
Tak terasa seminggu telah berlalu, dan kini Nuri telah terikat dalam ikatan pertunangan dengan Agung, guru galaknya.
Bukan sebuah keterpaksaan, namun Nuri hanya mengikuti kata hati saat menyetujuinya. Agung memang sosok lelaki idaman bagi kaum hawa, hanya saja dia terlalu cuek dan selalu dingin saat berhadapan dengan wanita.
Hari ini adalah hari terakhir Nuri di rumah. Besok ia sudah harus balik ke asrama menuntut ilmu kembali. Sebulan berada di kampung halaman bak hanya seminggu bagi Nuri. Rasanya kurang puas ia merasakan liburnya.
"Sudahlah Bu, gak usah banyak banyak." Nuri mendesah saat ibunya memasukan beberapa toples sambel orek yang terdiri dari tempe, kacang tanah dan ikan teri.
"Ibu kan cuma nitip untuk bu Nisa dan nak Agung," protes ibunya. Lagi lagi ibunya mengutamakan gurunya. Sepertinya saat ini Agung telah anak kandung Bu Aisyah. Nuri mendesah kesal.
"Mau kemana?" Tahu saja jika Nuri ingin keluar rumah. "Mau ke rumah Tami Bu, mau pamitan sama mereka." Walau bagaimana pun Nuri tetap menjaga persahabatan yang telah terjalin selama duduk di bangku SMP.
Dengan pelan Nuri menjalankan motor kesayangannya menikmati sejuknya angin yang menerpanya. Di depan pertigaan tiba tiba Nuri mengerem mendadak.
"Dasar," umpatnya.
Hampir saja motornya akan tercium oleh sebuah mobil putih yang hendak berbelok. Karena memang jalan masuk gang rumah Nuri tidak terlalu lebar.
"Mau kemana?" Suara pemilik mobil setelah turun dari mobilnya. Nuri tercengang. Dia lagi, batinnya.
"Mau ke rumah temen Pak," jawabnya jujur.
"Ayo pulang!" perintah Agung memaksa.
__ADS_1
"Apaan sih Pak, kan Nuri mau ketemu temen Nuri, kenapa disuruh pulang?" Kini Nuri terbawa emosi. Agung tetap memaksa, akhirnya Nuri mengalah dan putar balik ke rumah dengan perasaan jengkel.
"Lho, kok pulang lagi?" tanya bu Aisyah heran.
"Tuh tanya aja sama anak barunya Ibu." Nuri menunjuk ke arah Agung yang tengah berjalan menghampiri mereka.
Ibunya tahu saat ini anaknya dalam mode kesal.
"Hus, ngomong apa sih," lirih ibunya.
Bu Aisyah pun menyambut ramah ke datangan Agung. Nuri hanya samar samar mendengar percakapan ibu dan Agung dari dapur, sebab kini dirinya tengah membuatkan minum untuk Agung.
"Bapak ngapain lagi kesini," ucap Nuri sinis saat meletakkan gelas di hadapan Agung.
"Sana siap siap. Agung mengajakmu singgah ke rumahnya sebelum balik ke asrama."
"Maksud ibu?" Sungguh Nuri tak menangkap ucapan ibunya.
"Iya kamu berangkat ke asrama hari ini. Tapi singgah di rumah tante Maya. Besok baru kamu ke asrama di antar Agung."
"Ta- tapi Bu, Bapak kan gak di rumah. Nuri juga belum pamit sama Sari dan Tami." Alasan Nuri.
Berbagai cara penolakan tak bisa menggoyahkan perintah ibunya. Dengan terpaksa Nuri menuruti ucapan ibunya. Satu koper dan satu ransel besar.
__ADS_1
"Ini apa isinya? Banyak amat?" Agung yang menggeret koper merasa heran. Sebab saat pulang kemarin hanya ransel yang Nuri bawa.
"Bom buat menghancurkan Bapak," jelas Nuri.
Bu Aisyah dan Agung hanya tertawa mendengar ucapan Nuri.
Setelah bersalaman dan berpelukan, sebisa mungkin Nuri tak menangis.
Benar benar Nuri tak di beri kesempatan untuk menjumpai Tami dan Sari.
Mobil Agung telah meninggalkan pekarangan rumah Nuri dan tujuan utama adalah ruko pak Ali.
"Kalau mau nangis gak usah di tahan," ejek Agung.
"Semua gara gara bapak. Ngapain sih jemputnya hari ini. Harusnya kan besok," protes Nuri dengan sesenggukan. Entah sejak kapan Nuri tak malu menangis di depan lelaki.
"Saya hanya menjalankan perintah Mama, jadi kalau kamu mau marah silahkan marah sama mama Maya."
Nuri menatap Agung dengan kesal. "Alasan."
Tak terasa mobil telah terparkir di depan sebuah ruko milik Pak Ali. Tanpa menunggu lama Nuri turun dan mencari keberadaan bapaknya.
Agung hanya memperhatikan Nuri dari dalam mobilnya sebelum ikut turun untuk menjumpai calon mertuanya itu.
__ADS_1