
Berhubungan ada tugas kelompok dari kampus, terpaksa Nuri harus mengerjakan bersama Zahra dan dua orang temannya. Ia bersyukur sebab tak satu kelompok dengan Rian. Namun, rasa gundah Nuri masih tetap menyelimuti kalbunya.
Ia merutuki kecerobohannya yang melupakan benda paling penting dalam kehidupan manusia saat ini. Ya, ponsel Nuri tertinggal di kamar.
"Sepertinya mau turun hujan. Mendung terlalu pekat," ujar Nabila saat hendak pulang.
Nuri menatap ke langit, benar saja, awan gelap telah menggumpal padat, semilir angin berhembus kencang membuat sebagai pohon bergoyang goyang.
"Kalian nginep aja disini, toh besok kita masuk siang," saran Zahra.
Nabila dan Rike menyetujui saran Zahra, sementara Nuri masih terdiam belum memberikan jawaban.
"Kamu nginap sini kan, Nur?" tanya Zahra
"Tuh, lihat hujan udah turun," lanjutnya lagi.
Nuri mengamati setiap air yang terjun bebas ke bumi. Tanpa ada belas rasa kasihan, ia menerjang setiap apa yang berada di bawah.
"Aku pulang aja, Ra, nunggu hujan reda," ucap Nuri dengan tatapan kosong kedepan.
Bagaimana ia bisa tenang, semenjak ia membuka matanya, sama sekali belum melihat Agung, bahkan ia tak tahu kemana suaminya pergi sepagi itu.
"Ya sudah, ayo kita masuk kedalam, dingin di sini," ajak Zahra.
Dua jam Nuri menunggu hujan reda, meski berada di suasana ramai, namum hati Nuri tetap kalut. Berpura-pura bahagia, itu menyakitkan.
Setelah dirasa hujan telah benar benar reda, Nuri memutuskan segera pulang mengingat waktu sudah hampir magrib. Pikirannya berkelana, berharap ia menemukan suami berada di rumah.
Jalanan macet sebab ada pohon tumbang ke tengah jalan. Tim SAR dan di bantu beberapa warga terlihat telah menyingkirkan dahan dahan yang menghalangi jalan.
Nuri mendesah pelan, dilirik arloji, lima menit lagi masuk waktu magrib.
Dari halte bus way Nuri harus berjalan kaki menuju kompleks perumahannya, meski tidak jauh, namun suasana sekitar yang sudah terlihat sepi membuatnya merasa menggidik ngeri ditambah lagi gerimis kecil mulai turun lagi.
Nuri mempercepat langkahnya agar cepat sampai di rumah walau, tetesan air hujan telah menerpa dirinya.
__ADS_1
Namun, langkah Nuri menjadi gontai saat tak menemukan mobil sang suami di rumahnya, itu berarti Agung belum pulang.
Di bawah terpaan air hujan, Nuri menyeka buliran bening yang keluar begitu saja. Membiarkan tubuhnya terlalu basah, seolah ia tak memperdulikan keadaan sekitar lagi.
Setengah jam telah berlalu, setelah mengguyur tubuhnya dengan air hangat, Nuri langsung membungkus dirinya di bawah selimut dengan handuk melilit di kepala membungkus rambut basahnya.
Bahunya naik turun sambil terisak. Merasa lelah, mata Nuri perlahan menutup. Setelah satu harian ia bertempur di luar tanpa tidur siang, membuatnya cepat terlelap.
🍂 🍂 🍂
Agung seakan putus asa setelah tak menemukan Nuri dimana mana.
Setelah dari rumah sakit, Agung segera menuju rumah, berharap menemukan sang istri di sana, namun sayang, rumah masih sepi tanpa adanya sosok Nuri.
Agung-pun segera bergegas menuju kampus, ternyata menurut informasi dari penjaga, fakultas Nuri sudah berakhir sejak tadi siang.
Agung semakin gusar saat hujan telah turun disertai angin kencang. "Kemana kamu, Ai?"
"Ah, sial," umpatnya saat melihat mobil di depannya telah berjejer panjang. Agung terjebak dalam kemacetan panjang. Bagaimana mungkin pohon bisa tumbang ke tengah jalan, harusnya ia tahu diri untuk menumbangkan ke dalam hutan saja. Sungguh permintaan konyol dari seorang yang tengah frustasi.
🍂 🍂 🍂
Agung memasuki rumah, mengacak rambutnya kasar.
"Perasaan tadi di kunci," gumamnya saat menyadari pintu rumah tak lagi terkunci.
Agung segera menuju lantai atas, berharap pikirannya tidak salah.
"Ai." Mata Agung telah menangkap sosok sang istri dibawah selimut. Perasaan gundah hilang seketika. Wajah frustasi berubah menjadi berseri. Ia mengulum senyum lalu menghampiri Nuri.
Mengecup kening Nuri namun, ia mengernyitkan dahinya saat merasakan hawa panas di kening sang istri. Ternyata Nuri demam.
"Ai, kamu sakit?" Agung menempelkan telapak tangannya pada kening, pipi dan leher membuat Nuri menggeliat.
"Mas Agung." Samar samar Nuri melihat bayangan suami di depan mata. Nuri-pun mengucek matanya untuk memastikan sosok di depannya saat ini. Benar, ia memang tak sedang berhalusinasi. Agung benar benar ada di depannya.
__ADS_1
Nuri terkejut saat Agung telah mendekap tubuhnya dengan erat. "Ai, kamu kemana? aku mencari mu ke kampus tapi kamu udah pulang sejak tadi siang."
"Apa pun yang terjadi, tetaplah di sampingku, aku tak sanggup jika kamu pergi meninggalkanku," lirihnya lagi.
Nuri semakin mengerutkan dahinya. Seharusnya kata maaf itu terucap dari mulutnya.
Nuri melepaskan pelukannya. "Mas Agung gak jadi minggat kan?"
"Kamu ngomong apa sih? Siapa juga yang minggat. Maaf tadi pagi aku gak sempat pamit sama kamu. Badan kamu demam, ayo ke rumah sakit." Agung merasa dirinya sangat bersalah, hingga Nuri menganggap jika ia lari dari kekecewaan.
"Mas aku gak sakit, ini hanya panas biasa. Besok juga udah hilang. Mas, maafin Nuri udah membohongi mas Agung selama ini," sesal Nuri.
"Nuri tahu mas Agung pasti sangat terpukul dan kecewa. Tapi Nuri gak ada niatan apapun, Nuri hanya belum siap untuk hamil muda. Nuri tahu itu salah sebab tak mengatakan terus terang sama mas Agung." Wajah Nuri kembali sendu.
Sekelebat rasa sesal, Agung tak pernah berpikir sejauh itu. Yang ia tahu hanya segera menginginkan buah cintanya segera hadir tanpa memikirkan bagaimana nasib ibu dari calon buah hatinya tersebut.
Nuri telah melepaskan cita citanya demi dirinya, lalu apakah kini ia juga akan melepaskan masa mudanya demi ambisinya?
Agung denyutan di dadanya, andaikan ia menjadi Nuri, memungkin ia sudah tak terima dengan perlakuannya.
Apa jadinya jika Nuri tahu masa lalunya. Setelah menghancurkan impian dan cita citanya, Agung pasti akan menghancurkan kepercayaan sang istri jika diam diam ia juga membohonginya.
.
.
.
.
Welcome to Maret ❤
Semoga satu bulan ke depan uthor bisa update tiap hari. Doain uthor kagak males nulis ya 😆
Minggu baru, mana nih Vote-nya**?
__ADS_1