Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Pulang cepat


__ADS_3

Siang itu Nuri telah berhasil menidur siangkan keduan anaknya. Tubuhnya terasa letih, sebab harus mengurus pekerjaan rumah sendiri.


Langkahnya terhenti kala mendengar bel berbunyi. Ia segera membuka pintu dan terkejut.


"Lho, kok udah pulang, Mas?" tanya Nuri heran.


"Kenapa di kunci pintunya?" Bukan menjawab, Agung malah bertanya sambil berjalan kedalam.


"Kebiasaan! Kalau ditanya pasti ganti nanya!" gerutu Nuri.


Agungpun membersihkan dirinya terlebih dahulu, sementara Nuri sudah merebahkan dirinya di kasur.


Sayup sayup ia mendengar Agung memanggilnya, namun karena ia sangat lelah ia memilih mengabaikannya.


Agung yang melihatnya pun menyadari jika Nuri mengabaikan dirinya dan lebih memilih tidur siang.


Sesampainya di dapur Agung segera mencari piring untuk makan. Tadi ia buru buru ingin pulang karena ia berencana ingin makan siang bersama Nuri.


"Ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri, makan pun juga sendiri." Agung menyanyi dengan mengganti lirik lagunya.


Setelah merasa kenyang, pertama yang ia lakukan adalah mengunjungi kamar anaknya. Meski ia tahu itu adalah waktu tidur siang, Agung hanya ingin melihatnya saja.

__ADS_1


Dengan pelan ia membuka pintu. Namun ia terkejut saat hanya melihat Briyan yang berada diatas kasur. Lalu dimana Bryan?


Ia pun segera masuk untuk memastikannya. Namun Agung merasa lega saat melihat Brayan yang sedang memainkan sebuah mainan bangkar pasang.


"Lho kok gak tidur." Agung mendekat kearah Brayan.


Sedikit terkejut, Brayan menatap Agung.


"Udah tadi," jawabnya.


"Papa tahu kamu berbohong." Agung ikut memainkan mainnya tanpa melihat wajah Brayan yang merasa kesal karena ayahnya sok tahu, meski itu benar adanya.


Brayan hanya pura pura tidur kala Nuri membacakan dongeng untuk mereka.


Agung sama sekali tidak marah.


"Bukan begitu masangnya. Lihat ini!" Dengan pelan Agung memperbaiki tata letak memasang mainan tersebut.


Brayan pun sama, ia tak marah kala mainan telah pindah ke tangan ayahnya. Boch itu hanya memperhatikan setiap gerak tangan ayahnya dengan seksama. Sesekali ia mencuri pandang ke wajah Agung.


"Papa kenapa sudah pulang?" Tiba tiba bibir mungil itu mengucap.

__ADS_1


"Ya karena kerjaan kantor sudah tidak ada," bohong Agung.


Bocah kecil itu hanya mengangguk. Dengan polosnya ia mempercayai ucapan ayahnya.


"Kenapa? Brayan tidak suka Papa ada di rumah?" Agung meletakan mainan yang sudah ia rakit. Meletakan di depan Brayan. Brayan pun tersenyum melihat mainanya sudah tersusun dengan sempurna.


"Rayan suka kok kalau Papa di rumah. Malah Rayan pengen Papa itu seperti kakek yang tidak pergi kemana mana. Kalaupun pergi pasti bersama nenek dan Memei," ujar Brayan.


Agung menatap dalam kearah anaknya. Sedetuk mencerna ucapan Brayan yang memang ada benarnya. Selama ini ia hampir tak pernah meluangkan waktu untuk anak dan istrinya. Ia sudah banyak kehilangan waktu namun, kini ia mulai menyadarinya.


"Rayan, maaf Papa sudah mengabaikan kalian." Agung menarik tubuh mungil kedalam pelukannya lalu mengecupi rambut keriting yang sudah mulai agak panjang.


"Kata guru Rayan, laki laki itu tidak boleh menangis, Pa."


"Hei bocah, siapa yang menangis? Coba lihat ini." Agung menunjukkan matanya yang sama sekali tak ada air matanya.


"Hehe, Kan Rayan cuma ngasih tahu, Pa"


Kedua lelaki beda usia itu saling tertawa lepas. Sesekali Agung menggelitiki pinggang Rayan, begitu juga dengan Rayan yang membalas setiap gerakan yang Agung berikan.


Tanpa mereka sadari ia sudah menggangu tidur seseorang.

__ADS_1


Briyan mengucek matanya melihat kearah asal suara yang menggangu tidurnya.


"Papa, Rayan stop!" teriak Briyan.


__ADS_2