Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Berita Pagi


__ADS_3

Malam terasa sangat lambat untuk menggantikan fajar. Beberapa kali Nuri membolak balikaan badannya untuk memejamkan mata namun, tak kunjung berhasil.


Meski waktu sudah menunjuk pukul 02.00 malam, mata Nuri masih belum bisa mengatup.


Meskipun ia mencoba tak memikirkan suaminya namun, naluri hatinya tak bisa menyangkal untuk tak memikirkan Agung.


Nuri mengambil ponsol di atas nakas, berharap kali ini sambungan terjawab oleh Agung.


"Mas Agung kemana, sih?" gerutunya kembali saat panggilan tak terjawab.


Nuri merebahkan tubuhnya dengan kesal.


"Nomer Ilyas pun juga gak punya," ocehnya lagi.


Ia baru menyesali, kenapa ia tak pernah berpikir untuk meminta nomer ponsel Ilyas.


Nuri berusaha memejamkan matanya agar bisa terlelap. Namun, terasa belum lama ia memejamkan mata, suara Adzab telah berkumandang. Dengan langkah malas ia segera menuju kamar mandi.


Meski hanya dua jam lebih ia tidur namun, tak membuatnya merasakan kantuk berat.


Pagi ini mbak Inah dan pak Mun sengaja pergi ke pasar berdua. Karena mbak Inah akan membeli perlengkapan bulan, maka ia mengajak pak Mun.

__ADS_1


Nuri yang menyadari rumah sepi, memilih menyeduh teh sendiri. Menikmati secangkir teh di pagi hari mungkin akan membuat perasaannya lebih tenang.


Membiarkan dua bocah kecil tertidur lebih lama mungkin juga akan lebih baik. Ia bisa menonton berita pagi ini.


Awalnya Nuri tak berniat menonton acara televisi, karena hampir semua stasiun televisi menyiarkan berita yang sama.


Namun, matanya melotot kala mendengar tim SAR sedang mengevaluasi bangkai pesawat yang terjatuh kemarin di perairan Bali.


Nuri semakin memberanikan diri menonton berita itu. Hingga terlihat jelas puing puing badan pesawat. Dan lebih parahnya itu adalah pesawat dengan tujuan ke Makasar.


Nuri segera menutup mulutnya. Menggeleng tak percaya. Ia pun berlari ke kamar untuk mengambil ponselnya.


Ia tak bisa mengendalikan diri. Menuruni anak tangga dan duduk di sofa kembali.


Tangannya gemetar, matanya yang tak bisa menahan air mata terus mengalir. Dadanya naik turun sesenggukan.


Beberapa kali Nuri menghubungi Maya namun, wanita yang menjadi mertuanya itu juga tak mengangkat teleponnya.


Nuri kembali terisak hingga pak Mun dan mbak Inah masuk ke dalam rumah.


"Lho, Ibu kenapa?" Mbak Inah yang menyadari majikannya sedang menangis segera menghampirinya.

__ADS_1


"Ibu kenapa?" Ulangnya lagi.


Tak ada jawaban dari majikannya. Nuri hanya menunjuk ke arah televisi.


Mbak Inah yang mendengarkan berita pagi ini juga masih syok. Ia benar benar tak percaya jika tuannya akan pergi dengan begitu cepat.


"Ibu yang sabar, kita berdoa mudah mudahan bapak baik baik saja," hibur Mbak Inah.


"Iya Mbak. Tapi jika itu terjadi gimana nasib kami? gimana anak anak?" adunya pada mbak Inah.


Nuri masih terisak dalam dekapan mbak Inah, sementara itu Brayan dan Briyan datang menghampiri dua wanita yang masih sama sama terisak.


"Mama kenapa?" tanya kedua bocah itu bersamaan.


Nuri tak menjawab dan malah segera memeluk keduanya dengan erat. Apa yang akan Nuri jelaskan kepada kedua bocah di hadapnnya ini. Sungguh ia tak sanggup mengatakannya.


"Aku tahu, Mama rindu sama Papa makanya Mama nangis," ucap Briyan.


"Mama sabar ya. Lusa Papa pasti pulang," timpal Brayan.


Mbak Inah tak mampu berkata apa apa lagi, Ia pun menitihkn air matanya saat melihat dua bocah polos yang menggemaskan itu tak mengetahui apa yang sedang di rasakan oleh ibu mereka.

__ADS_1


__ADS_2