
Ruangan kelas terdengar riuh saat sang dosen mulai menampakkan dirinya bersama dengan seorang mahasiswa baru yang telah heboh di bicarakan sejak tadi pagi.
Nuri menatap dengan seksama, takut kalau salah lihat atau memang tingkat kemiripan terlalu sama.
Namun rasa penasarannya terpecahkan saat lelaki itu menyebutkan nama dan tempat asalnya.
"Benar, itu Rian," guman Nuri.
Sekilas pandangan Rian menangkap sosok Nuri, pandangan mereka saling bertemu. Rian tersenyum lalu melambaikan tangan ke arah Nuri, hingga mendapat suitan dari mahasiswa lainnya.
"Silahkan Rian," ujar sang dosen.
Rian berjalan melewati beberapa mahasiswa yang terus memandangnya dengan penuh terpesona.
"Hai, apa kabar?" Rian meletakkan tas di meja samping Nuri yang memang kosong.
Masih tak percaya, Nuri tersentak saat Rian menjentikkan jarinya tepat di hadapan Nuri hingga gadis itu tersadar.
"Rian," ucap Nuri.
Rian hanya tersenyum, banyak yang ingin ia bicarakan dengan Nuri namun, waktu belum tepat karena dosen sudah memulai materinya.
Tak hentinya Rian tersenyum saat melihat Nuri. Bahkan ia tak menyangka kepindahannya dirinya bisa mempertemukan dengan teman lama.
Zahra yang diam diam mengamati gerak gerik Rian mulai merasa curiga.
Saingan kak Juna nambah satu lagi nih.
Rian dan kak Juna kenapa kalian gak ngelihat aku?
Ku menangissss...
Satu jam lamanya Rian bersabar menunggu hingga kelas berakhir. Ia tak memperdulikan tatapan para gadis yang menatapnya dengan centil. Rian hanya fokus kepada sosok Nuri yang terlihat lebih feminim.
...
Zahra mengekori Nuri menuju kantin. Sudah kebiasaan Nuri jika waktu istirahat tempat yang pertama di tuju adalah kantin.
"Ra, sekalian pesan bakso ya!" pinta Nuri saat Zahra menuju ke tempat pemesanan.
"Lagu lama," geruth Zahra. Gadis itu telah terbiasa dengan sikap Nuri. Meski begitu, Zahra tak merasa kesal ataupun marah, sebab setelah itu Nuri-lah yang membayar semuanya.
__ADS_1
Zahra, kau memang beruntung!
Hati kecilnya menjerit bahagia.
"Nih." Zahra menyodorkan mangkok berisi bakso dan segelas teh dingin.
"Makacih," ucap Nuri manja.
Belum sempat keduanya menyantap bakso, dua lelaki datang bersamaan dan duduk berebut di depan Nuri.
Siapa lagi jika bukan Juna dan Rian.
Kedua lelaki itu berebut hanya ingin duduk tepat di hadapan Nuri.
"Eh, lo anak baru kan? Sono cari tempat lain," usir Juna.
"Enak aja, gue yang duluan, minggir sana!" Rian menggeser tubuh Juna hingga pantatnya tergeser.
"Berani lo ya, belum tahu siapa gue," ujar Juna.
"Gak penting siapa lo, gue mau ngobrol sama Nuri." Rian segera merapikan bajunya dan duduk dengan tenang di hadapan Nuri.
Nuri hanya meringis melihat pemandangan di depan matanya.
"Eh, kamu Rian kan? Mahasiswa baru itu?" tanya Viona, gadis satu angkatan dengan Nuri dan Rian.
"Eh, gue Viona yang tadi duduk paling depan," ujarnya lagi.
Rian hanya menggaruk kepala yang tak terasa gatal.
Meski Viona cantik, tapi bagi Rian, Nuri-lah yang paling cantik dalam pandangannya.
Juna tertawa bangga, kesempatan Rian mendekati Nuri ada tembok penghalang. Ia sungguh merasa bersyukur dan berterimakasih kepada Viona yang menjadi penyelamatnya.
Alhasil, Viona berhasil mengalihkan pandangan Rian terhadap Nuri.
"Sudah sana geser," Juna mendorong pelan tubuh Rian.
"Pergi kalian semua atau kami yang akan pindah!" Zahra mulai geram melihat perseteruan di depan matanya.
Namun sosok Yuda seperti penyelamat bagi Zahra dan Nuri saat ini.
__ADS_1
"Juna, ternyata lo disini, gue cari sampai sudut kampus malah nongkrong disini." Yuda bertolak pinggang.
Juna telah melupakan sesuatu, hari ini ia ada latihan basket.
Sambil nyengir Juna mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Sory gue lupa," Juna cengengesan.
"Nuri, kakak Juna latihan basket dulu ya, kalau mau lihat, lapangan selalu terbuka lebar untuk adek Nuri." Juna masih sempat menggoda Nuri.
"Udah ayo buruan, anak anak udah nungguin!" Yuda menyeret lengan Juna yang masih enggan meninggalkan Nuri.
"Daa kak Juna." Zahra melambaikan tangannya menatap kepergian Juna. Sementara itu, di hadapannya, Viona berusaha mengajak Rian berbicara namum, Rian hanya menjawab seperlunya saja membuat Viona mengerucutkan bibirnya.
Pandangan Nuri kembali mengalih kedepannya, menatap sekilas kepada Rian.
Sebenarnya Nuri juga sama dengan Rian, lama tak bersua ingin rasanya ia menegur sapa namun, Nuri was was, sebab baru hari pertama masuk kuliah saja Rian sudah banyak yang mengaguminya.
Nuri hanya takut ia akan menjadi bullyan dari para rekannya. Membayangkan saja, Nuri sudah bergidik ngeri. Bukan karena takut di bully, Nuri tak ingin terlibat perseteruan lagi dengan temannya, cukup masa di masa lalu ia mencoreng nama baik keluarga.
Sekarang Nuri harus menjaga nama baik dua keluarga dan juga nama baik suaminya.
.
.
.
.
.
Selain Juna, kini Rian, salah satu incaran gadis di sekolah lama Nuri ( termasuk juga Nuri ) hadir kembali di sekitar Nuri.
Rian pernah hadir di part 22
Bunganya mana nih? Aku tuh gak minta lebih, cuma minta Like, Komen dan Bunga. Begitu saja sudah lebih dari cukup.
Oh, iya sebenarnya aku tuh sering bagi² poin di grup lho, lumayan 'kan buat vote novel kembali?
Ramaikan grup yuk!!
__ADS_1