa. Perjalanan yang melelahkan namun, semua itu akan segera tergantikan dengan sebuah kenikmatan.
Nuri membuka tirai jendela. Mengamati birunya laut, ingin rasanya ia segera menyambanginya. Jika tidak merasakan lelah sudah pasti Nuri akan segera mengajak Agung kesana.
Tiba tiba saja mata Agung terbelalak saat mendengar suara dari dalam kamar mandi.
"Ai, kamu kenapa?" tanya Agung panik.
Nuri tak menjawab. Raut wajahnya seketika berubah sayu, tubuhnya terasa sangat lemas.
"Hueekk." Nuri mengeluarkan isi dari dalam perutnya.
"Efek mabuk udara, Mas. Perutku mual semenjak take off tadi," ucapnya sambil mengusap bibirnya dengn tisu.
"Kamu bawa minyak kayu putih?" tanya Agung.
Nuri hanya mengngguk pelan. Sambil memapah Nuri, perasaan Agung malah semakin bersalah. Padahal banyak tempat romantis di kotanya untuk
"Harusnya kamu bilang kalau mabuk udara 'kan kita gak perlu jauh jauh kesini Ai." Agung menijit tengku istrinya yang telag di olesi minyak kayu putih.
....
Sampai siang ini keadaan Nuri masih belum juga membaik. Beberapa kalibua harus keluar masuk kar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya hingga hanya cairan kekuningam yang keluar.
Agung sangat merasa prihati melihat istrinya begitu tersiksa.
"Ai, mau makan apa? Biar dipesan?" tanya Agung.
"Terserah Mas ajalah." Nuri menyandarkan tubuhnya du sofa sambil menghirup aromatherapy dari minyak kayu putih.
__ADS_1
Belum juga sempat menyentuh makanan, perut Nuri bergejolak kembali.
"Mas, jauhkan makanan itu! Kenapa Mas Agung pesan makanan mentah?" protes Nuri kala melihat salad di piring lebar.
Belum sempat Agung menjawab, Nuri telah berlari menuju kamar mandi.
"Sepertinya aku harus memanggil dokter."
Namun, ponsel Agung segera dirampas oleh Nuri.
"Aku gak papa, Mas! nanti juga baikan kok. Mas mau bilang kalau aku mabuk udara sama dokter? Aku 'kan malu, Mas!"
Yasudah lah, jika itu mau mu, batin Agung.
"Ma, sepertinya harapan oleh oleh Mama tidak bisa kami bawa pulang, menantu mama sampai disini malah sakit," ucap Agung sambil menekan tanda mic di watshaap-nya.
.
.
.
.
.
.
Moon maaf, real life uthor sangat padat merayap jadi belum bisa fokus Nulis.
__ADS_1
Betewe, mana hadiah bunga atau kopinya nih?