
Nuri melangkah ke ruang seni. Sore ini adalah jadwalnya mengikuti seleksi. Ia tak berharap banyak bisa terpilih menjadi anggota utama.
Baru saja melangkah masauk, sorot matanya melihat Rian sudah memainkan senar gitarnya.
"Loh, Rian," gumam Nuri.
Rian tak merasa terkejut saat Nuri mendekati mereka. Dua hari yang lalu Rian mengorek informasi tentang ekskul yng di ikuti oleh Nuri.
Ternyata Nuri tidak berubah, gadis yang hampir pernah dekat dengan dirinya itu masih suka dengan musik.
"Kamu kok di sini?" tanya Nuri mendekat.
"Aku ikug seleksi hari ini. Doain ya kita satu kelompok," ujar Rian.
Hampir dua jam seleksi di gelar. Para senior dan Juri tak meragukan lagi kemampuan mahasiswa barunya.
Benar saja dalam Nuri dan Rian satu kelompok dan ada tiga orang lagi.
Entah berapa panggilan tak terjawab dari Agung. Setelah menyelesaikan tugasnya, Nuri segera menelfon balik suaminya. Ternyata Agung sudah menunggu di samping halte.
"Mas, maaf, jadwalku padat. Udah lama nunggunya?" Nuri mental telapak tangan Agung.
"Hmm.. lumayan," jawab Agung.
Kedua insan terdiam sambil mendengarkan musik jawa beralun reggae. Nuri sangat menikmati setiap lagu, begitu juga Agung.
Hingga akhirnya Nuri menyadari bahwa mobil telah memasuki ke sebuah parkiran.
"Lho, Mas, kita mau ngapain kesini?" tanya Nuri heran.
"Kencan," jawab Agung singkat.
What!!
Seakan kepala Nuri berputar. Agung mengatakan kencan, padahal kedunya masih sama sama bau acem.
__ADS_1
"Mas, serius? apa kata orang, aku masih bau acem lho," sanggah Nuri.
"Memang kenapa? yanga mau kencan siapa? udah ayo turun!" Agung membuka pintu mobil.
Nuri masih berdiam di dalam mobil, bagaimana bisa suaminya mengajaknyabke tempat dinner yang belum buka. Nuri melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, masih kurang 30 menit tempat itu buka.
Agung mengetuk kaca mobil membuat Nuri terkaget dan segera membuka pintunya.
Agung segera menyodorkan swbuah paper bag kepada Nuri, sementara tangannya juga menenteng paper bag dengan logo yang sama.
"Kita numpang mandi di dalam," ucap Agung datar.
Apa?
Sekali lagi Nuri ternganga mendengar
Melepaskan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya lalu menggandeng Nuri menuju ke dalam.
Kali ini tempat yang Agung sambangi adalah Secret Garden Coffee & Chocolat yang berada di daerah Wirobrajan, Yogyakarta.
"Selamat datang, Bapaj, Ibu, kalian adalah tamu pertama kami, sebagai rasa hormat kami, anda akan mendapatkan jamuan istimewa dari kami," ucap salah seorang pelayan yang menyambut kedatangan Agung dan Nuri.
Nuri tersenyum lebar saat memasuki outdoor. Jelas terlihat suasana masih sepi dengan tatanan yang memadukan antara jawa klasik dan moderen.
Agung menggandeng tangan Nuri untuk duduk tepat di depan air mancur. Berhubungan mereka adalah tamu pertama, meka mereka bebas akn duduk di sebelah mana. Yang Agung ketahui beberapa menit lagi suasana akan semakin ramai dan itulah alasan Agung mengapa datang lebih awal.
"Mas kok tahu tempat ini sih? Kan tempatnya tersembunyi, masuk gang pula," ujar Nuri.
"Apa yang tak bisa di ketahui oleh suamimu ini, termasuk kamu satu kelompok dengan Rian," tutur Agung.
Mak jlebbb!!!
Bagai disambar kilat.
Bgaimana Agung bisa mengetahuinya, padahal itu baru beberapa jam yang lalu, mungkinkah Agung mempunyai mata empat di kmpus Nuri? ( Hanya Uthor yang tahu ) dalam hati Nuri menggerutu.
__ADS_1
"Mas hebat ya, punya panca indra ke sembilan." Nuri seakan menyindir.
Namun Agung tak ingin managgapi ucapan Nuri sebab, ia tak ingin membuat suasana romantis ini menjadi ambyar.
"Kamu terlihat cantik dengan gamis itu? Bagaimana apa yang di dalam juga pas ukurannya? Aku tadi milih sendiri lho. Kamu gak mau berterimamasih?" bisik Agung.
Mendadak Nuri bersemu. Setelah mengganti pakaiannya, Nuri tak menanyakan siapa yang membeli sebab ukuran san warna sudah sesuai dengan ukuran miliknya.
"Jadi Mas yang pilihin? Pantas aja pas. Mas Agung benar benar suami hebat." Untuk mengalihkan rasa malunya, Nuri berpura pura memuji Agung.
Buat apa hebat jika gak top cer. Sudah berapa bulan kecebong itu mengeram di dalam rawa namun, tak kunjung menjadi bibit.
Hmmm... apakah bibit kecebongku bukan bibit unggulan atau sudah kadaluarsa ya?
"Beruntung deh, aku bisa mempunyai suami kayak mas Agung." Nuri tersenyum lebar menatap Agung dwngan berbinar.
Agung hanya bermain dalam pemikiran sambil menggenggam tangan Nuri. Menunggu pesanan datang, Agung menyempatkan mengambil foto selfi bersam Nuri.
Terimakasih Ai, hadirmu membawa warna dalam hidupku. Suatu saat kamu akan tahu bahwa dulu ku bukanlah lelaki baik.
.
.
.
.
Kalian kasih apa nih buat uthor?
Like, komen , vote atau kasih hadiah?
atau kasih semuanya?
Jangan bilang kalau kalian gak ngaaih apa² untuk uthor lho..
__ADS_1