
Malam ini Nuri sudah berhasil menidurkan kedua buah hatinya. Setelah lelah berjelajah setengah hari di kantor sang ayah serta bermain dengan Ilyas membuatnya lupa akan sosok Nuri.
"Mas, ini kopinya." Nuri meletakkan cangkir kecil di meja kerja Agung.
Agung seketika mengalihkan tatapannya kepada sang istri yang berdiri di sampingnya.
"Apa sih Mas, kok kayak gitu liatinya?" Nuri merasa risi karena tatapn suaminya.
Agung menarik kedua simpul di bibirnya. "Emang gak boleh melihat istrinya sendiri seperti ini?" goda Agung.
"Bukan gitu, Mas." Nuri menggelengkan kepala serta mengibaskan kedua tangannya.
"Gimana anak anak? Sudah tidur?" tanya Agung.
Nuri mengangguk. "Mereka udah tidur, Mas."
"Sepertinya malam ini aku tak jadi lembur tugas kantor, aku akan lembur di tempat tidur saja." Agung melirik Nuri lalu menutup laptopnya.
"Heh."
Seketika wajah Nuri mulai memanas. Meski ia bukan pasangan muda namun, Nuri tetaplah Nuri yang muda tersipu malu.
"Ayo." Agung telah menuntun Nuri menuju kamarnya. Dengan patuh, Nuri mengikuti langkah suaminya.
"Pak Mun dan mbak Inah, mereka besok pagi baru akan berangkat. Pintu depan sudah di kunci?" tanya Agung.
"Udah, Mas," jawab Nuri singkat.
Setelah sampat di kamar, Agung segera mengunci pintu kamar lalu menuntun Nuri ke tempat tidur. Namun, Agung tidak langsung memainkan kegiatanya. Ayah dua anak itu malah mengambil ponselnya.
"Kemana kau? Kenapa lama mengangkat teleponku?"
"Astaga Bos, ini malam minggu. Aku sedang perjalanan menjemput Siska." Terdengar suara kesal dari seberang ponselnya.
"Bagus jika kau ada waktu luang. Pelajari dulu file tadi pagi lalu beri kesimpulan. Tulis ulang rekapan. Kirim segera ke Email ku."
__ADS_1
"Astaga Bos, tidak bisakah kau memberiku waktu luang. Jika kau terus membebaniku terus menerus kapan aku akn kencan?"
"Sudah mulai melawan ya?" sindir Agung.
"Ok fine. Aku kerjakan. Puas kau Bos." teriak Ilyas kemudian menutup teleponnya.
"Dasar Bos tak berkeperimanusian!" gerutu Ilyas lalu memutar kembali arah perjalanannya menuju ke rumah kembali.
Nuri menghampiri Agung yang masih di balkon.
"Mas, tidak baik terlalu keras terhadap bawahan! Kasihan Ilyas, dia juga butuh waktu untuk kekasihnya," ucap Nuri.
Agung menatap Nuri dengan perasaan berbunga. Gadis kecilnya dahulu kini telah menjelma menjadi sosok wanita dewasa dengan pemikiran yang bijak.
"Iya aku tahu." Dengan pelan Agung menarik dagu Nuri lalu mengecupnya.
Malam minggu yang biasa di gunakan anak muda untuk berkencan kini di gunakan oleh sepasang insan untuk berpacu dalam gairah nafsu.
Peluh berjatuhan membasahi tubuh keduanya, meski ruangan telah di nyalakan AC namun, tidak membuat kedua insan ini merasa kedinginan.
"Terimakasih." Agung mengecup kening Nuri lalu menarik tubuh istrinya agar merapat. Malam ini Nuri tidur pulas dalam dekapan Agung.
Rasa nyaman, begitulah yang Nuri rasakan.
Brayan berlari kecil menyambut kedatangan mbak Inah dan pak Mun, begitu juga dengan Briyan mengikuti sang kakak sambil berteri ria.
"Mbak Inah kenapa lama sekali?" todong Brayan kala tubuh mungil itu sudah berada dalam pelukan mbak Inah.
"Iya sayang, mbak minta maaf ya!"
"Pak Mun." Setelah menghambur dalam pelukan mbak Inah, kedua bocah kembar itu masuk dalam pelukan pak Mun lalu di gendongnya kanan kiri.
Melihat kedatangan kedua orang kepercayaannya, Nuri malah menyuguhkan teh manis serta camilan di toples.
"Ah, ibu gak pelu repot repot seperti ini. Kami bisa membuatnya sendiri nanti," ucap mbak Inah.
__ADS_1
"Betul Bu. Kami malah jadi gak enak." Dengan malu malu pak Mun pun langsung menyeruputnya. Dengan segera mbak Inah menyenggol lengan pak Mun seketika tumpahlah minuman pak Mun. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Brayan dan Briyan. Kedua bocah kecil itu pun malah menertawakan pak Mun, begitu juga dengan mbak Inah yang menahan tawanya.
Berhubung hari Minggu, Nuri dan Agung memilih menghabiskan waktu bersama. Kini mereka akan pergi kesebuah tempat permainan anak. Mendengar hal tersebut kedua bocah kembar itu merasa girang.
"Ma, apakah Papa tidak melukaimu?" tanya Brayan tiba tiba saat mereka dalam perjalanan. Brayan melirik sinis kepada sang ayah.
"Tidak sayang. Kenapa?" tanya Nuri heran.
"Serius?" Brayan memastikan.
Nuri pun mengangguk. "Serius sayang. Ada Apa?"
Brayan mengalihkan pandangannya kepada sang ayah.
"Rayan, Papa tidak melakukan apa apa kepada Mamamu." Agung melirik dari kaca spion.
"Bohong!" ujar Brayan.
"Tadi malam aku tidak bisa tidur, lalu aku ingin mengetuk pintu kamar Mama." Brayan menjeda ucapannya.
"Lalu aku mendengar Mama merintih kesakitan. Sudah jelas Papa menyakiti Mama."
Seketika Agung mengerem mobilnya secara mendadak.
"Astagfirullahaladzim, Mas," pekik Nuri.
Agung dan Nuri saling berpandangan, mencerna setiap ucapan anaknya.
"Lalu apa yang kamu dengar, sayang?" tanya Nuri lembut.
"Tidak ada karena aku langsung kembali ke kamar dan akan menghajar Papa jika menyakiti Mama lagi," ucap Brayan santai.
"Siapa yang menyakiti Mama berarti dia siap aku hajar!" lanjut Brayan lagi.
Agung menelan saliva yang terasa sulit ia telan. Badannya tiba tiba menjadi membeku. Jantungnya sudah berdebar seakan ingin lepas.
__ADS_1