Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Meeting


__ADS_3

Pagi ini Nuri tidak di perbolehkan lagi membawa mobilnya sendiri. Kembali seperti sedia kala, Nuri di antarkan Agung saat berangkat kuliah, lalu akan di jemput oleh Pak Min, orang suruhan Agung.


Setelah tahu bahwa istrinya hamil, melarang Nuri untuk terlalu bebas berkumpul bersama temannya lagi. Ia akan marah jika sepulang kuliah Nuri tak langsung pulang ke rumah.


"Kalau masih kurang enak badan mending ambil cuti aja!" saran Agung.


Nuri menggeleng tersenyum. "Mas, aku ini hamil, bukan sakit," ujarnya.


"Sama saja. Setiap pagi kamu harus muntah muntah hingga kamu lemas, itu terlalu menyakitkan untukku." timpal Agung.


"Mas, ini sudah biasa untuk semua wanita hamil pada trimester pertama. Besok kalau sudah trimester kedua, semuanya akan biasa saja," terang Nuri.


Tak terasa kini mobil telah berhenti di depan sebuah gedung Universitas Islam terbesar di kota ini. Sebelum turun, Agung meminta vitamin untuk hari. Sebuah kecupan di bibir, meski singkat namun, akan berpengaruh bagi Agung.


"Sudah sana! nanti telat," ucap Agung sambil mengelap bibir basah milik Nuri.


Nuri menyunggingkan swnyumnya lalu menuruti ucapan suaminya.


"Mas hati hati ya!" pesan Nuri.


Berjalan pelan menelusuri koridor, mata Nuri berkeliaran mencari sosok yang di tunggunya. Tak berapa lama ia menangkap sosok Zahra dan Rian tengah menghampirinya. Tanpa mereka sadari, Nuri terus memperhatikan keduanya yang tengah asyik bercanda.


"Hmm..." Nuri berdeham.


Keduanya langsung salah tingkah dan berdiri agak menjauh.


"Eh, Nuri?" Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Hai, katanya kamu sakit? Kami mau menjenguk gak tahu rumahmu, gimana udah sehat?" tanya Zahra menutupi rasa malunya.


"Sepertinya, aku sudah ketinggalan jauh berita yang viral, kenapa muka kalian langsung memerah seerti itu sih?" sindir Nuri.


Zahra dan Rian saling menatap membuat Nuri terkekeh. "Kalian ini serius amat sih, aku kan cuma bercanda," ujar Nuri.


....

__ADS_1


Benar, selepas kuliah, mobil Pak Mun udah standby di dekat halte bis. Nuri terpaksa berjalan pelan menghampiri mobil Agung.


Pak Mun segera membukakan pintu untuk istri sang bosnya.


Di dalam mobil, pikiran Nuri masih mengingat jelas perlakuan Rian terhadap Zahra yang berbeda dari sebelumnya. Apakah mereka sudah pacaran? batin Nuri.


Siang tadi saat Nuri memilih ke kamar mandi dahulu, karena perutnya terasa mual. Zahra menunggu Nuri di kantin. Tak di sangka Rian juga bersama dengan Zahra.


"Mau pesan apa?" tanya Rian.


"Seperti biasa aja," jawab Zahra santai.


Nuri yang tak sengaja mendengar obrolan mereka, menguatkan kecuriagaannya saat ini.


"Pak, Mun, gak usah pulang, saya ingin singgah le kantor," ujar Nuri.


Pak Mun mengangguk. "Siap, bu Bos."


Nuri merasa geli dengan panggilan tersebut namun, entah mengapa sisi lainnya merasa bangga. Terkekeh pelan sambil memainkan ponselnya, Nuri tak sabar akan memberi kejutan untuk suaminya.


Pak Mun menuruti perintah ibu Bosnya. Berhenti di sebuah rumah makan besar, Nuri menyuruh Pak Mun membelikan pesanannya.


Sampai di kantor, Nuri menanyakan kepada resepsionis, apakah Agung sedang sibuk.


"Maaf, apakah anda sudah membuat janji kepada beliau? Karena hari ini Pak bos sedang meeting dengan tamu penting," ujap Rika. Nuri mengetahui dari name tag yang ia kenakan.


"Jika anda tidak mempunyai janji, silahkan tungu di ruang tunggu, nanti saya akan sampaikan kepada Pak Bos jika ada yang ingin menemuinya. Siapa nama anda?" tanya Rika.


Cih mau ketemu suami aja ribet!


"Bilang saja saya anak magang," ucap Nuri kesal lalu menuju ke ruang tunggu.


"Dasar anak magang jaman sekarang, gak ada sopan santun," gerutu Rika.


Nuri menghembuskan nafas kasarnya. Mengamati bungkusan yang ia bawa. Padahal tadi di kantin ia sudah makan dua kali lipat daru biasanya, tap entah mengapa kini ingin sekali makan bersama Agung.

__ADS_1


Pak Mun yang berjalan hendak ke ruangam Agung melihat Nuri menyenderkan kepalanya di dinding.


"Lhi, bu Bos kok masih di sini? katanya mau ketemu sama pak Bos?" tanya Pak Mun.


"Mau ketemu suami sendiri ternyata ribet, Pak. Mas Agung lagi meeting, jadi aku di suruh nunggu disini," ungkap Nuri.


"Kenapa di sini? Mari saya antar ke ruangan pak Bos!"


Nuri mendadak girang dengan ajakan Pak Mun. Seulas senyum ia tunjukan kepada Rika.


"Pak, emang mas Agung meeting sama siapa sih? kok katanya penting?" tanya Nuri di sela sela perjalanan menuju lantai tiga.


"Kurang tahu, Bu, saya 'kan bukan asisten beliau." cengir pak Mun.


Nuri hanya terdiam kembali hingga sampai di depan ruang kerja suaminya. Ada rasa takut saat ingin mendorong pintu, jantungnya mendadak bergetar lebih cepat.


"Ya sudah, saya tinggal. Saya kesini hanya mengantarkan kunci mobil kepada Yulia." Pak Mun undur diri.


Dengan mengambil nafas panjang dan tangan gemetar Nuri memberanikan diri membuka pintu.


Mungkin ini pertam kalinya ia datang kesini sehingga ia masih merasa gerogi.


"Bismillahirrohmannirrohim," lirih Nuri.


Namun, seakan jantung Nuri ingin berhenti, nadinya seakan tak berdenyut lagi. Netranya tersa panas, sesak menyerbu ruang dadanya.


Apakah ini yang di katakan meeting?


Pemandangan yang tak ingin Nuri lihat. Sungguh menyesal ia melangkahkan kakinya ke kantor jika itu harus mengotori mata dan hatinya.


"Apa yang kalian lakukan." Dengan suara gemetar, Nuri berjalan masuk meski kakinya terasa lunglai.


Agung menjauhkan dirinya, mengacak rambutnya.


"Ai, jangan salah paham! Aku bisa jelaskan!"

__ADS_1


__ADS_2