Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Telat


__ADS_3

Pagi ini Nuri terlambat berangkat ke gedung sekolah. Gara gara bangun kesiangan, ia harus subuhan di kamar dan mengantri untuk mandi.


Sarapan pun sudah tak berselera lagi.


Tak adalah satu pun temannya yang di asrama, mereka sudah meninggalkan tempat itu sejak 30 menit yang lalu.


"Ya Allah, semoga gak telat." Nuri berlari kecil menaiki anak tangga gedung sekolah.


Bel telah berbunyi dari tiga menit yang lalu.


Nafasnya tersenggal saat memasuki kelas. Beruntung saja ujian belum di mulai.


"Hampir saja, alhamdulillah belum mulai." Nuri menarik nafas lega.


Detik kemudian, guru memasuki kelas. Nuri segera merapikan jilbabnya yang sempat berantakan.


Matany bersinar saat saat melihat sang pengawas ujian hari ini. Tersenyum manis, sebab sudah hampir satu minggu tak bersua.


"Mas Adam," gumamnya.


Sesekali Nuri menarik nafas kala otaknya buntu belum menemukan jawabannya. Memainkan pensil di tangan, sesekali memukul pelan kepalanya. Netranya berkelana ke semua sudut ruangan berharap bisa menemukan jawaban.


Deg!


Jantungnya berdebar saat matanya menangkap sosok guru di ambang pintu.


Menebar senyuman ke ruang kelas, seolah ia sedang merasa bahagia.


"Dasar! masih bisa tebar tebar pesona sama semua murid," decak Nuri pelan.


Adam dan Agung, kedua guru tersebut menjadi petugas pengawas dan ada satu guru lagi dari luar sekolah.


Mondar mandir bak setrika, Agung mencoba mengawasi ketat murid muridnya. Langkahnya tepat di samping Nuri.


Nuri duduk di pojok paling belakang, sebab meja ujaian di urutkan sesuai nama dari abjad.


"Kenapa?" tanya Agung pelan.


Nuri mendongak. Menatap mata Agung, rasa kesal semalam mendadak hilang begitu saja.


Mata berwarna kecoklatan dan belahan di dagu membuat Nuri mengagumi betapa handsome lelaki di sampingnya saat ini.

__ADS_1


"Hem." Agung berdeham. Ia sadar bahwa Nuri sedang terpesona dengan ketampanannya.


Nuri segera sadar, lalu menetralkan pandangannya meski dibuat salah tingkah.


"Kerjakan dengan baik dan teliti! jangan buru buru!


Jika sudah selesai dikoreksi kembali. Gunakan waktu sebaik mungkin!" Suara itu menggema di ruangan.


.....


Sepulang sekolah, Nuri segera mengganti seragamnya dengan buju tidur lengan panjang bercorak Milky Mouse.


Membuka kembali buku pelajarannya. Karena ingin fokus, Nuri memilih menyendiri di samping gedung asrama yang di tumbuhi rumput jepang.


Menyendiri itu lebih nyaman bagi Nuri saat ini sebab, tiga Srikandi terlalu berisik menurut Nuri.


Duduk bersandar ditembok sambil menikmati alunan merdu ayat ayat alquran dari ponselnya Nuri terlihat lebih santai.


Gadis itu terkejut saat melihat sepsang kaki berdiri di depannya. Perlahan ia mendongak, menatap siapa pemilik sepasang kaki tersebut.


"Astaga, Bapak!" pekim Nuri kaget.


"Kenapa belajar di sini?" Agung duduk si samping Nuri lalu membuka kotak martabak.


"Pengen sendiri aja Pak, nyari suasana sepi. Eh, Bapak kok bisa di sini? Gak takut ada yang lihat?"


Agung tersenyum lalu menggeleng.


"Kalau ada yang lihat, bilang aja lagi ngajarin muridnya belajar. Kan, beres."


Diam diam Agung memperhatikan Nuri yang serius membaca buku bukunya.


Siapa yang bisa menahan gejolak dalam diri. Agung berdecak, meratapi dirinya. Saat ini status mereka adalah suami istri yang sah dimata hukum dan agama namun, Agung tak bisa menyentuhnya saat ini. Bahkan hanya untuk memegang tangannya saja.


Nuri merasa jika Agung memperhatikan dirinya.


"Kenapa, Pak? ada yang salah sama saya," tegur Nuri.


Agung mendadak gelagapan saat tertangkap basah oleh Nuri.


"Tidak! aku hanya berfikir, setelah lulus kamu mau kuliah dimana." Agung mencari alasan.

__ADS_1


Nuri mengangguk, berfikir sejenak.


Hanya tinggal hitungan hari saja, Nuri akan segera menjadi seorang mahasiswi, meskipun tidak ke Arab. Saat ini belajar adalah prioritas utamanya agar bisa masuk ke Universitas Negeri.


"Kamu kenapa kok senyum kagak gitu?" Agung menatap Nuri dengan perasaan berbunga. Entah mengapa senyuman itu bisa membuatnya nyaman.


Keduanya kini sama sama bersandar pada tembok bangunan. Sesekali Nuri melirik Agung yang juga ikut membaca buku pelajaran Nuri.


Sesekali Agung memberi penerangan dari isi buku tersebut.


Hanyut dalam suasana tersebut, Agung lupa tujuan utama menemui Nuri. Perlahan ia memasang wajah serius, menatap Nuri. "Kenapa pesan dan panggilanku tidak kamu jawab."


Tiba tiba tubuh Nuri menjadi kaku dan lidahnya kelu. Alasan apa yang harus ia berikan. Tidak mungkin ia bekata jujur, itu sama saja akan memperburuk Nama baiknya. Sejak kapan ia puny rasa cemburu.


"Anu... itu saya lupa, Pak!" jawab Nuri ragu.


"Kamu sedang berbohong. Saya tahu ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan," ucap Agung datar.


Nuri melihat jelas raut wajah mulai berbeda, dan dari ucapan Agung sedang ingin marah kepadanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hayo mana Like kalian?


Sebenernya aku mau konsisten buat Up 2x dalam satu hari, tapi ngeliat like yang kalian berikan menurun, kayaknya gak jadi deh aku Up 2x sehari.

__ADS_1


__ADS_2