Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Dua Besar


__ADS_3

Saat  Nuri memasuki kamar ia langsung merasakan hawa panas saat melihat dua orang sahabatnya tengah mendebatkan sesuatu.  Tak seperti biasanya Ratna yang tak pernah terbawa emosi saat menghadapi masalah kini dirinya tengah berapi api  meladeni setiap  ucapan  Galih.  Nuri segera menghampiri keduanya namun seketika mereka terdiam seolah sedang baik baik saja.


“Aku tahu kalian lagi gak baikan.  Apa sih


masalahnya?” Nuri menatap kedua sahabatnya secara bergantian. Tak ada yang


menjawab pertanyaan Nuri. Keduanya malah sibuk membereskan alat tulis.


“Yakin gak mau jujur? Oke,  biar  aku  bilang sama Bu Nisa kalau kalian bertengkar.” Ancam Nuri.  Belum sempat Nuri bangkit keduanya pun serentak. “Jangan!”


Dalam  hati Nuri ingin tertawa,  namun ia harus tegas sebab kebersamaan mereka hanya tinggal hari ini.  Besok mereka menerima rapor dan pastinya


mereka akan pulang ke kampung mereka  masing masing. Mereka akan berpisah sementara selama satu bulan.


“Galih rese.” Kini Ratna buka suara.  Tak terima dengan tuduhan dari Ratna, Galih segera menepisnya. “Aku gak rese, aku kan


hanya mengatakan apa adanya kalau kamu dan Haris itu­­­-”  Galih segera menutup mulutnya. Nuri yang semakin penasaran dengan ucapan Galih segera merapatkan duduknya di sebelah Galih karena sebesar apapun Galih menyimpan sesuatu pasti akan kebocoran.


“Hayo apa?”


Nuri semakin menekan Galih.


Galih merasa sebagai narapidana saat mendapat tatapan mengerikan dari Ratna.


“Jangan dengarkan dia! Itu fitnah.” Ratna berusaha mengelak.  Percuma saja Nuri tak akan percaya dengan ucapnya, sebab  ia yakin jika Galih tak akan pernah bisa bohong.


“Galih?”  Nada lembut Nuri memaksa Galih menceritakan titik masalahnya.


“O….”  Nuri hanya mengangguk.


“Ratna?”  Kini Nuri kembali menatap  Ratna meminta penjelasannya.


Dengan ragu Ratna akhirnya menceritakan masalah ia marah dengan Galih.

__ADS_1


“Dia ember kan aku jadi malu.”  Ratna kembali


menyalahkan Galih.


Nuri tahu jika Galih tak terima dengan ucapan Ratna  maka sebelum terjadi perdebatan lagi ia harus segera mencari jalan tengah.


“Udah ngapain malu kan kalian gak ngapa ngapain. Itu adalah hal wajar sebab  hati tercipta untuk mencintai dan dicintai.”


Nuri mulai mendrama saat mengetahui bahwa titik masalahnya adalah Ratna dan Haris secara diam diam telah saling  menaruh perasaan.  Ratna tidak teriama saat Galih mengungkapkan perasaan Ratna kepada Haris. Gadis polos nan


kepo itu menceritakan bahwa Ratna menyukainya.


Bayu yang saat itu bersama mereka di kantin pun juga mengungkapkan perasaan


sahabatnya. Awalnya Haris malu menyatakan perasaanya, takut di tolak. Namun saat


mengetahui Ratna juga memiliki perasaan yang sama Haris pun mengungkapkan  cintanya kepada Ratna.  Karena Ratna mengagumi Haris semenjak pertama kali  masuk asrama pun tanpa ragu mengangguk malu menerima Haris.


Halitu benar benar membuat Ratna malu. Nuri merasa lega.


“Harusnya kamu berterimakasih kepada kang Kepo kita, karena berkat dia,  kamu dan Haris jadian,” tutur Nuri.  Ratna pun meminta maaf karena telah marah kepada Galih. Mereka bertiga pun akhirnya berpelukan diiringi dengan tawa mereka.


Hari yang di tunggu telah tiba.  Pagi ini


kelas terasa hikmat mendengarkan wali kelas  memberikan nasehat unuk anak  didiknya.    Penyerahan rapor berjalan dengan lancar.  Beberapa murid bertepuk tangan saat wali kelas mengumumkan juara satu, dua dan  tiga.


Beberapa murid tak menyangka bahwa Nuri bisa masuk dua besar. Nuri memang anak


pintar,  di sekolahnya dulu dia memang


selalu masuk tiga besar.beberapa temannya memberi selamat kepadanya. Namun ada


sepasang mata yang menatapnya dengan sinis.

__ADS_1


“Selamat Nuri.” Tika memeberikan pelukan.


“Gak nyanngka kamu bisa menggeser anak manja itu.”  Galih pun ikut memeluk Nuri.


“Selamat ya Nur, kamu memang pantas.” Tak ingin kalah Ratna pun memeluk tubuh Nuri.


Keempat  sahabat itu berlajan menuju kantin. Mereka akan makan bersama sebelum mereka benar benar pulang ke kampung mereka. Semua bersorak ria saat mendengar Nuri mengatakan baha hari ini ia yang membayar semua makanan.


“Kalian pesan  sepuasnya, hari ini aku traktir


kalian,”  ucapnya dengan bangga.


Tanpa menunggu lama satu meja punuh dengan pesanan mereka.


“Wih, makan besar nih?” Bayu dan Haris menghampiri para gadis yang sedang menikmati hidangannya.


“Kalian kalau mau pesen aja, hari ini aku yang bayar.  Mumpung lagi baik hati.” Mendengar ucapan Nuri, bayu segera menuju ke


ibu kantin untuk memesan makana. Namun tidak dengan Haris, ia hanya membeli


minuman botol dan ikut bergabung besama mereka.


Ratna sudah terlanjur memesan bakso dan sate. Rencananya setelah makan bakso ia akan makan sate, namun saat mengetahui Haris ikut bergabung bersama mereka, Ratna mengurungkan niatnya memakan sate.


“Bay, nih ambil aja! Aku udah kenyang.” Ratna menyodorkan piring ke hadapan Bayu.


“Tumben  biasanya satu mangkok bakso masih kurang samamu.”  Galih melirik, namun ia tetap fokus pada batagornya. Dengan rasa malu Ratna menginjak kaki Galih.


“Aww.”  Galih meringis. Ratna pun serega melotot kearah Galih.


“Rasain,”  ucap Ratna pelan.


bersambung  ...

__ADS_1


__ADS_2