Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Buat Adek


__ADS_3

Pukul lima sore Agung sudah siap memandikan kedua anaknya dan kini mereka tengah bermain mobilan di taman belakang, sementara Agung, lelaki itu berselancar di dapur mengingat Nuri masih belum turun dari dari kamarnya.


Celoteh keduah bocah kecil itu kadang membuat Agung menyunggingkan senyumnya. Terlalu bodoh selama ini, ia membuang waktunya sehingga lupa canda tawa keluarga kecilnya.


Setelah selesai memasak, Agung ingin memastikan mengapa istrinya tak kunjung turun, padahal ia tadi hanya mengatakan ingin mandi sebentar.


"Sayang, Papa lihat Mama dulu, ya." Pesan Agung pada kedua bocah kembar tersebut.


Keduanya hanya mengangguk. "Iya, Pa," ucapnya serentak.


Saat Agung membuka pintu kamar didapati Nuri tengah bercermin, menatap pantulan dirinya dengan wajah lesu.


Agung melihat di atas kasur tergeletak beberapa bajunya.


"Kamu mau buka bazar?" tanya Agung.


Nuri kembalikan tubuhnya menghadap suamninya.


"Mas Agung gak usah ngeledek! Tuh lihat, bajuku udah pada sempit. Badanku kayaknya melar deh," ujar Nuri sambil menunjuk kearah tumpukan baju yang baru saja ia coba tadi lalu menatap lagi dalam bayangannya di cermin.


Agung terkekeh lalu memeluk tubuh Nuri dari belakang.


"Gak tuh. Masih sama kok," ucap Agung.


"Sama apanya? Jelas jelas nampak melar kok,"


"Iya sih." Tanpa sadar mulut Agung mengiyakan begitu saja.


"Tuh kan, berarti emang gendutan dong!" ujar Nuri.


"Emang." Lagi lagi Agung menyetujui ucapan Nuri.


"Berarti aku udah jelek dong," pancing Nuri.


"I.. Eh, gak kok. Kamu masih yang tercantik." Hampir saja Agung masuk jebakan.


"Meskipun gendut?" Nuri memastikan.


"Iya sayang."

__ADS_1


"Halah gombal Mas!" Tiba tiba saja Nuri merasa kesal dan membuat Agung bingung. Entah dimana letak salahnya.


"Udah ah, aku mau nemenin anak anak," ketus Nuri.


"Lho... Ai." Agung mengerutkan dahinya kala Nuri telah meninggalkan dirinya di dalam kamar.


Setelah makan malam, orang tua itu memilih menemani anak anaknya belajar. Keempat penghuni rumah itu terlihat begitu sangat bahagia.


"Mama, lihat ini." Briyan memberikan hasil karyanya kepada Nuri.


"Ini Mama, Papa, Rayan dan aku." Briyan bersemangat saat menunjukkan hasil karyanya yang di bantu oleh Agung tadi.


"Wah bagus sekali, sayang," puji Nuri sambil memberi kecupan di kepala Briyan. Bocah kecil itu cekikikan.


Begitu juga dengan Brayan, tak ingin kalah dengan Briyan ia juga menyerahkan hasil karyanya.


"Mama juga harus lihat punya Rayan," ucap Brayan menghambur ke pangkuan Nuri.


Nuri mengamati karya Brayan namun, sambil menautkan alisnya.


"Ini Rayan, Riyan, Papa Mama dan ini..." Brayan berhenti sejenak saat hendak menyebut satu gambar lagi.


Agung yang duduk tidak terlalu jauhpun penasaran dengan hasil gambar Briyan.


"O.. itu pasti aunty Memey, kan?" ucap Agung asal.


"No, Papa. Ini adik Rayan dan Riyan," ucap Brayan dengan polos sontak membuat orang tuanya saling berpandangan.


"Adik? Kamu serius pengen punya adik lagi?" tanya Agung.


"Riyan gak seru jadi adik, Pa. Udah besar dia. Mama sama Papa mau kan buatkan adik bayi?" Bocah polos itu menatap serius kepada ayah dan ibunya.


Nuri tak mampu menelan saliva. Jika saja yang mengatakan adalah Agung mungkin saat itu juga ia akan meninjunya hingga tak bisa bangkit lagi.


Kuliah belum kelar kelar masa iya bunting lagi. batin Nuri.


"Bagaimana, Ma, Pa?" tekan Brayan.


"Kalau Papa sih suka buat adek lagi, tapi gak tahu kalau Mama," sindir Agung sambil tersenyum licik.

__ADS_1


"Bagaimana Ma, Mama mau kan buat adek bayi?"


Rayan, kamu pikir buat adek kayak buat tahu isi? Aduk aduk goreng langsung jadi.


"Ma," panggil Brayan.


"Ah, iya sayang. Ada apa?"


"Mama mau kan buat adek bayi?"


"Iya sayang, nanti mama sama papa buat adek bayi untuk kalian, tapi sekarang kalian harus bobok, ini sudah malam." Bukan Nuri yang menjawab melainkan Agung. Nuri masih ternganga belum bisa menjawab pertanyaan anaknya.


"Papa janji kan?" tanya Brayan kembali saat hendak memasang selimut padanya.


"Iya, Papa janji."


Brayan mengangkat jari kelingkingnya. "Janji dulu!"


Agung terkekeh lalu menuruti perintah Brayan. Keduanya mengaitkan jari kelingking. Sementara Nuri yang memasang selimut pada Briyan hanya sekedar melirik dua lelaki yang sempat merenggang itu.


Setelah memastikan keadaan aman, Nuri dan Agung pun segera menuju kamar mereka, mengistirahatkan tubuh yang lelah seharian beraktivitas.


"Ai." Belum sempat Nuri merebahkan tubuhnya, Agung telah memeluk tubuhnya. Membuka kain yang membungkus kepalanya.


"Mas, aku ngantuk." alasan Nuri.


"No. Kamu melupakan sesuatu. Aku sudah membelinya. Dan... ayo kita buat adik baru untuk mereka," bisik Agung.


Mendadak Nuri merasa merinding dengan ucapan Agung.


Malam yang sunyi nan dingin kini mereka lalui dengan deritan ranjang dan peluh bercucuran. Meski awlknya menolak, kini Nuri pasrah di bawah kendali suaminya.


Menikmati setiap sentakan yang Agung berikan dengan penuh kenikmatan.


Kini malam yang mereka lalui terasa sangat panjang.


Udah gitu aja, Ntar kena semprot gak sesuai sama judulnya.


Sebagai pembaca yang budiman mohon tinggalkan jejak!

__ADS_1


Like, Komen dan tebar hadiah. Syukur² kalian kasih Tip 😉😉 ( Othor ngarep** )


__ADS_2