Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Momen Langka


__ADS_3

Belum sempat Agung puas bergelayut manja, Nuri degan cepat melepaskannya. Agung heran tak mengerti namum, ia baru ngeh saat Nuri disapa oleh seseorang.


"Eh, Nuri? iyakan ini Nuri?" Rian, lelaki itu memastikan.


Nuri membuka kaca matanya. "Rian? iya ini aku," jawab Nuri bersemangat.


"Lama gak ketemu, kamu kok makin feminim kayak gini sih? sampek pangling aku lho." Rian mengagumi penampilan Nuri yang memang lebih anggun dengan balutan gamis.


Sibuk dengan ocehan kedua teman lama, Agung merasa diabaikan. Kali ini ia sengaja memberi ruang untuk Nuri menyapa teman lamanya. Agung tahu sebab dirinya pernah berjumpa dengan Rian kala di rumah Nuri. Tetap berdiri di samping Nuri dengan melipat kedua tangan di depan dadanya serta kaca mata hitam bertengger di depan matanya membuat sebagian orang mengira hanya turis asing.


"Oh, ya Nur, kamu mau ngelanjutin kuliah dimana?" tanya Rian.


"Belum tahu, perpisahan aja belum, cuma pengen masuk di U*M."


"Bagi Wa ngopo, Nur?" ( Bagi Wa napa? ) pinta Rian.


Saat Nuri akan merogoh ponselnya, tangan Agung mencegah lalu berdeham.


Astaga, Nuri telah melupakan sosok yang berdiri di sampingnya. Apa yang akan terjadi jika ia memberikan nomer ponselnya pada sosok Rian yang sangat Nuri kagumi kala itu. Nuri tersenyum, lalu mengurungkan niatnya.


"Anda siapa?" tanya Rian.


"Saya?" Agung melepas kaca matanya.


"O.. anda. Anda temannya Mas Azam kan? dimana Mas Azam? kalian liburan keluarga ya?" Begitulah daging tak beruntung tanpa rem.


"Kamu belum tahu siapa saya? saya su-" ucapan Agung terpotong seketika.


"Iya, kami satu keluarga, ya udah Ri, kita duluan ya! Da, Rian." Nuri melambaika tangan lalu menarik tangan Agung untuk segera menjauh. Nuri berharap kesalahannya hari ini tak berujung panjang. Mengambil hati Agung tidak lah sulit jika sudah tahu jurus penakluknya.


"Kita jadikan naik kuda?" tanya Nuri mesra.


"Bukan naik tapi menunggang," ralat Agung.


Nuri terkekeh geli jika mendengar kata tersebut.


.....


"Mas, takut." Nuri ragu untuk menaiki kuda ysng sudah jinak.


"Gak papa, naik aja!" titah Agung. Tetap saja Nuri menggeleng.


Agung terus mendesak, akhi Nuri terpaksa naik, walau sesungguhnya ia merasa sangat takut.


Dasar pemaksa!

__ADS_1


Tak menunggu lama, Agung pun menyusul Nuri naik. Satu kuda berdua, Nuri merasa kasian kepada kuda tersebut.


Duduk di belakang Nuri, Agung lah yang mengambil kendali untuk menjalankan kuda.


Hingga tak ada jarak lagi antara Nuri dan Agung.


Agung meletakkan dagunya di samping leher Nuri, hembusan nafas sangat jelas terasa.


Dengan tangan memeluk pinggang Nuri, Agung memegang tali pengendali kuda.


"Jangan takut, ada aku disini," bisik Agung.


Nuri tak bisa merasa tenang, ia takut terjatuh dan dibawa lari oleh kuda seperti berita yang pernah ia baca.


"Mas, udah yuk! aku takut," lirihnya.


"Satu putaran lagi ya," jawab Agung.


Memang suami gak peka!


Nuri bernafas lega saat Agung membantu dirinya untuk turun dari kuda tersebut. Seandainya bukan suaminya, mungkin Nuri akan langsung menendang wajahnya.


"Kita mau kemana lagii, Mas?" Agung sudah menggandeng tangan Nuri.


"Ya, jalan jalan di tepi pantai ini aja, udah jam lima, bentar lagi sunset tiba."


Bak seperti anak muda pada umumnya yang sedang kasmaran, Agung sesekali melihat kearah Nuri lalu tersenyum.


"Kenapa, Mas? ada sesuatu?" tanya Nuri saat mendapati Agung tersenyum sendiri.


"Gak ada," elak Agung.


Tak terasa warna langit telah berubah kuning keemasan. Penantian sepanjang hari telah di depan mata. Terlihat suasana sekitar pun sudah berubah. Tak ada lagi keramaian pengunjung.


Berdiri di tepi pantai sambil menikmati pergantian hari, seskali kaki mereka terken sapuan ombak.


Nuri terkejut saat melihat Agung telah berlutut di depannya, menggenggam telapak tangan Nuri.


Mata mereka beradu.


"Nuri Salsabila Ramadhani, maukah engku menjadi ibu dari anak anakku?" Nuri melotot mendengar ucapan Agung. Apakah ini caranya melamar? menggantikan waktu yang telah berlalu.


"Sudah terima saja, Mbak!" celetuk pasangan muda saat melewati mereka.


Bagaimna tidak diterima, lelaki ini suami saya, Mas, bati Nuri.

__ADS_1


Wajah Agung memelas menunggu jawaban dari istrinya. Tak tega melihatnya, Nuri mengangguk.


"Iya, saya mau," ucapnya.


"Seriously?" Agung mendongak, tersenyum licik.


Nuri mengangguk lagi. Agung segera berdiri, menatap Nuri dengan wajah berbinar.


"Kamu sudah setuju, ku harap kamu gak akan mengecewakanku." Agung meraih tubuh Nuri lalu memeluknya. Mencium pucuk kepalanya yang di balut oleh hijab.


"Aku istri kamu, jadi aku gak akan mengecewakanmu," lirih Nuri dalam dekapan Agung. Telapak tangan Agung mengusal usap pucuk kepala Nuri.


Agung tersenyum, semoga saja Nuri tak mengelak nanti. Berkelana dalam pemikiran yang jauh sambil menikmati hawa yang semakin dingin, Agung enggan melepaskan pelukannya.


Dengan jelas, Nuri bisa mendengarkan gemuru dalam dada suaminya.


Gadis itu menikmati dekapan hangat dari sang suami, hingga pada akhirnya Agung menggiring Nuri untuk pulang.


Ternyata di hamparan pasir, terlihat beberapa orang menjajakan jagung bakar, jagung dan kacang rebus.


Tak ingin melewatkan momen langka ini, Nuri memutuskan untuk menikmati jagung bakar.


Duduk lesehan diatas tikar yang telah di sediakan, Agung masih dalam suasana berbunga, bagaimana tidak, Nuri telah menyetujui permintaan untuk menjadi ibu dari calon anak anaknya.


Sebentar lagi para kecebong akan bersuka ria menempati rumah barunya.


Sepertinya malam ini Agung akan menginap di holet terdekat saja untuk membuat Nuri menjadi ibu dari anak anaknya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tekan Like!

__ADS_1


Sebentar lagi para kecebong tak akan mubazir keluar di closet lagi.


green minta minta hadiah pengen beli coklat palenten 😍


__ADS_2