Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Akhirnya Pulang


__ADS_3

Setelah menempuh waktu empat jam, akhirnya sampailah mereka di rumah Nuri.


Terlihat pak Ali dan bu Aisyah telah menunggu mereka didepan teras.  Setelah turun dari mobil Nuru segera


menghambur ke pelukan kedua orang tuanya yang selama ini ia rindukan. Tangis


Nuri pecah saat ia merasakan pelukan hangat dari bapaknya.


“Eh, ada  Agung juga.” Bu Aisyah baru menyadari saat agung memberi salam kepada orang tua Nuri.


“Nginep sini aja. Sudah malam,” saran Azam.


Heh? Nuri menoleh kearah Azam.


“Iya nginep aja. Udah malam. Anggap aja bernostalgia," timpal Bu Aisyah.


Agung pun mengangguk. Karena lelah dan mengantuk Nuri memilih beristirahat dikamar


yang sangat ia rindukan.


Akhirnya pulang.


Perlahan Nuri  mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.  Masih rapi bahkan boneka  panda  masih  tidur di kasurnya.

__ADS_1


“Assalamualaikum Panda? Kamu kok gak berubah ya?”  Nuri memeluk boneka beruangnya.


Rindu yang selama ini ia bendung akhirnya terlasurkan  malam ini. Ia segera merebahkan tubuh ke kasur lalu memeluk panda.


Nuri menatap langit langit kamarnya. Sejenak pikiranya mengarah kepada  Agung. Mengingat kembali ucapan saat berada


di mobil tadi. Tak ingin terbuai dalam bualan gurunya ia membuang jauh jauh pemikiran  tentang Agung yang menawan.


Sebenarnya ia ingin ikut bergabung dengan orang tuanya yang masih berbincang dengan Azam dan Agung di ruang tamu, namun ia gengsi dan malu jika  orang tuanya mengingatkan masa  kecilnya yang selalu  menggoda Agung.


Sebelum adzan subuh berkumandang Nuri telah bangun.  Kini dirinya sudah terbiasa bangun pagi. Ia berjalan menuju kamar mandi. Masih sunyi,  belum ada yang bangun.  Nuri segera mengetuk kamar orang tuanya dan kamar Azam mengingatkan  jika sebentar lagi waktu subuh.


Kedua orang tuanya tersenyum bangga, ternyata Nuri telah berubah. Subuh kali ini


Nuri bergetar tak menentu  saat salam terakhir.  Rasanya ia belum puas mendengarkan suara merdu Agung.


Setelah mencium tangan ibunya Nuri berdoa, ia mengadu tentang perasaannya kepada


sang  Kholiq. Memohon kepadaNya  jika memang ia berjodoh dengan Agung  jagalah dia untuknya. Ini adalah pertama kalinya Nuri berdoa untuk Agung.


“Bu masak apa?” Nuri menghampiri ibunya yang telah sibuk berkutat di dapur.


“Masak yang gampang aja.  Sayur  Asam, oseng tempe sama dadar telur.  Ibu belum ke pasar.” Bu Aisyah melanjutkan memetik sayuran.

__ADS_1


“Sini biar Nur Bantu.” Nuri sibuk mencari bumbu dapur.


“Emang udah bisa masak sekarang?” Ibunya tak percaya jika Nuri bisaa masak.


“Ibu gak percaya?  Walaupun gak pandai tapi


Nuri udah bisa masak kok.”  Dengan


telaten Nuri mengupas bawang dan menggiling cabe.


Rasa syukur  terucap dalam seorang hati  ibu yang melihat anaknya telah banyak berubah.


Bu Aisyah menyeka buliran yang tak  sengaja meleleh dipermukaan pipinya saat menatap kegiatan Nuri pagi ini.


Hampir satu  jam Nuri dan bu Aisyah bertempur di dapur.  Nuri bercerita banyak tentang kegiatannya di asrama. Mulai dari bangun pagi sampai akan tidur lagi. Bu Aisyah hanya mendengarkan tanpa ingin memotong setiap ucapan Nuri yang terlihat sangat bahagia.


Sungguh sebuah anugrah terindah melihat anak yang dahulu manja dan sedikit nakal, kini telah berubah menjadi gadis yang mandiri dan tanggung jawab.


Bersambung ...


Sebagai permintan maafan udah otor  kasih  bonus ya.  Sekarang tinggal kalian kasih Like, vote dan komen. Jangan berhenti dukung Uthor ya!


😁

__ADS_1


__ADS_2