
Mentari pagi belum seutuhnya menampakan diri, namun Nuri telah menyiapkan bekal yang di dampingi oleh Mbak Mar. Meski Nuri sudah bisa memasak namun Agung melarangnya untuk menyentuh perkakas dapur. Bukan meragukan kemampuan istrinya tapi untuk apa dia mempekerjakan ketiga asisten rumah tangga jika pada akhirnya Nuri harus turun tangan lagi.
Nuri hanya di ijinkan menata bekal yang telah di masak oleh Mbak Mar.
Pak Agung memang keterlaluan.
Setelah sepasang pengantin baru telah usai sarapan, keduanya memilih segera bergegas untyk berangkat. Nuri yang sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan sahabatnya, beberapa kali mengetik pesan melalui ponselnya. Agung masih fokus lurus kedepan.
Terdengar kekehan Nuri membuat Agung meliriknya. "Apa yang membuatmu bahagia?" tanya Agung.
"Ya, hari ini aku sangat bahagia sebab akan segera bertemu dengan anak asrama." jawab Nuri polos.
"Jadi kau akan memberi alasan apa untuk mereka? Apakau akan mengatakan yang sebenarnya?" Agung hanya melirik sekilas.
Nuri masih terdiam, bahkan sampai saat ini dirinya belum menemukan sebuah alasan apa yang akan di berikan kepada temannya.
"Pak beli oleh oleh sebentar dong!" pinta Nuri. Tak mungkin ia tak membawa buah tangan untuk Bu Nisa. "Baiklah." Agung telah menepikan mobilnya di depan sebuah supermarket. "Kok malah kesini sih?" protes Nuri.
Agung menautkan Alisnya. Bukankah Nuri memintanya untuk membeli oleh oleh, dan mengapa malah di protes.
"Bukankah kita akan beli buah tangan untuk Bu Nisa? Lalu?" Agung kembali bertanya.
"Aduh Pak, cari yang ada tulisan pusat oleh oleh gitu lah," jelas Nuri seraya menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Sama ajalah, di dalam malah banyak macamnya." Agung bersikeras untuk turun.
"Bapak nyebelin." Nuri memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Agung merasa geli melihat tingkah Nuri saat ini.
"Coba lihat sini!" Agung telah memegang dagu Nuri. "Diam," lanjutnya.
Nuri memejamkan matanya seraya menaan nafas kala wajah hembusan nafas Agung terasa dekat dan mampu ia rasakan. Namun Agung malah terkekeh melihat wajah Nuri yang sudah merona.
"Hei buka matamu! Lihat ini bulu matamu jatuh." Agung mengambl bulu mata Nuri yang ada di bawah kelopak matanya.
Nuri segera mendorong tubuh Agung agar segera menjauh dari hadapannya. Ia terlalu percaya diri. Berharap Agung akan menciumnya.
"Dasar Bapak mesum." elak Nuri.
Agung mencoba menahan tawanya. Kali ini ia tak ingin menggoda Nuri lebih dalam takutnya ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Siapa pun yang lelaki yang melihat Nuri dari jarak dekat pasti ia akan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Nuri yang sekarang lebih cantik dan menawan setelah mahkotanya di balut dengan kerudung.
Sesuai permintaan istrinya, Agung memberhentikan mobilnya di pusat pembelanjaan khusus oleh oleh. Senyum Nuri mengembang lebar saat pengedaran netranya menangkap plang bertulisan pusat oleh oleh.
"Pak, tungguin," teriak Nuri saat melihat Agung telah berlalu meninggalkannya. Nuri mengejar pelan hingga dirinya sejajar dengan Agung.
__ADS_1
"Jangan cepat cepat kenapa sih Pak," gerutu Nuri.
Keduanya berjalan mencari sesuai keinginan Nuri. Namun sampai lima toko tak satu pun yang di beli oleh Nuri. Agung merasa kesal. Entah buah tangan apa yang di inginkanya. Padahal hanya untuk Bu Nisa dan keluarganya saja.
"Sekarang pilih!" titah Agung setelah berdiri di depan toko yang ke enam.
"Sabarlah Pak, kita cari ke sebelah sana ya!" tunjuk Nuri. Agung mengambil Nafas panjang.
"Ini sudah toko yang keenam Nuri, kamu mau beli atau cuma mau nawar? Kita sudah telat." Tak sabar dengan ulah Nuri, Agung mengambil beberapa makanan kering yang telah di bungkus rapi. Entah berapa bungkus yang Agung ambil kemudian berjalan ke arah kasir.
"Ih, Bapak gak seru," gerutu Nuri sambil menghentakkan kakinya.
Agung hanya menggelengkan kepalanya.
"Pak, ini kebanyakan loh," protes Nuri lagi.
Lagi lagi Agung menarik nafasnya. "Ya sudah nanti di bagi sama temen kamu!"
"Ah, Bapak memang cerdas." Nuri terkekeh.
Nuri terlihat sangat bahagia. Sepanjang perjalanan senyuman tak memudar dari sudut bibir mungilnya. Begitu juga dengan lelaki yang sedang mengemudi, kebahagiaannya tak bisa di ungkapkan dengan kata kata lagi. Mungkin dia adalah pria kaku yang tak pernah mengenal bagaimana rasanya jatuh cinta. Namun dirinya percaya bahwa Nuri adalah pilihan tepat untuk berjuang bersama dalam suka dukanya kelak.
Like dan Komen yang banyakkkk....!
__ADS_1