Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Hadiah


__ADS_3

Hari hari telah berlalu, dan inilah hari ujian semester dua penentu naik atau tidak seorang siswa.


Suasana hening saat para siswa tengah mengerjakan soal ujian. Pengawasan sangat ketat. Kini bukan hanya wali kelas mereka yang mengawasi, namun ada beberapa guru dari sekolah lain turut mengawasi berjalanya ujian.


Semua siswa bernafas lega saat mendengar bel berbunyi.


Setelah kertas ujian terkumpul para siswa berhambur keluar kelas namun tidak dengan Nuri dan Tika. Kedua gadis itu berdiam di kelas menjadi pilihan mereka. Galih dan Ratna tak ingin memaksa kedua sahabatnya mungkin keduanya butuh ketenangan untuk menghadapi soal ujian berikutnya.


Nuri merasa sudah tak ada orang lagi selain dirinya dan Tika.


“Tika, aku harus jawab apa?” bisik Nuri pelan. Tika yang sudah mengerti arah pembicaraan tersebut kemudian menatapnya tajam. “Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, ikuti kata hatimu.”


“Tapi, di hatiku hanya ada ustad Hanaf.” Jawab Nuri polos. Tika yang mendengar jawaban itu langsung mencubit hidung Nuri.


“Aw, sakit tau.” Nuri segera menarik tangan Tika agar segera melepaskan cubitannya.


“Jangan bermimpi di siang bolong. Kamu itu tidak terdaftar dalam kamusnya beliau.” Tika menaikan nada suaranya membuat Nuri segera menutup mulut Tika.


“Ini bukan lapangan bola Tika,” geram Nuri.


Keduanya pun saling tatap dan tertawa setelah melihat kanan kirinya.


Terlihat Nuri ragu saat ingin memasuki sebuah ruangan. Nama indahnya sudah di panggil dua kali namun gadis itu masih berdiri di depan pintu.


“Udah sana masuk.” Galih segera mendorong tubuh Nuri. “Gitu aja payah,” lanjutnya.


Di dalam ruangan ternyata ada empat orang yang memang sangat Nuri kenal. Ustad Hanafi, Adam, Agung dan seorang wanita yang baru beberapa hari ini tinggal di asram ini. Dia bernama kak Zakiyah guru ngaji anak TPA.


“Sudah siap?” tanya Ustad Hanaf. Nuri hanya mengangguk. Perlahan ia tarik nafas panjang lalu ia hempaskan pelan.


“Tenang dan rilex,” saran dari Adam.


Nuri menuruti ucapan Adam. Walaupun gugup namun Nuri berhasil menyelesaikan ujiannya dengan baik.

__ADS_1


Setelah satu minggu menjalani ujian semua siswa merasa sangat lega. Mereka hanya tinggal menungu pembagian rapor saja. Sudah tak ada pelajaran lagi hanya mengisi absen setiap ke sekolah.


Begitulah setiap pagi hanya mengisi absen lalu setelah itu sebagian ada yang langsung pulang, ada juga masih tetap tinggal sekedar untuk bertemu dengan temannya.


“Nur, ini ada titipan dari pak Agung.” Rara adik kelas Nuri menyerahkan sebuah bingkisan kecil.


Untung saja saat itu mereka hanya berdua. Rara memang sedang mencari Nuri, namun saat melihatnya sedang berjalan sendiri Rara pun segera menghampiri.


“Makasih Ra,” ucap Nuri. Rara hanya tersenyum, “Makasih sama yang ngasih lah.” Rara tersenyum kemudian berlalu.


Nuri mengulum senyum kala menerima hadiah tersebut. Entah mengapa hatinya terasa beerbunga.


Bingkisan itu tidak terlalu besar, Nuri sangat penasaran apa isinya. Niat untuk membuka ia urungkan saat langkah kaki dari belakngnya mengagetkan dirinya.


“Hayo apa itu?” tanya Ratna. Nuri yang kaget gelagapan segera menyembunyikan di saku roknya.


“Bukan apa apa,” elaknya segera.


“Eh, Galih dimana?” tanya Nuri. Sebab ia baru menyadari tak melihat satu sahabatnya lagi.


“Dia masih di perpustakaan,” Ratna menjawab dengan malas. Nuri menyadari bahwa ada yang telah terlewatkan darinya dan mencoba menanyakan dengan Tika, namun ia tak menjawab hanya mengangkat kedua bahunya.


Sesampai di kamar asrama pun tak ada canda seperti biasanya. Galih yang biasanya suka usil dan tukang kepo hanya berdiam diri sambil membaca sebuah buku. Sementara Ratna sibuk memata baju ke dalam ke kopernya. Begitu juga Tika, ia merapikan lemari dan mengemasi baju yang akan ia bawa pulang sebab dua hari lagi pembagian rapor. Otomatis setelah itu mereka akan menikmati libur panjang.


Nuri yang telah naik di ranjangnya hanya mengamati temanny berberes.


Ting


Satu pesan masuk. Nuri segera mencari ponselnya.


[Ku harap kau menyukainya. Walau tak ada nilainya untukmu tapi ku harap kau akan mengingatku di setiap lafal-Nya.]


Deg.

__ADS_1


Seketika Nuri teringat sebuah benda yng masih terselip di saku roknya. Dengan cepat ia menuruni ranjangnya dengan rasa penasaran dan berbunga.


Karena para sahabatnya sedang sibuk dengan kegiatan masing masing Nuri merasa lega tak ada yang melihatnya saat ia mengambil bingkisan itu dan naik lagi ke ranjangnya.


“Huh, lega,” gumamnya.


Sebuah tasbih kecil berwarna coklat keemasan.


“Subhanallah,” gumam Nuri sambil membolak balikan benda itu.


Ini adalah kali pertama Nuri mendapat hadiah dari orang lain setelah dari Adam dan Azam.


Segera ia cari nama Mr A di ponselnya. Lalu ia ketik sebuah pesan untuknya.


[Terimakasih pak, saya suka.]


Tak berapa lama sebuah balasan pun masauk lagi di ponsel Nuri membuat gadis itu hanya mengembangkn senyumnya.


“Aku juga suka.” Tanpa di sadari Tika sudah duduk di ranjangnya dan menatap kagum tasbih tersebut.


Nuri segera membungkam mulut Tika. Alhasil membuat Tika meronta membuat Ratna dan Galih terusik.


“Bisa gak sih gak usah ketawa kek gitu.” Galih merasa terusik.


Sementara Ratna malah ikut naik ke ranjang Nuri.


“Aku tahu yang sedang kalin sembunyikan.” Galih segera menggeledah setiap celah di kasur Nuri.


Untung saja sudah ku masukan di kantong bajuku. Batin Nuri.


Maaf lama Up sebab dunia nyata Author sangat banyak menyita waktu.


Selamat membaca, semoga kalian suka

__ADS_1


__ADS_2