
...Gak seru ah, cerita uthor langsung...
...bisa di tebak ππ...
Selamat membaca...
Mendadak tubuh Nuri kaku seketika saat mengetahui siapa sosok yang sedang bersama dengan suaminya tersebut.
Dengan cepat, Via segera menjauhkan tubuhnya dari hadapan Agung.
"Maaf Nuri, kamu jangan salah paham. Aku hanya..."
"Cukup Via!" bentak Nuri.
"Ai, aku bisa jelaskan," ucap Agung menatap sendu istrinya.
"Apa yang ingin kalian jelaskan padaku? Jelas jelas aku melihat perempuan ini..." Nuri tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dadanya terasa sesak.
Namun, akal sehatnya masih bisa berjalan. Ia memilih segera duduk di sofa lalu menenggak sebotol air mineral yang sengaja ia bawa tadi.
Agung masih terpaku di single sofa, bagaimana menjelaskan kesalahan pahaman ini kepada sang istri.
"Ai, aku dan Via tidak melakukn apa apa. Via hanya membantuku. Mataku kelilipan saat menarik berkas di lemari itu. Sungguh tidak lebih dari itu." Pengakuan Agung.
Via hanya mampu meremas rok mininya, siapapun yang melihat pasti akan mengira bahwa ia sedang menggoda Agung. Apalagi saat Nuri datang posisi Via setengah membungkuk hendak meniup mata Agung.
"Ai, percayalah!" pinta Agung sungguh sungguh.
"Nuri, aku berani bersumpah bahwa aku hanya ingin membantu Agung, tidak ada yang kami lakukan selain itu," timpal Via dengan rasa gugup.
Via akui jika dirinya memang masih mengharapkan Agung kembali padanya. Sempat terbesit untuk merabut Agung dari tangan Nuri namun, pikiran itu ia buang jauh jauh saat dirinya mengetahui telah mengandung anak dari bosnya sendiri.
Apa yang akan ia banggakan dari dirinya sendiri yang tak sebanding dengan sosok Nuri.
Jika pun Via nekad merebut Agung, maka Maya adalah orang pertama yang akan berdiri di garda terdepan membela Nuri mengingat hubungan Via dan Maya kurang sehat.
Maya yang selalu menentang keras hubungan Via dan Agung kala itu, membuat Via sadar tak akan ada tempat dirinya di keluarga Agung.
"Maaf Agung, sepertinya pertemuan hari ini sampai disini saja, lain waktu bisa kita lanjutkan." Via undur diri segera melenggang keluar.
Nuri mengernyitkan dahinya. Apa? Lain waktu di lanjutkan lagi. Beraninya perempuan ini! Lihat saja besok!
Setelah kepergian Via, Nuri menatap Agung penuh amarah. Sorot matanya masih tajam bak seperti singa kelaparan.
__ADS_1
"Ai, aku benar benar minta maaf. Aku dan Via tidak melakukan apa apa. Kalau tidak percaya, coba lihat sini, masih ada sesuatu di mataku," ujar Agung sambil mengucek matanya.
Dengan berat Nuri ingin mastikan.
"Mana coba lihat!" ucap Nuri kasar.
Nuri meneliti bagian dalam mata Agung namun, tak ada seseuatu di sana. Jangan jangan ini hanya mudus mereka berdua agar bisa mengelak.
"Gak ada apa apa," ucap Nuri kesal.
"Ada kamu di kedua mataku," timpal Agung sambil mengedipkan matanya.
"Dasar modus!" umpat Nuri.
Sebisa mungkin Nuri menaham amarahnya, jika benar ucapan mereka berdua, berarti Nuri telah berdosa menuduh mereka yang tidak tidak.
Nuri takut jika ucapannya akan menjadi doa di kemudian hari. Membuang jauh pikirannya, meski terlalu berat untuknya.
Lebih baik makan dari pada memikirkan perempuan gatal tadi!
Setelah melewati makan bersama Agung, Nuri memilih menunggu suaminya hingga pulang. Bukan tidak percaya namun, entah mengapa ia ingin selalu berada di dekat Agung.
"Kalau kamu lelah, pulanglah!" saran Agung.
Astagfirullahaladzim, sabar Agung.
Agung hanya mengelus dadanya sambil fokus menatap layar laptopnya.
Lama kelamaan tak ada lagi suara Nuri. Hingga akhirnya Agung menghampiri Nuri yang telah memejmamkam mata.
Agung segera melepas jas yang ia kenakan saat ini lalu menutup perut rata Nuri.
"Ai, maaf." Agung mengecup kening Nuri.
Segera melanjutkan pekerjaan agar segera cepat selesai tepat waktu dan tidak lembur adalah tujuannya saat ini.
.....
Sepanjang perjalanan pulang, Nuri hanya terdiam.
Enggan memperdalam lagi apa yang ia lihat tadi siang. Semakin ia menggali lebih dalam, semakin sakit pula relung hatinya. Nuri membung nafas kasarnya, mengelus perutnya yang masih rata. Seolah dialah kekuatan terbesar saat ini.
"Ai, mau makan apa kita malam ini?" tanya Agung yang masih fokus dengan gagang setirnya.
__ADS_1
Nuri menatap kesamping, pandangan hanya melihat keramaian jalanan sore hari. Terlihat banyak penjual kaki lima mendirikan teda ala kadarnya di pinggir trotoar.
"Aku mau makan di rumah, mas," jawab Nuri sekilas.
Agung mengerti jika Nuri masih marah perihal kejadian tadi siang. Ia sungguh merutuki kecerobohannya yang menuruti ucapan Via untuk meniup matanya yang kelilipan debu.
"Baiklah, anak ayah pasti sudah lapar." Tangan kiri Agung mengusap perut rata Nuri lalu tersenyum.
Hanya dengan perlakuan seperti itu hati Nuri mendadak mencair. Ia juga ikut tersenyum menatap Agung yang sekilas menatap dirinya.
....
"Kamu mandi duluan sana, biar aku yang menyiapkan makan malam. Sebentar lagi magrib, perempuan hamil di larang mandi malam," ujar Agung.
"Tapi, mas..."
"Sudah sana!" usir Agung.
Nuri hanya menuruti ucapan suaminya, naik ke lantai atas lalu membersihkan dirinya.
Sementara di dapur, setelah melemparkan jas ke sofa, Agung segera menggulung kemejanya hingga ke siku.
Bertempur bersama wajan penggorengan itu sudah biasa baginya. Apalagi saat ini ia akan memasak untuk perempuan yang ia cintai. Kali ini ia ingin menebus kecerobohannya dengan menyiapkan makan malam yang special untuk Nuri. Memasak dengan bumbu cinta akan terasa lebih sempurna ketimbang dari garam dan penyedap rasa.
.
.
.
.
.
Maafkan Agung wahai para reader, sebab semua hanya kesalahan pahaman. Uthor juga gak rela kalau Mas Agung enaΒ² sama Via ππ
Cerita ini kagak ada velakor ya, uthor masih takut.
Takut kebawa ke Real Life.
Gitu aja penjelasan uthor,
Tebar tebar hadiah dong! Insha Allah, update udah mulai aktif ππ
__ADS_1