Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Malam pertama


__ADS_3

Menjelang malam Nuri dan Agung mulai beranjak ke kamar. Seharian menemani familly jauh yang turut hadir di acara sakral tadi pagi membuat pasangan pengantin baru itu harus sabar menemani mereka.


"Ini kamar Bapak?" Nuri terheran saat memasuki kamar bernuasa biru laut yang terlihat begitu rapi.


"Gak mungkin saya bawa kamu ke kamar mertua kamu kan Nur?" Agung kini telah merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Dan kini Nuri baru menyadari bahwa ia akan tidur satu ranjang dengan Agung.


Nuri hanya mampu menahan saliva saat Agung melepaskan bajunya.


"Astagfirullahaladzim," pekik Nuri sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya sambil berbalik membelakangi Agung.


Agung menakutkan alisnya heran. "Kenapa?"


"Bapak kenapa buka baju?"


"Saya mau tidur," jawab Agung apa adanya.


Memang sudah menjadi kebiasaan Agung jika tidur selalu membuka bajunya.


"Iya, saya tau. Tapi kenapa harus di buka bajunya." Jantung Nuri tak terkontrol lagi.


"Saya gak bisa tidur kalau pakai baju Nur. Kamu mau tidur atau mau di situ seperti patung hingga fajar tiba."


Dengan pelan Nuri memberanikan diri menuju tempat tidur.

__ADS_1


"Udah sini tidur." Dengan cepat Agung menarik lengan Nuri hingga gadis itu tersungkur tepat di dada Agung. Genderang Nuri dapat menangkap dengan jelas degup jantung Agung begitu juga dengan detak jantungnya sendiri seperti sedang bersahutan dengan jantung Agung.


"Maaf." Nuri segera mengangkat tubuhnya dan berbaring di samping Agung.


Malam ini tak seperti malam yang selama ini Nuri bayangkan jika setelah menikah pasti akan ada agenda lembur sampai pagi. Buktinya saja Agung telah pergi ke alam mimpi tanpa mengucap selamat malam atau apalah sesuatu yang romantis.


Ternyata memang lelaki kaku. Nuri merasa terabaikan.


Malam pertama Nuri hanya ia lalui dengan suaran jangkrik mengerik dan deru nafas yang teratur.


Nuri merasa ada setetes air membasahi pipinya.


Gadis itu segera mengusap, namun air masih saja menetes. Mungkin bocor. Nuri segera membuka matanya.


Berarti yang menetes sadari tadi adalah rambut suaminya.


"Bangun udah subuh, ayo sholat!"


Nuri masih terdiam sambil memeriksa tubuhnya.


Ah masih lengkap. Hijabnya pun masih terpasang di kepalanya.


Nuri terpaksa memperpanjang liburnya selama satu minggu. Ternyata menolak kehendak mertuanya tak segampang menolak kehendak Ibu kandungnya. Waktu seminggu di rumah besar Maya, Nuri tak di ijinkan memegang peralatan dapur sama sekali. Selain mbak Mar, ternyata ada Mbak Minah dan Mbok Jum yang melayani kebutuhan Nuri.

__ADS_1


Nuri merasa seperti seorang anak raja, kemana pun ia pergi pasti ada yang mengawalnya, walaupun itu di dalam rumah. Lama lama Nuri merasa risi dengan keadaan ini.


"Pak bilang sama Mama, aku gak mau di ikutin terus sama Mbak Mar dan Mbak Nah." Suatu malam Nuri mengadu kepada suaminya.


Agung yang sedang fokus ke layar laptop pun segera mengalihkan pandangannya kearah Nuri yang hendak tidur, lalu Agung mendekatinya.


"Apa kamu yakin ingin tidur seperti ini? Apa tak bisa kamu melepaskan hijabmu untukku?" Sentuhan lembut membuat jantung Nuri berloncat kembali.


Sungguh demi apa pun Nuri belum siap jika Agung akan meminta haknya saat ini.


"Aku hanya ingin melihat rambutmu saja. Tapi jika tak diijinkan ya tak mengapa. Aku akan menunggu sampai kamu siap." tuturnya.


Dengan perasaan ragu, Nuri melepas hijabnya. Toh sekarang Agung adalah suaminya.


"Sejak kapan kamu memanjangkan rambut? Setahuku kamu tak suka dengan rambut panjang." Agung mulai menghirup aroma yang melekat di rambut pekat Nuri yang kini panjang sepinggang.


"Bapak sok tau," elak Nuri.


Agung hanya terkekeh mendengar ucapan Nuri.


"Hei, tatap aku? Aku tak akan memaksamu untuk memberikan hakku. Aku akan tunggu kamu sampai kamu benar benar siap. Tapi jangan pernah menolak ku untuk..." Dengan pelan Agung menempelkan bibirnya ke bibir Nuri.


Awalnya hanya sebuah kecupan biasa setelah menempel satu menit tanpa ada respon dari Nuri, Agung malah menggigit bibir Nuri hingga pada akhirnya .. ( Ya begitulah.. Othor gak bisa mendetailkan. Bayangkanlah sendiri bagaiman kelanjutannya hhhh )

__ADS_1


__ADS_2