
Setelah menempuh waktu empat jam, akhirnya sampailah mereka di rumah Nuri.
Terlihat pak Ali dan bu Aisyah telah menunggu mereka didepan teras. Setelah turun dari mobil Nuru segera
menghambur ke pelukan kedua orang tuanya yang selama ini ia rindukan. Tangis
Nuri pecah saat ia merasakan pelukan hangat dari bapaknya.
“Eh, ada Agung juga.” Bu Aisyah baru menyadari saat agung memberi salam kepada orang tua Nuri.
“Nginep sini aja. Sudah malam,” saran Azam.
Heh? Nuri menoleh kearah Azam.
“Iya nginep aja. Udah malam. Anggap aja bernostalgia," timpal Bu Aisyah.
Agung pun mengangguk. Karena lelah dan mengantuk Nuri memilih beristirahat dikamar
yang sangat ia rindukan.
Akhirnya pulang.
Perlahan Nuri mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Masih rapi bahkan boneka panda masih tidur di kasurnya.
__ADS_1
“Assalamualaikum Panda? Kamu kok gak berubah ya?” Nuri memeluk boneka beruangnya.
Rindu yang selama ini ia bendung akhirnya terlasurkan malam ini. Ia segera merebahkan tubuh ke kasur lalu memeluk panda.
Nuri menatap langit langit kamarnya. Sejenak pikiranya mengarah kepada Agung. Mengingat kembali ucapan saat berada
di mobil tadi. Tak ingin terbuai dalam bualan gurunya ia membuang jauh jauh pemikiran tentang Agung yang menawan.
Sebenarnya ia ingin ikut bergabung dengan orang tuanya yang masih berbincang dengan Azam dan Agung di ruang tamu, namun ia gengsi dan malu jika orang tuanya mengingatkan masa kecilnya yang selalu menggoda Agung.
Sebelum adzan subuh berkumandang Nuri telah bangun. Kini dirinya sudah terbiasa bangun pagi. Ia berjalan menuju kamar mandi. Masih sunyi, belum ada yang bangun. Nuri segera mengetuk kamar orang tuanya dan kamar Azam mengingatkan jika sebentar lagi waktu subuh.
Kedua orang tuanya tersenyum bangga, ternyata Nuri telah berubah. Subuh kali ini
Nuri bergetar tak menentu saat salam terakhir. Rasanya ia belum puas mendengarkan suara merdu Agung.
Setelah mencium tangan ibunya Nuri berdoa, ia mengadu tentang perasaannya kepada
sang Kholiq. Memohon kepadaNya jika memang ia berjodoh dengan Agung jagalah dia untuknya. Ini adalah pertama kalinya Nuri berdoa untuk Agung.
“Bu masak apa?” Nuri menghampiri ibunya yang telah sibuk berkutat di dapur.
“Masak yang gampang aja. Sayur Asam, oseng tempe sama dadar telur. Ibu belum ke pasar.” Bu Aisyah melanjutkan memetik sayuran.
__ADS_1
“Sini biar Nur Bantu.” Nuri sibuk mencari bumbu dapur.
“Emang udah bisa masak sekarang?” Ibunya tak percaya jika Nuri bisaa masak.
“Ibu gak percaya? Walaupun gak pandai tapi
Nuri udah bisa masak kok.” Dengan
telaten Nuri mengupas bawang dan menggiling cabe.
Rasa syukur terucap dalam seorang hati ibu yang melihat anaknya telah banyak berubah.
Bu Aisyah menyeka buliran yang tak sengaja meleleh dipermukaan pipinya saat menatap kegiatan Nuri pagi ini.
Hampir satu jam Nuri dan bu Aisyah bertempur di dapur. Nuri bercerita banyak tentang kegiatannya di asrama. Mulai dari bangun pagi sampai akan tidur lagi. Bu Aisyah hanya mendengarkan tanpa ingin memotong setiap ucapan Nuri yang terlihat sangat bahagia.
Sungguh sebuah anugrah terindah melihat anak yang dahulu manja dan sedikit nakal, kini telah berubah menjadi gadis yang mandiri dan tanggung jawab.
Bersambung ...
Sebagai permintan maafan udah otor kasih bonus ya. Sekarang tinggal kalian kasih Like, vote dan komen. Jangan berhenti dukung Uthor ya!
😁
__ADS_1