Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Kakak Senior


__ADS_3

Seminggu menjadi maba, Nuri sangat sibuk dengan tugas status barunya sebagai mahasiswa.


Beberapa hari mengikuti Ospek kampus, Nuri harus rela mengurangi waktu berpacu dengam sumianya. Berangkat pagi dan pulang sore, membuat Nuri merasa lelah, apalagi jika Agung meminta tambah. Nuri membatasi aktivitas malamnya dengan Agung. Hanya ada satu episode setiap malam. Meski marasa kecewa namun, Agung memahami keputusan istrinya.


"Kecebong yang terlalu sering dikeluarkan kemungkinan besar tidak akan menjadi bibit unggul," ucap Nuri saat Agung meminta lagi tengah malam.


....


Agung mengantar Nuri hingga depan gerbang kampusnya sebelum dirinya berangkat ke pondok.


Berbagi nasehat dituturkan kepada sang istri agar menjaga diri dengn baik. Nuri tersenyum, sebelum turun, Nuri menyalam tangan Agung.


"Jangan pulang sendiri. Tunggu aku menjemputmu. Mengerti?" pesan Agung.


Dengan sigap Nuri menghormat. "Siap, bos." Kemudian ia tertawa.


Agung mengamati langkah Nuri masuk kedalam kampus. Setelah berhasil mendarat kecupan singkat, Agung baru bisa melepaskan istrinya untuk turun dari mobilnya. Setelah bayngm Nuri tak terlihat, Agung mulai menjalankan mobilnya.


Menjadi maba ternyata tak seseram yang ia bayangkan. Para senior memilih cara pendekatan yang baik terhadap para adik juniornya. Seperti makan bersama kemarin. Para kakak senior dengan suka rela membawakan nasi bungkus untuk para maba.


Selama masa Ospel, Nuri telah berkenalan dengan beberapa teman baru. Sebut saja Zahra, gadis satu jurusan dengan dirinya. Nuri tertarik dengan kepolosan gadis tersebut.


Baru dua hari berteman dengan Zahra, Nuri sudah merasa nyaman dengan gadis tersebut.


"Hai, Nuri!" sapa Zahra.


Nuri tersenyum. "Hai juga, Zahra. Semalat pagi," balas Nuri.


Beberapa para maba yang satu jurusan pun dengan cepat bisa mengenal nama Nuri. Kejadian itu bermula saat makrab Nuri mendapat tantangan untuk bernyanyi.


Suara merdu dan petikan gitar membuat para teman dan seniornya terkesima mendengarkannya.

__ADS_1


Dari situlah nama Nuri melambung.


...


Nuri tengah duduk berdua dengan Zahra di samping taman kecil. Setelah resmi berteman keduanya terlihat sangat akur.


"Nuri, aku salut denganmu, tal ku sangka ternyata kamu mempunyai bakat yang tersembunyi," puji Zahrah.


Tak ingin tinggi hari Nuri tersenyum. "Aku tidaklah sehebat itu, Zahra," pungkas Nuri.


"Bahkan aku lupa sejak kapan aku bisa main gitar. Aku hanya melihat kedua kakakku selalu memainkan lalu aku tertarik begitu saja," sambungnya lagi.


"Wow, hebat," puji Zahra lagi.


Namun, keduanya harus berhenti berbincang saat seorang senior menghmpirinya. Zahra sudah menduga pasti dia adalah salah satu lelaki yng terpesona oleh aura Nuri.


"Hai," sapanya.


Lelaki itu menggeleng. "Tidak. Aku hanya sedang lewat saja. Tak sengaja melihat kalian asik disni. Boleh gabung?"


Zahra melihat Nuri yang biasa saja. Padahal kakak senior yang berada tepat di hadapan mereka terlihat sangat tampan, kalau Zahrah tak salah ingat namanya adalah Juna.


"Boleh dong, kak," sahut Zahra cepat.


Bagaimana mungkin Zahrah akan membuang waktu emas, bisa bersitatap dengan senior yang tampan.


"Kamu Nuri 'kan?" Juna segera menegur Nuri yang tak kunjung berbicara kepadanya.


"Iya, kak," jawab Nuri.


Juna hanya mengernyitkan dahinya, baru kali ini ia menyapa perempuan namun, hanya di respon biasa saja. Biasanya anak maba akan histeris saat Juna menyapanya. Namun, berbeda dengan Nuri, gadia itu terlihat acuh.

__ADS_1


"Masih ingaat denganku?" tanya Juna.


Muluy Zahra sudah membuka namun, Juna memberi isyarat agar Zahra diam.


Nuri menggeleng pelan sambil menyengir. Nuri memang mengingatnya namun, ia lupa siapa namnya.


Seingatnya, dia adalah senior yang saat makrab memberikan bunga setelah ia menunjukkan bakatnya.


"Arjuna Siregar. Lelaki tampan dari Medan. Kamu harus ingat itu!" Juna sengaja mengerlingkan matanya kepada Nuri.


Ingin Nuri tertawa saat ini namun lagi lagi ia teringat pesan suaminya agar menjaga jarak dengan lawan jenisnya.


Setelah kepergian Juna, Zahra merutuki kesalahan Nuri yang tak mengetahui siapa Juna, lelaki yang baru saja menghampiri mereka.


"Kamu bener bener ya, Nur! itu senior terpopuler di kampus ini," ucap Zahra.


"Sok tahu," Nuri tak merespon ucapan Zahra.


"Bukan sok tahu. Memang seperti itu. Selama satu minggu kamu kemana sih? apa tak mendengar gosip yang berjalan?


Nuri menghentikan langkahnya. "Iya, aku nyerah debat sama kamu." Nuri mengalah, mengakui kesalahannya yang tak mengetahui sosok Juna. Bagaimana ia bisa memperhatikan lelaki lain, jika di dalam pikirannya hanya ada bayangan Agung seorang yang telah mampu mengunci jiwa dan pikirannya.


.


.


.


.


Moon maap kemarin kagak bisa Up.

__ADS_1


Kegiatan dunia nyata begitu sangat menyita waktu sehingga uthor kagak sempat nulis.


__ADS_2