Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Panggilan Baru


__ADS_3

"Yeii... Mama menang!" teriak Nuri girang.


"Yah... Mama curang," keluh Briyan lesu.


Tak lama setelah selesai masak Nuri segera bergabung ke tepat tiga lelaki beda usia itu. Tanpa aba aba Nuri meletakkan mobilannya di tengah lalu menjalankan hingga ke garis yang telah mereka tandai sebagai garis finish.


"Mama gak seru! Ulang!" sahut Brayan.


Nuri hanya tertawa sambil berjoget ria sambil mengejek ketiga lelaki beda usia itu.


Agung menggelengkan kepalanya melihat tingkah menggemaskan dari istrinya.


Jarang sekali ia bisa melihat Nuri sebahagia ini mengingat selama ini dia dan istrinya sama sama sibuk dengan kegiatan masing masing.


"Pa, Mama curang!" adu Briyan.


"Baiklah, mari kita ulang lagi! Kita lihat siapa yang menang." Agung tersenyum kearah Nuri.


"Siapa takut," sahut Brayan.


"Mama ayo!" teriak Briyan tak sabar.


Setelah permainan dimulai hanya terdengar teriakan dari ke empat orang tersebut. Tak jarang Nuri menyenggol tangan suaminya agar hilang kendali saat mengatur remotnya. Namun tak terlihat Agung kesal ia malah sangat menikmati suasana seperti ini.


"Papa, ayo cepat!" ujar Nuri.

__ADS_1


Deg...


Entah mengapa dada Agung terasa berdesir padahal mereka bukan sedang berpacaran tapi rasanya seperti berbunga bunga mendengar panggilan baru dari istrinya.


"Papa ngelamun aja," decak Briyan.


Keempat mobilan itu di pacu dengan kecepatan tinggi saat sudah hampir mendekati garis finish.


Dan tak lama setelah itu. "Yeii aku menang...!!" teriak Brayan sambil melompat. Karena saking bahagianya ia segera melompat kearah Agung, dengan cepat bocah kecil itupun sudah berada di dalam gondongan Agung.


"Aku juga," rengek Briayan sambil mengangkat kedua tangannya kala melihat Brayan telah di gendong oleh Agung.


Seketika Brayan tersadar siapa sosok yang sedang menggendongnya. Ia ingin memberontak namun, tak bisa ia pungkiri bahwa ia pun juga merindukan sosok Agung yang penuh kehangatan.


Dengan setengah jongkok, Agung meraih tubuh mungil Briyan. Dengan sekejab, kedua bocah itu sudah berada dalam gendongan Agung.


. . .


Setelah makan malam, Nuri dan kedua anaknya menonton televisi. Sementara Agung mencoba membuka laptopnya untuk mengecek emailnya.


Ia mendesah pelan saat membaca satu persatuan email yang ia terima. Baru satu hari ia libur, pekerjaan kantornya sudah mengalami kendala. Bagaimana jika ia ambil cuti untuk liburan bulan depan.


Saat itu Nuri telah berhasil menidurkan dua buah hatinya dengan sedikit perasaan bahagia saat mengingat kejadian sore tadi. Ia hanya mampu berharap keluarga kecilnya bahagia, meskipun itu dengan cara sederhana.


Nuri memasuki kamarnya hendak mengistirahatkan tubuhnya yang sudah mulai terasa lelah seharian beraktivitas. Namun, sepertinya ia mencari sesuatu, dengan cepat ia menggeledah seisi ruangan kamarnya dan hasilnya nihil.

__ADS_1


"Kemana dia," gumam Nuri. Wanita itu ternyata sedang kehilangan Agung.


Ia berniat mencarinya di lantai bawah namun, langkahnya terhenti saat melihat pintu ruang kerja Agung terbuka sedikit.


Nuri merasa lega kala melihat sosok Agung sedang berada di dalam. Dengan langkah pelan ia menghampiri suaminya yang terlihat sangat serius di depan laptopnya.


"Mas," panggil Nuri.


Sepertinya Agung tak mendengar panggilan Nuri hingga ia memilih meletakkan tangannya di pundak Agung.


Sang empunya kemudian menoleh.


"Ada apa," tanya Agung.


"Serius amat sih sampai gak dengar panggilanku?" gerutu Nuri.


Agung mengecup tangan Nuri, meski tak pergi ke kantor namun, wajahnya terlihat lesu.


Menyadari akan hal itu, Nuri segera menutup paksa laptopnya.


"Sudah malam, waktunya istirahat," ucap Nuri.


Agung terkekeh. "Iya Mama sayang."


"Ma, boleh?" bisik Agung mesra. Nuri bergidik merinding mendengar panggilan Agung.

__ADS_1


"Ma," bisik Agung lagi.


__ADS_2