Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Ikuti Kata Hati


__ADS_3

Dua minggu lagi menuju ujian kenaikan kelas, dan sudah satu minggu ini juga semua kelas melaksanakan ujian percobaan.


Nuri telah mempersiapkan diri sejak jauh jauh hari. Ia harus bisa membuktikan bahwa dirinya adalah yang terbaik.


Sejak satu minggu ini pesan singkat dari aplikasi berwarna hijau itu selalu ia terima. Kata kata penyemangat untuknya membuat Nuri merasa bahagia.


Awalnya Nuri tak ingin membalas pesan tersebut, namun semakin ia abaikan semakin sering pesan itu masuk dan itu sangat mengganggu.


Akhirnya Nuri pun membalas pesan tersebut. Awalnya hanya ingin mengatakan ucapan terimakasih saja namun lama kelamaan Nuri semakin menikmati obrolan pesan singkat tersebut.


Sampai saat ini Nuri belum melihat sang pelaku, sebab kelas Nuri sudah siap ujian percobaan untuk mata pelajaran sang pelaku.


Nuri yang sudah menepati janjinya kepada Haris membuatnya merasa lega.


Begitu juga dengan para sahabatnya. Keempat gadis itu masih setia duduk di kantin. Galih berusaha memaksa Nuri untuk kembali ke kelas namun nyatanya gadis itu masih malas untuk beranjak.


Galih berusaha untuk mengintip kepada siapa Nuri chattingan namun Nuri segera menutup layar ponselnya.


“Dosa loh, ngintip ngintip,” seloroh Nuri.

__ADS_1


“Dosa juga tau, kalau main rahasiaan sama sahabatnya sendiri.” Ratna ikut menimpali.


“Cerita dong siapa dia,” bujuk Galih kepo.


“Eh, jangan bilang Nuri udah di lamar, kan dia bilang gak mau pacaran. Jangan jangan kalian udah mau nikah.” Dengan kepolosan Galih yang super kepo akhirnya mendapat ketukan di jidatnya.


“Dasar, anak ini. Jangan samakan kamu dengan Nuri. Nikah mah itu pikiran kamu.” Tika mulai angkat bicara.


Nuri tak menjawab kehebohan dari para sahabatnya. Ia menepis semua pertanyaan. Akan kah benar ucapan Galih?


Saat menuruni tangga pengedaran Nuri menangkap sosok Mr Agung yang hanya manis di dunia maya saja. Nyatanya ia akan jutek saat berada di dunia nyata.


“Nuri.” Dari belakang Galih memanggilnya membuat Nuri tersentak.


Ketiga sahabat Nuri memberi ucapan salam sebelum Mr Agung beranjak pergi.


“Nuri.” Kali ini Tika menyenggol bahunya. “Payah,” bisiknya lagi.


Malam ini Nuri gelisah tak bisa memejamkan matanya, sementara semua penghuni kamar sudah larut dalam mimpi mereka.

__ADS_1


Di raihnya ponsel lalu ia mendesah kesal.


“Dasar bodoh, apa yang sedang ku pikirkan? Berharap mendapat sebuah pesan,” gerutunya di atas ranjang.


“Berisik tau.” Suara dari bawah. Nuri yakin itu adalah suara Tika. Nuri berusaha bangkit dan mengintip kebawah.


“Tika, aku tahu kamu belum tidur. Naik lah aku ingin bercerita.” Dengan sekejap Tika sudah berada di ranjang atas.


“Why? Ada masalah?” Tika kini merebahkan dirinya bersama dengan Nuri.


Dengan suara pelan Nuri mengeluarkan semua perasaan yang mengganjal selama beberapa hari ini.


Ia tahu bahwa Tika bisa memberi solusi atas masalah perasaanya selama ini setelah mengetahui bahwa Agung adalah lelaki yang pernah ia harapkan semasa kecil dahulu.


“Ikuti kata hatimu, sebab hati tak bisa di bohongi. Aku tahu bahwa pangeranmu Kecilmu juga mengharapkanmu sebagai istrinya kelak.” Tika menatap mata Nuri yang masih berusaha mencerna ucapan Tika.


“Kenapa kamu bisa yakin?”


“Ya itu kata hatiku.” Tika terkekeh melihat raut wajah Nuri yang tengah serius.

__ADS_1


“Sudahlah, ayo tidur. Percayalah akan ucapan ku tadi.” Tika segera menarik selimutnya. Malam ini ia tidur seranjang dengan Nuri. ( Asli murni tidur biasa ya, jangan bayangin yang macam macam )


__ADS_2