
Pagi ini, suasana di meja makan begitu heboh kala Maya menayakan bagaimana hasil tes kepada menantunya.
"Selamat ya, Ai! Mama ikut seneng," Ungkap Maya penuh bahagia.
"Ingat di dalam sana ada calon Agung junior," pesannya lagi.
Nuri hanya mengangguk menanggapi setiap nasihat dari mama mertuanya.
"Mbak Mar, pesanan saya udah di beli? kalau udah, tolong langsung dibuat dan bawa kesini!" titah Maya.
"Sudah, Bu," sahut Mbak Mar dari arah dapur.
Pekerjaan setianya itu langsung segera membuatkan apa yang di perintah majikannya.
Dan, tak menunggu lama, segelas susu sudah mbak Mar letakkan di meja depan Nuri.
"Minum dan habiskan! Mama gak mau Agung junior kekurangan asupan gizi di dalam sana!" titah Maya lagi kepada Nuri.
Seakan hanya Maya yang berkuasa untuk bicara saat ini.
"Kalau gak suka bilang, biar di ganti rasanya!" ucapnya lagi.
Lagi lagi Nuri hanya menghela nafas panjangnya. Dia bukan anak kecil lagi yang harus di beritahu ini dan itu. Meski memang ini kehamilan pertamanya, ia pun juga akan memperhatikan janinnya dengan baik.
"Ma, Mama gak capek ngomong aja dari tadi?" Agung akhirnya angkat bicara.
"Kamu ini, dikasih tahu orang tua malah gak terima!" rajuk Maya.
"Bukan gitu, Ma, tapi..."
"Pa, tuh lihat titisanmu! gak pernah bisa menghargai mamanya." Entah aduan atau sindiran yang jelas itu membuat Dayu merasa terpojokkan lagi.
"Itu kan juga titisan Mama juga," sahut Dayu.
"Tapi kalau gak di erami sama Papa mana bisa jadi, Pa." Omel Maya.
__ADS_1
Kali ini Dayu tidak bisa bicara lagi, semakin diladeni ucapan istrinya maka, semakin panjang lebar wajengan dari nyonya besar itu.
"Jadi apa rencana kalian? apa akan segera langsung pergi ke dokter?" tanya Dayu.
"Rencana sih gitu, Pa. Tapi, Mas Agung ada rapat pagi ini." Dengan sedikit rasa kecewa Nuri menimpali.
.....
Sudah hampir satu jam Nuri bolak balik ke kamar mandi. Mengelurkan semua yang ia santap tadi pagi, hingga hanya cairan kekuningan yang keluar.
Maya merasa sangat kasihan melihat Nuri telah lemas. Sementara itu, Nuri tidak mau diantar ke rumah sakit. Ia hanya mau jika Agung yang mengantarknya.
"Agung masih lama lho, Ai. Mama antar ya?" bujuk Maya lagi.
Nuri hanya menggeleng lemah.
Bersandar di ranjangnya, memijit pelipisnya terasa sedikit pusing. Mbak Mar dengan telaten mengolesi perut Nuri dengan minyak kayu putih, lalu memijit kedua kakinya.
Lama kelamaan mata Nuri terpejam. Maya sesaat meneliti tubuh menantunya yang memang terlihat sedikit lebih kurusan. Sudah berapa lama Nuri dalam keadaan seperti ini?
gerutu Maya dalam hati.
Satu jam kemudian Agung telah sampai di rumah.
Mempercepat rapatnya setelah mendapat kabar bahwa istrinya muntah muntah lagi membuatnya tidak fokus dalam bekerja.
"Bagiman keadaanya, Ma?" Agung menatap Nuri yang masih mejamkan matanaya.
"Sstt... biarkan dia istirahat dulu!" bisik Maya.
Maya segera menghampiri anknya. Segera ia tarik telinga Agung dengan rasa kesal.
"Aaww, Ma, sakit. Apa salah Agung?" Agung kesakitan, entah kesalahan apa yang telah ia lupakan.
"Dasar anak bodoh! Sudah menghamili istri sendiri pakai acara gak peka kamu ini!" Setelah puas menjewer, Maya segera melepaskannya kembali.
__ADS_1
"Auuww, sakit tahu, Ma." Agung menggosok kupingnya yang masih terasa panas.
"Agung mana tahu kalau Nuri hamil, Ma," ucapnya lagi.
"Harusnya kamu tahu, kalau tiap malam kamu naiki, dasar bodoh kamu!"
Agung memilih diam, tak ada gunanya berdebat dengan mamanya yang pikirannya selalu traveling kemana mana.
...
Agung terpaku saat melihat layar monitor. Walau masih sebesar biji salak, ia sangat bersyukur. Malaikat kecil pelengkap hidupnya akan segera hadir diantara mereka.
"Bapak bisa lihat, janin istri anda saat ini memasuki usia tiga minggu," ucap dokter Lilis.
Setelah merasa puas dengan apa yang di lihat. Agung mengangguk.
Agung tidak merasa kaget lagi saat dokter menjelaskan panjang lebar tentang kehamilan di trimester pertama sebab ia dulu pernah menemani Via memeriksan diri. Kala itu Via sering mengeluh pusing dan mual, akhirnya Agung yang merasa kasihan segera membawanya berobat.
Alangkah terkejut saat mendengar Via tengah hamil empat minggu. Sempat frustasi, bagaimana bisa hanya sekali tusuk langsung jadi.
Agung tersenyum getir saat mengingat masa lalunya. Namun, ia pun tersadar bahwa saat ini Nuri dan kecebongnya yang telah bersemayam di dalam perut Nuri adalah masa depan yang harus di perjuangankan.
.
.
.
.
.
.
...Beberapa part lagi menuju END....
__ADS_1