
...Mungkin udah bisa ketebak akan seperti apa jalan ceritanya namun, aku tetap akan melanjutkan jalan cerita ini dengan versi aku sendiri. Terimakasih yang udah stay di sini....
...Selamat membaca...
Sesaat kemudian, langit berawan pekat sedikit demi sedikit menjatuhkan airnya membasahi bumi mengiringi kepergian Agung saat ini. Menyadari hujan telah turun, Nuri bergegas mengajak kedua buah hatinya masuk yang masih dengan mata sembab.
“Sudah ayo masuk! Hujannya semakin deras!” perintah Nuri.
Kedua bocah itu hanya pasrah kala tangannya di gandeng oleh sang ibu menuju kamarnya.
Semetara itu di dalam mobil, wajah sendu anak dan istrinya masih terngiang ngiang di pikiran Agung. Membuang nafas beratnya lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran mobil. Ilyas yang menyetir, sekilas melirik Bosnya dari kaca spion. “Kenapa, Bos?” tanya Ilyas.
Bukan tak tah namun, Ilyas hanya berpura pura saja. Sudah jelas Bosnya sedang memikirkan wajah anak istrinya yang seharusnya mengantar dengan rasa bahagia malah di penuhi dengan drama melow.
Tak ada jawaban dari Agung. Lelaki itu hanya memejamkamkan mata.
“Kalau ragu, biar saya sendiri yang turun ke Makasar, Bos.” tawar Ilyas.
“Tidak! Apa kata mereka jika aku tak datang,” tolak Agung.
Mobil melesat dengan pelan. Selain jalanan yang licin, rintik hujan juga menghalangi jarak pandang untuk mengemudi. Namun tiba tiba Ilyas memberhentikan mobilnya di tepian jalan. Agung mengernyit menatap Ilyas. “Ada apa?” tanya Agung penasaran.
“Maaf Bos, sepertinya ban mobil kempes,” ujar Ilyas.
“Bos, bisa ambilkan payung yang ada di belakang anda!” Ilyas memerintah.
__ADS_1
Dengan patuh, Agung mengambilkan payung untuk Ilyas. “Mau ngapain?” tanya Agung.
“Mau ngecek, Bos,” jawab Ilyas.
“Dasar bodoh! Sudah tahu kempes, apa lagi yang akan kau cek?” cibir Agung.
Ilyas terkekeh lalu nekat turun dari mobil hanya untuk memastikan saja.
Beberapa detik kemudian, Ilyas masuk lagi kedalam mobil. “Benar Bos, mobil kita kempes,” ujar Ilyas.
“Bodoh kau!” umpat Agung kesal.
“Jadi kita bagaimana, Bos?” tanya Ilyas.
Agung segera merogoh sakunya celananya namun, tak ada yang di temukan.
Lagi lagi Ilyas hanya melirik dari kaca spion sambil merapikan rambutnya yang sedikit basah terkena air hujan.
“Ada apa Bos?” tanya Ilyas santai.
“Dimana Hp ku?” tanyanya pada Ilyas.
“Lha, mana saya tahu Bos,” ucap Ilyas masa bodoh dengan kebingungan sang atasan.
Agung meremas rambutnya frustasi sambil memejamkan matanya kembali. Mengingat dimana terakhir kali meletakkan ponselnya.
__ADS_1
. . .
Beberapa kali Nuri mondar mandir sambil menggenggam ponselnya. Panggilan tersambung namun, tak ada jawaban. “Mas Agung kemana sih? kok gak diangkat? Gak mungkin kalau udah take off. Buktinya ponselnya masih aktif.”
Hingga waktu menjelang magrib, Nuri masih mencoba menghubungi nomer suaminya namun, sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban.
“Jangan jangan ini cuma modusnya aja. Pasti dia lagi nemuin entah perempuan yang mana lagi.” Kini pikiran Nuri malah di penuhi dengan pikiran yang negatif tentang suaminya.
Brayan dan Briyan keluar dari kamarnya ketika mbak Inah mengatakan mamanya sudah menunggu mereka untuk makan malam.
Terlihat Nuri sudah mengambilkan nasi untuk kedua anaknya. Namun, ia mendadak menghentikan gerakannya kala melihat dua bocah keriting itu terlihat sendu.
“Kenapa?” tanya Nuri sambil mengerutkan alisnya.
“Kita kasihan sama Papa, Ma. Pasti dia Kedinginan,” ujar Briyan polos.
“Iya, Mah. Dia udah makan belum ya?” sambung Briyan.
Nuri membuang nafas beratnya. Kenapa anaknya lebih peka ketimbang dirinya. Sebenarnya bukan tidak peka namun, semua itu hanya percuma, jika tebakannya benar.
“Kalian lupa ya, Papa itu uangnya banyak. Dia gak bakal kedinginan, pasti dia juga tidak lupa untuk makan. Karena apa? Karena uangnya banyak.” ucap Nuri asal.
Toh memang benar, jika dia menemui perempuan yang mana lagi, pasti dia tak akan merasakan lapar ataupun kedinginan.
Kali ini pikiran Nuri benar benar telah buruk terhadap suaminya.
__ADS_1
...Haii.... tinggalin jejaknya dong!...
...Syukur² uthornya di sawer 😁...