Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Masih Di Bawah Umur


__ADS_3

Sangat berat langkah untuk meninggalkan asrama, namun Nuri memaksakan diri untuk tetap tersenyum saat berpamitan kepada Bu Nisa dan Pak Dzaki. Agung memilih menunggu Nuri di pertigaan jalan sesuai dengan keinginan Nuri.


Berjalan kaki adalah pilihan Nuri. Awalnya Tika ingin mengantarkan hingga ke Halte bus, namun Nuri menolak. Nuri belum siap memberitahukan statusnya saat ini.


Sedikit bercucuran keringat, Nuri mengelap menggunakan telapak tangannya. Mendesah lelah, saat tak menemukan mobil Agung di pertigaan.


Dengan tatapan elang, netra Nuri meneliti setiap mobil yang ia lihat. Kesal tak menemukan mobil Agung, Nuri memilih berjalan menuju Halte bus.


Tak ada pilihan lain selain pulang menggunakan angkutan umum.


Belum sempat Nuri menaiki tangga Halte, suara klakson mobil seakan memekakkan telinga.


"Dasar orang kurang kerjaan," gerutunya kesal.


Sang tuan mobil terlihat turun lalu menghampiri Nuri. "Ayo pulang!"


Nuri memincingkan matanya, menatap Agung yang tanpa rasa bersalah telah menghilang tanpa memberikan kabar.


"Udah, ayo buruan masuk!" titah Agung.


Dengan rasa kesal, tanpa sepatah kata, Nuri masuk kedalam mobil.


Agung melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata membelah keramaian jalanan.


Sesekali melirik Nuri yang hanya terdiam. Gadis itu memilih memalingkan wajahnya. Melihat keluar jendela adalah pilihannya.


"Kenapa? Lapar?" tanya Agung tanpa berdosa.


Ingin rasanya Nuri mendebat pertanyaan suaminya. Tapi jujur ia juga merasakan lapar.


"Yasudah, ayo turun!" perintah Agung.


Nuri tak menyadari bahwa kini dirinya telah berada di parkiran sebuah restoran. Membuang ego lebih baik dari pada menahan rasa lapar.


Nuri memesan menu sesuka hatinya, untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Agung merasa heran dengan perubahan Nuri yang memilih diam tak seperti biasanya.


"Kamu kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Agung.

__ADS_1


"Memang aku kenapa?" Nuri balik bertanya.


Agung sudah bisa memastikan bahwa Nuri sedang merasa kesal.


"Aku tahu kamu sedang merasa kesal," ucap Agung.


Nuri tak bergeming, dirinya terus menikmati sajian yang masih tertata di meja.


"Nur, kenapa sih?" Agung mulai merasa kesal juga sebab Nuri mengabaikannya.


Mengelap mulut yang berminyak dengan tisu, Nuri menatap Agung. "Saya memang sedang kesal. Capek menunggu seseorang sampai mandi keringat," sindir Nuri.


Ternyata Agung melupakan sesuatu. Ia lupa tak memberi tahu Nuri saat dirinya pergi ke SPBU untuk mengisi bahan bakar mobilnya.


Tertawa kecil, Agung menatap Nuri.


"Oke, aku minta maaf. Tadi lupa ngabarin kalau ke SPBU sebentar."


Mendengar penjelasan suaminya, Nuri seperti ingin tertawa saat mengingat dirinya merasa kesal tak bertujuan. Harusnya ia menanyakan saja, darimana suaminya hingga dirinya harus menunggu di bawah teriknya matahari.


Sesampainya di rumah, keduanya disambut oleh Mbak Mar. Nuri tersenyum ramah sebelum memilih masuk ke kamar.


Merebahkan tubuh di ranjang adalah tujuannya.


Sementara Nuri, gadis itu malah tertidur sebelum membersihkan badannya.


Malam ini suasana hening, tak ada canda tawa dari Maya dan Danu. Padahal baru satu hari mertuanya tak berada di rumah, namun rasanya seperti sangat lama.


"Pak, kapan Mama sam Papa pulang? tanya Nuri.


Agung yang masih sibuk dengan laptopnya hanya mengangkat bahunya. "Tadi pagi kan sudah bilang seminggu berada di Surabaya, kemungkinan minggu depan baru pulang."


Nuri semakin kesal dengan jawaban Agung.


Naik ke ranjang king size, Nuri akhirnya memutuskan untuk menonton drama yang baru baru ini ia sukai.


Kadang tertawa, mengumpat dan memaki. Tanpa sadar Agung melihatnya sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya Agung penasaran dengan apa yang sedang Nuri tonton, akhirnya Agung menutup laptopnya lalu menyusul Nuri keatas ranjang.


"Nonton apa sih? Seru tuh kayaknya?" Agung mendekatkan tubuhnya kearah Nuri.

__ADS_1


"Hei, sejak kapan kamu suka nonton drama kayak gini?" protes Agung.


"Bapak kalau gak suka gak usah lihat," jawab Nuri.


Sebenarnya Nuri hanya penasaran dengan drama yang ia tonton saat ini. pasalnya setiap saat muncul di wall FBnya. Drama Oppa oppa yang di tikung sahabatnya sendiri. Jujur dari dulu Nuri tak begitu tertarik dengan drama Oppa oppa.


"Udahlah, tidur yuk!" ajak Agung.


Nuri menoleh kesamping, mendapati Agung yang telah bergelayut di lengannya. Heh, sejak kapan jadi sok manis kayak gini.


Nuri pun mengiyakan ajakan Agung.


"Geser dikit dong, Pak." Nuri merasakan tak ada jarak lagi antara tubuhnya dengan tubuh Agung.


"Kenapa?" tanya Agung sok polos.


"Saya masih dibawah umur Pak. Takut aja kalau kalau Bapak khilaf," ucap Nuri kesal.


Agung tertawa mendengar ucapan Nuri. Bukannya menggeser untuk menjauh, Agung malah merapatkan lagi tubuhnya hingga kini ia memeluk Nuri dan mencium keningnya. Nuri hanya terpaku, terdiam sejenak merasakan dentuman keras yang bersemayam didalam dadanya.


Ya Allah, rasa apakah ini? Kenapa jantungku seperti ingin terlepas? Please Pak, singkirkan tangan ini.


Dengan perasaan tak menentu Nuri memilih menutup matanya, berharap ia bisa tertidur dengan lelap malam ini.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mana nih suaranya yang standby disini? Setelah membaca jangan lupa tinggalkan Like dan Komen!


Vote juga cerita ini biar ada vitamin untukku 😘


__ADS_2