
"Semua gara gara Mas!" gerutu Nuri.
Jangan ditanya lagi, betapa dirinya tergesa-gesa saat memakai jilbabnya.
Agung sama sekali tak menggubrisnya, lelaki itupun masih sibuk mengancingkan kemajanya.
Akibat olahraga yang membuat melayang ke nirwana, Nuri mengiyakan saja ketika Agung meminta untuk melepaskan kecebong untuk yang kedua kalinya.
Maya menatap anak dan menantunya yang terlihat tergesa-gesa. Agung menyambar segelas susu dan sepotong roti, begitu juga dengan Nuri. Meraka sudah tidak sempat lagi untuk bersarapan.
"Ma, kami pergi dulu," pamit Nuri.
Maya menggeleng saat keduanya telah beranjak keluar. "Dasar, anak muda!"
Agung memilih memotong jalan pintas agar cepat sampai ke kampus Nuri. Ia tahu sebagai mahasiswa baru harus selalu on time.
"Nanti kalau sudah pulang langsung kabari ya!"
Nuri hanya mengangguk sambil mencium telapak tangan Agung.
"Sudah sana nanti terlambat," tegur Agung.
Nuri masih diam beberapa saat, sebel turun, Cup...
satu kecupan mendarat pada pipi Agung.
Seulas senyum, Nuri segera melarikan diri sebelum Agung membalasnya.
"Daa... Mas Agung." Nuri melambaikan tangannya setelah berada di sebrang jalan.
__ADS_1
Agung mengulum senyum di bibir. Mengamati kepergian Nuri hingga tak terlihat lagi.
Terlalu bodoh jika ia menyia-nyiakan gadis sepolos Nuri.
........
Zahra sudah duduk sambil menikmati sebuah minuman di kantin. Selepas mata kuliah pertama, Nuri masih harus menemui seniornya untuk membicarakan eskul yang akan ia ikuti.
UKM ( Unit Kegiatan Mahasiswa ) yang Nuri pilih adalah seni. Menyalurkan hobinya yaitu menyanyi.
Meski ia tak begitu berharap bisa masuk menjadi inti namun, setidaknya ia bisa bergabung bersama yang lainnya untuk mengembangkan hobinya.
Kebelutan para senior mereka mengadakan perekrutan anggota baru, yang akan dijadikan penerusnya kelak.
Tidak mudah bagi Nuri untuk masuk kedalamnya, ia harus lulus seleksi terlebih dahulu.
Zahra melmbikan tangan saat melihat sosok Nuri tengah celingukan mencari dirinya.
Nuri pun langsung menagkap sosok Zahra. "Maaf, lama menunggu. Ternyata banyak peminatnya lo," ungkap Nuri.
Zahra menatap Nuri. "Kamu yakin masuk UKM seni?" tanya Zahra.
"Yah, kalau gak diterima ntra aku latihan nari aja kali ya." Nuri terkekeh saat membayangkan jika ia tak lolos dalam seni tarik suara.
Keduanya asyik menikmati makan siangnya, tiba tiba sosok Yuda dan Juna menghampiri mereka.
Tanpa basa basi, kedua lelaki itu menarik kursi lalu duduk di sebelah kedua gadis tersebut.
"Seru, nih kayaknya," tegur Yuda.
__ADS_1
Zahra hanya tersenyum tipis. Sementara jantung Nuri sudah tidak karuan lagi. Masih jelas teringat ucapan Agung kemarin sore bahwa Nuri harus menjaga jarak, bukan karena Virus Corona melainkan demi kedamaian rumah tangganya.
Agung memang lebih dewasa dari dirinya dari segi usia namun, tidak untuk masalah rumah tangga.
"Nur, aku dengar kamu ikut UKM seni ya?" tanya Yuda kepo.
"Coba aja ikut UKM olahraga, tiap hari bisa ngeliat wajah kamu," imbuhnya lagi.
"Eh, tapi syukurlah kamu gak masuk kesana. Bisa diabetes kami semua." Yuda tetap berceloteh meski, ia harus menjawab pertanyaannya sendiri.
"Gak lucu tauk!" sahut Zahra.
.
.
.
.
.
Maaf aku potong jadi 2 part ya!
Takut kalian bosan baca panjang lebar.
Kuharap kalian gak lupa nge-like oke!
Yang jelas kalian harus like dan kasih hadiah untukku, paling tidak setangkai bunga sudah cukup untukku.
__ADS_1
yok tinggalin jejak!