
Saat Nuri memasuki kamar ia langsung merasakan hawa panas saat melihat dua orang sahabatnya tengah mendebatkan sesuatu. Tak seperti biasanya Ratna yang tak pernah terbawa emosi saat menghadapi masalah kini dirinya tengah berapi api meladeni setiap ucapan Galih. Nuri segera menghampiri keduanya namun seketika mereka terdiam seolah sedang baik baik saja.
“Aku tahu kalian lagi gak baikan. Apa sih
masalahnya?” Nuri menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Tak ada yang
menjawab pertanyaan Nuri. Keduanya malah sibuk membereskan alat tulis.
“Yakin gak mau jujur? Oke, biar aku bilang sama Bu Nisa kalau kalian bertengkar.” Ancam Nuri. Belum sempat Nuri bangkit keduanya pun serentak. “Jangan!”
Dalam hati Nuri ingin tertawa, namun ia harus tegas sebab kebersamaan mereka hanya tinggal hari ini. Besok mereka menerima rapor dan pastinya
mereka akan pulang ke kampung mereka masing masing. Mereka akan berpisah sementara selama satu bulan.
“Galih rese.” Kini Ratna buka suara. Tak terima dengan tuduhan dari Ratna, Galih segera menepisnya. “Aku gak rese, aku kan
hanya mengatakan apa adanya kalau kamu dan Haris itu-” Galih segera menutup mulutnya. Nuri yang semakin penasaran dengan ucapan Galih segera merapatkan duduknya di sebelah Galih karena sebesar apapun Galih menyimpan sesuatu pasti akan kebocoran.
“Hayo apa?”
Nuri semakin menekan Galih.
Galih merasa sebagai narapidana saat mendapat tatapan mengerikan dari Ratna.
“Jangan dengarkan dia! Itu fitnah.” Ratna berusaha mengelak. Percuma saja Nuri tak akan percaya dengan ucapnya, sebab ia yakin jika Galih tak akan pernah bisa bohong.
“Galih?” Nada lembut Nuri memaksa Galih menceritakan titik masalahnya.
“O….” Nuri hanya mengangguk.
“Ratna?” Kini Nuri kembali menatap Ratna meminta penjelasannya.
Dengan ragu Ratna akhirnya menceritakan masalah ia marah dengan Galih.
__ADS_1
“Dia ember kan aku jadi malu.” Ratna kembali
menyalahkan Galih.
Nuri tahu jika Galih tak terima dengan ucapan Ratna maka sebelum terjadi perdebatan lagi ia harus segera mencari jalan tengah.
“Udah ngapain malu kan kalian gak ngapa ngapain. Itu adalah hal wajar sebab hati tercipta untuk mencintai dan dicintai.”
Nuri mulai mendrama saat mengetahui bahwa titik masalahnya adalah Ratna dan Haris secara diam diam telah saling menaruh perasaan. Ratna tidak teriama saat Galih mengungkapkan perasaan Ratna kepada Haris. Gadis polos nan
kepo itu menceritakan bahwa Ratna menyukainya.
Bayu yang saat itu bersama mereka di kantin pun juga mengungkapkan perasaan
sahabatnya. Awalnya Haris malu menyatakan perasaanya, takut di tolak. Namun saat
mengetahui Ratna juga memiliki perasaan yang sama Haris pun mengungkapkan cintanya kepada Ratna. Karena Ratna mengagumi Haris semenjak pertama kali masuk asrama pun tanpa ragu mengangguk malu menerima Haris.
Halitu benar benar membuat Ratna malu. Nuri merasa lega.
“Harusnya kamu berterimakasih kepada kang Kepo kita, karena berkat dia, kamu dan Haris jadian,” tutur Nuri. Ratna pun meminta maaf karena telah marah kepada Galih. Mereka bertiga pun akhirnya berpelukan diiringi dengan tawa mereka.
Hari yang di tunggu telah tiba. Pagi ini
kelas terasa hikmat mendengarkan wali kelas memberikan nasehat unuk anak didiknya. Penyerahan rapor berjalan dengan lancar. Beberapa murid bertepuk tangan saat wali kelas mengumumkan juara satu, dua dan tiga.
Beberapa murid tak menyangka bahwa Nuri bisa masuk dua besar. Nuri memang anak
pintar, di sekolahnya dulu dia memang
selalu masuk tiga besar.beberapa temannya memberi selamat kepadanya. Namun ada
sepasang mata yang menatapnya dengan sinis.
__ADS_1
“Selamat Nuri.” Tika memeberikan pelukan.
“Gak nyanngka kamu bisa menggeser anak manja itu.” Galih pun ikut memeluk Nuri.
“Selamat ya Nur, kamu memang pantas.” Tak ingin kalah Ratna pun memeluk tubuh Nuri.
Keempat sahabat itu berlajan menuju kantin. Mereka akan makan bersama sebelum mereka benar benar pulang ke kampung mereka. Semua bersorak ria saat mendengar Nuri mengatakan baha hari ini ia yang membayar semua makanan.
“Kalian pesan sepuasnya, hari ini aku traktir
kalian,” ucapnya dengan bangga.
Tanpa menunggu lama satu meja punuh dengan pesanan mereka.
“Wih, makan besar nih?” Bayu dan Haris menghampiri para gadis yang sedang menikmati hidangannya.
“Kalian kalau mau pesen aja, hari ini aku yang bayar. Mumpung lagi baik hati.” Mendengar ucapan Nuri, bayu segera menuju ke
ibu kantin untuk memesan makana. Namun tidak dengan Haris, ia hanya membeli
minuman botol dan ikut bergabung besama mereka.
Ratna sudah terlanjur memesan bakso dan sate. Rencananya setelah makan bakso ia akan makan sate, namun saat mengetahui Haris ikut bergabung bersama mereka, Ratna mengurungkan niatnya memakan sate.
“Bay, nih ambil aja! Aku udah kenyang.” Ratna menyodorkan piring ke hadapan Bayu.
“Tumben biasanya satu mangkok bakso masih kurang samamu.” Galih melirik, namun ia tetap fokus pada batagornya. Dengan rasa malu Ratna menginjak kaki Galih.
“Aww.” Galih meringis. Ratna pun serega melotot kearah Galih.
“Rasain,” ucap Ratna pelan.
bersambung ...
__ADS_1