
Minggu pagi Nuri sengaja menunggu tukang sayur yang biasa lewat depan kompleksnya.
Seperti biasa ibu ibu juga sudah menunggu di sana.
Nuri merasa canggung sebab ini adalah pertama kalinya ia berbelanja sayur di depan rumahnya.
Iya, depan rumah Nuri adalah tempat para ibu ibu kompleks menunggu mbak Mariyam, tukang sayur keliling.
"Oalah, ini to menantunya bu Maya, ayu yo," oceh salah satu diantar ibu ibu tersebut.
"Mbak, sini! gak usah sungkan!" panggil ibu ibu bertubuh langsing nan singset.
Nuri hanya tersenyum lalu melangkah menghampiri lima orang tetangganya.
"Mbak Nuri sini!" panggil seorang ibu paruh baya namun terlihat jelas dialah yang paling berbobot badannya ketimbang yang lainya.
"Kenalin ini namanya mbak Nuri, dia masih kuliah. Cantik kan? kayak selebgram yang namanya Olivia... ah, entah apa kepanjangannya itu," lanjutnya lagi.
Tak seperti yang Nuri bayangkan sebelumnya, ternyata para ibu ibu sangat ramah meski penampilannya terlihat kece dengan status sebagai ibu rumah tangga.
Nuri pun baru tahu jika sosok ibu yang paling berbobot itu adalah istrinya Pak RT. Pantas saja ia tahu tentang dirinya.
Tak lama setelah perkenalan, Mbak Mariyam datang dengan motor berkranjang yang berisi sayuran segar dari pasar.
"Sayur... sayur...!" teriaknya.
"Oalah, udah pada ngumpul to? Maaf pasar rame tenan."
__ADS_1
Seperti biasa terjadi tawar menawar antar Mbak Mariyam dengan para emak emak kece, meski itu hanya 500 perak.
"Lha iki sopo cah? penghuni baru?" tanya Mbak Mariyam kala Nuri ikut memilih sayuran.
"Ini lho, yang pernah tak ceritakan kemaren, menantunya Bu Maya," terang Bu Endah, istri pak RT dengan logat jawa.
"Cen ora ngapusi lho, Bu Endah ki. Pasti bojone yo guantenge pol.
( Ternyata gak bohong lho, Bu Endah ini. Pasti suaminya tampan sekali ) ucap Mbak Mariyam kembali.
"Gak usah malu malu, belanja sepuasnya saya kasih potongan lima ribu," pungkasnya.
Sontak membuat kelima pelanggannya menuntun mbak Mariyam.
"Ora iso! Ini khusus pelanggan baru! Kalian ini kan pelanggan karatan," protes mbak Mariyam kemudian.
Nuri menyunggingkan senyumnya serambi menahan tawanya melihat cara mereka bersendau gurau. Tak pernah Nuri alami sebelumnya, ternyata belanja pada tukang sayur keliling lebih menyenangkan ketimbang pergi ke pasar sendiri. Selain bisa merasakan kerukunan juga memperluas gosip. Nauzubillah Nuri mundur pelan pelan saat mereka telah menceritakan si A si B sampai si Z.
"Ya wis sana. Kami ngerti kok, pasutri muda itu masih anget angetnya," goda Bu Endah.
"Salam buat mas-nya ya mbak Nur!" teriak Elsa, janda muda yang bertubuh langsing singset.
"Huuu...." teriak yang lainnya mengejek.
Baru saja Nuri membuka pintu, Agung sudah berdiri di depannya.
"Pengalaman baru, seru kayaknya," sindir Agung.
__ADS_1
Ternyata Agung sedari tadi mengintip dari balik tirai jendela saat mendengar ribut di depan rumahnya, awalnya ia pikir sedang ada pertengkaran, tapi ternyata adalah kehebohan para ibu ibu kompleks dengan tukang sayur.
🍂 🍂 🍂
Setelah menyantap sarapan, keduanya segera berkemas untuk ke rumah sakit. Semalam Agung telah menceritakan tentang kejadian pagi itu serta kondisi sang papa. Nuri ikut prihatin meski ia merasa bersalah telah berburuk sangka terhadap suaminya.
Tiga puluh menit menempuh perjalanan, kini Agung dan Nuri telah berada di salah satu rumah sakit ternama.
Terlihat Maya berada sendiri di ruangan rawat suaminya. Dayu telah melewati masa kritisnya namun, kondisinya masih lemah.
"Mama yang sabar ya, maaf Nuri gak tahu kalau papa sakit," ucap Nuri sambil memeluk tubuh Maya.
"Sudahlah, tidak apa apa, Papa juga sudah mendingan kok, tinggal pemulihan aja," ungkap Maya seraya membelai pucuk jilbab yang Nuri kenakan.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like
komen
__ADS_1
Kasih hadiah
Setangkai bunga sungguh sangat berharga. 🌹