
Hubungan Agung dan Nuri kini telah ada perkembangannya. Dari mulai panggilan dan hingga sering mengobrol saat berjumpa. Nuri telah berusaha membuka hatinya untuk Agung. Saat weekend Agung sering mengajak Nuri untuk jalan jalan, memanfaatkan waktu liburnya dengan sebaik mungkin bersama Nuri.
Maya bahagia melihat perkembangan Agung terhadap Nuri. Ia berharap Nuri adalah penawar dari rasa sakit hatinya.
Maya Dan Danu telah menyiapkan rumah untuk mereka berdua. Saat Nuri lulus kelak, harapan Maya hanya satu, segera menimang cucu.
Waktu berjalan begitu saja, tanpa terasa UAS telah di depan mata. Seminggu menuju babak final, semua siswa belajar dengan sungguh sungguh, begitu juga dengan Nuri.
Sore itu ponsel Nuri terus saja berdering, pesan pun bermunculan. Siapa lagi kalau bukan Maya. Mertuanya itu menyuruh Agung dan Nuri untuk pulang sebab, sudah dua minggu anak dan menantunya lebih memilih mendekam di asrama.
"Kenapa gak diangkat sih?" tanya Tika heran. Tak ada jawaban, Nuri malah mengaktifkan mode getar saja.
Malam minggu selepas Isya' Nuri memilih naik ke ranjang tempat tidurnya yang berada di atas Tika.
Kali ini ia putuskan untuk vidio call-an bersama Agung.
Saat layar ponsel menampakkan wajah Agung yang masih berkopiah, Nuri merasa adem.
'Udah belajar?'
"Udah dong Mas, eh, Pak." Nuri cekikikan saat mulutnya keseleo. Begitu juga dengan Agung di seberang sana.
'Aku lebih suka di panggil Mas'
"Ingat, Pak ini di mana."
Beruntung di kamar orang selain dirinya, jadi ia tak perlu khawatir ada yang menguping.
Karena malam minggu, sebagai santri ikut berlatih Rebana sebagian juga ada yang pulang.
Satu jam lebih Nuri hanyut dalam kemesraan walau hanya sebatas lewat ponsel saja.
Nuri mengakhirinya saat mendengar derap langkah serta kasak kusuk saat hendak membuka pintu kamar.
Beberapa teman sekaligus Ratna dan Galih.
__ADS_1
"Ih, gak seru kamu Nur!" teriak Ratna.
"Gak usah pura pura belajar, aku tahu kamu main hp tadi kan?" terka Galih.
"Ih, apaan sih kalian? aku tuh belajar lho," alibi Nuri.
......
Seperti janji tadi malam, Nuri beserta beberapa santri lainnya bersepeda pagi. Setelah meminta izin kepada Bu Nisa dan di temani oleh Kak Zakiah dan Azam, mereka pun semangat untuk bersepeda pagi.
Tak ingin membuang waktu berharga, Agung pun turut dalam kegiatan pagi itu.
Melihat Agung berada di barisan belakang, Nuri meminta Ratna untuk berhenti.
"Kenapa tanya?" tanya Tika
"Duluan ajalah, aku mau PDKT dulu sama Mr," ucap Nuri. Tika menoleh kebelakang. "Dasar."
"Pagi Bapak Jallaludin," sapa Nuri genit.
"Kenapa berhenti?" tanya Agung.
"Mau numpang sama Bapak," jawab Nuri spontan.
"Okelah kalau begitu, saya permisi. Semoga kalian tidak lupa jalan pulang." Tika mengayuh sepedanya meninggal kedua orang tersebut.
Nuri segera naik dalam boncengan Agung.
Agung sengaja melambatkan pedalnya.
"Kita mau kemana nih," tanya Agung.
"Terserah Bapak ajalah."
"Coba ulangi! aku mau denger kamu panggil aku kayak tadi malam."
__ADS_1
Nuri mengerutkan dahinya. Jujur saja ia masih malu. Tadi malam adalah salah bibir yang keseleo.
"Ayo!" titah Agung.
"Iya deh. Terserah Mas aja, mau bawa aku kemana."
Keduanya mengulum senyum di bibir masing masing. Agung memilih memisah dari rombongan. Ia membawa Nuri menjauh dari para santri lainnya.
"Lho, kita mau kemana Pak, eh- Mas?" Nuri terkejut saat Agung mengambil jalan lain.
"Jalan jalan aja. Biar lama kita jalannya."
Tanpa rasa ragu lagi, Agung meraih tangan Nuri untuk memeluk pinggangnya.
"Malu Pak di lihatin orang."
"Gak papa toh mereka gak ngenalin kita."
Meski malu Nuri segera melingkarkan kedua lengannya untuk memeluk pinggang Agung. Dadanya kembali bergerumuh. Nuri menyandarkan kepalanya yang berbalut hijab ke badan Agung. Menghirup aroma khas maskulin membuatnya merasa lebih nyaman.
"Nah, kan lebih nyaman rasanya," ucap Agung.
Meski hanya bersepeda namun keduanya sangat menikmati. Bukan kemewahan yang menjamin sebuah kebahagiaan namun, kesederhanaan yang di landasi oleh ketulusan-lah yang mampu menciptakan rasa kebahagiaan sejuta rasa.
.
.
.
.
Mana nih likenya? Kalian mah gitu 🤔 abis baca kagak mau like. Kan sedih aku jadinya.
Aku udah berusaha lho buat Up tiap hari, meski sangat sulit aku membagi waktu.
__ADS_1