
"Tumben kamu semangat buat setor hafalan Nur?" tanya Galih penasaran. Memang akhir-akhir ini Nuri sangat rajin menghafal surah pendek.
"Aduh, Galih gak tau atau pura pura gak tau sih, kan si Nur ini udah klepek-klepek sama ustad Hanaf," ejek Atika.
"Yang benar aja Tik, mana mau ustad Hanaf sama bocah model kayak gini," ledek Galih.
"Siapa yang bilang? Kan belum di coba. Iya kan Nur?" bela Raisa.
Mereka bertempat saling melempar pandangan dan tertawa bersama. Entah apa yang membuat mereka tertawa. Begitulah pertemanan mereka.
Walaupun baru satu bulan Nuri mengenal mereka namun Nuri sudah merasa sangat nyaman berada di samping mereka berbeda dengan saat bersama Syifa.
Flashback on
"Tunggu mbak Nur." Syifa menahan lengan Nuri.
"Astaga jangan bilang kalian..." Syifa menutup mulutnya kembali.
"Apaan sih," Nuri melepaskan cengkeraman syifa dan berlalu meninggalkannya.
'Lihat aja nanti mbak' batin Syifa.
Syifa masih diam terpaku menatap kepergian Nuri, tangannya meremas ujung jilbabnya.
🍁🍁
"Mbak Nur, bisa ke ruangan ibu sekarang?" tanya Bu Nisa.
"Bisa bu," jawab seketika. Kemudian mengekori Bu Nisa ke ruangannya.
'Habislah kamu mbak Nur hehe '
Hati Syifa tertawa ketika mendengar Nuri di panggil oleh Bu Nisa.
Flashback off
"Baru satu bulan udah dapet nilai A kamu gak pakai jalan belakang kan Nur?" Galih merasa heran kepada Nuri yang makin hari makin lancar hafalan qur'an nya.
"Sembarangan," sentak Nuri.
__ADS_1
"Udah ribut aja kalian," lerai Atika yang tak bisa konsentrasi karena ulah Nuri dan Galih.
Tanpa mereka sadari Haris yang berada di barisan sebelah terus saja memperhatikan Nuri dan teman temannya.
"Eh coba deh kalian lihat, itu si Haris liatin kita loh, kira kira siapa yang sedang di liat ya?" bisik Raisa pada teman temannya.
"Pasti aku lah," ucap Atika.
"Aku lah," sahut Galih.
"Jangan jangan aku, soalnya lihatnya kesini terus," sambung Raisa.
"Huft .. ambil sama kalian semua. Kalau perlu kalian bagi sama rata." Nuri kesal dengan teman temanya, apa istimewanya si Haris itu coba? Biasa aja, tapi kenapa kaum hawa bisa terpesona dengannya. Hanya karena ia berprestasi?
**********************
"Eh Nur, kok kamu pindah kamar sih," tanya Galih tiba tiba.
Memang sudah dua hari Nuri pindah ke kamar Galih, Raisa dan Atika.
"Disana kagak rame, alim semua penghuninya." Nuri asal jawab.
Sahabatnya pun enggan menanyakan lebih detail apa masalah anatara Nuri dan penghuni kamar sebelah.
"Kenapa sih guru disini tampan tampan," ucap murid perempuan di belakang Nuri.
"Adek meleleh pak," sambung yang lainya.
'Dasar ganjen' batin Nuri
"Sudah paham kalian?" tanya sang guru yang tak lain adalah Adam guru fisika.
"Sudah pak," jawab serentak dari semua siswa.
"Baiklah kalau begitu silahkan kalian kerjakan halaman 99, setelah itu kalian kumpulkan!" perintah Adam.
Bukan Adam jika tak ada tugas. Guru paling tegas dan paling disiplin.
__ADS_1
"Aduh Pak kok tugas terus sih?" gerutu siswa paling belakang.
"Kalian sudah paham lalu? Apa salahnya mengerjakan tugas? Kalian sebentar lagi akan ujian kenaikan kelas," jawab Adam tegas dan menatap Nuri dengan horor.
'ih dia yang nanya kok malah aku sih yang di tatap mas adam' batin Nuri
"Nur, horor," goda Atika yang melihat tatapan Adam.
"Tau ah." Nuri merasa sebel.
Bel berbunyi tanda pelajaran telah berakhir. Semua siswa pun segera bersiap siap untuk pulang.
Kini semua siswa telah keluar satu persatu hanya tinggal beberapa siswa yang berada di kelas.
"Nuri ikut ke kantor, " titah Adam.
Saat itu juga Galih, Atika dan Raisa merasa penasaran. Kenapa tiba tiba sabahatnya itu di panggil pak Adam. Apa dia melakukan kesalahan.
"Aku baik baik aja, kalian duluan
aja." Nuri menjawab apa yang sahabatnya pikirkan.
Dia pun segera menuju ke ruangan Adam.
"Ada apa mas," tanya Nuri setelah sampai di ruangan Adam.
"Duduk dulu. Gak sopan bicara seperti itu sama guru sekaligus kakak kamu." Adam telah duduk di kursi kebesarannya.
Nuri menuruti ucapan Adam. Namun Adam tak henti menatapnya.
"Jangan berfikir yang negatif, Mas cuma mau kasih ini mana tau kamu berminat." Adam memberikan selembar kertas.
"Sebentar lagi kalian ujian kenaikan kelas, itu berarti hanya tinggal satu tahun lagi kamu belajar disini." Adam kini melihat ekspresi Nuri yang masih tidak percaya.
Selembar kertas bertulis Beasiswa ke
Al- Azhar.
"Jangan sia siakan kesempatan ini." Ucap Adam penuh arti.
__ADS_1
Sudah lama Adam berharap bahwa adiknya, Nuri bisa melanjutkan sekolah di Universitas islam terbesar di Mesir. Dan, kini harapan itu telah ada di depan mata.
Sebuah kesempatan langka yang belum tahu apakah ada kesempatan untuk yang kedua lagi.