
Setelah berhasil meyakinkan kedua anaknya hingga tertidur, sepasang orang tua memijit pelipis mereka masing masing.
Agung baru saja siap dari kamat mandi, sementara Nuri memilih sibuk dengan ponselnya, hingga tak menyadari bahwa sang suami sudah naik keatas ranjang.
"Serius banget sih?" tegur Agung.
Seketika Nuri menoleh lalu tersenyum.
"Gak usah di cari tutorial buat adek cewek, mending langsung kita praktekan," cetus Agung sambil tersenyum genit.
"Ih... apaan sih, gak jelas. Aku tuh lagi browsing nyari tempat yang cocok untuk liburan kita," jelas Nuri.
"Kita enaknya ke Eropa aja, Mas. Disana banyak yang bisa kita kunjungi, kayak Belanda, Paris, Swiss, Prancis dan masih banyak lagi," oceh Nuri dengan ekspresi bahagia.
"Kenapa? Mas Agung gak setuju?" tanya Nuri kala tak ada respon dari Agung.
"Siapa yang bilang gak setuju?" tanya Agung balik.
Nuri menatap ke wajah suaminya yang susah diartikan. "Mas Agung niat gak sih bawa anak anak liburan? Kalau gak mau ya, gak usah kasih mereka harapan tinggi dong." Entah mengapa Nuri mendadak merasa emosi.
Agung yang tak mengangka dengan ucapan Nuri malah menautkan alisnya heran.
"Lho, kok malah sewot sih?" tegur Agung melihat kearah Nuri yang tiba tiba menyambar selimut lalu menutup tubuhnya.
Agung masih tak mengerti.
"Hei, Ai!? Jangan kayak anak anak dong! Aku tuh lagi ngebayangin bulan madu kita yang ke dua. Mau nyetak anak cewek di luar negri sana, pasti seru." terang Agung.
Dari balik selimut Nuri ingin menertawakan haluan suaminya. Bukankah hampir setiap mereka sudah mencetaknya, kenapa harus sampai ke luar negri sana.
Jika itu yang di pikirkan Agung, Nuri tak akan bisa menikmati waktu liburan untuk bermain bersama anaknya.
__ADS_1
"Kalau ugetnya langsung jadi, ntar jadi calon pemain bola lho, Ai," ucap Agung.
Ingin rasanya Nuri menyumpal mulut suaminya yang asal asalan. Jika pun Nuri benaran hamil anal perempuan, tak akan pernah ia ijinkan anaknya untuk bermain bola. Kenapa tidak Brayan dan Briyan saja yang ia latih untuk menjadi pemain bola seperti Messi.
Agung mendesah pelan. Candaanya sama sekali tak membuat Nuri memprotesnya. Apakah Nuri benar benar ngambek.
Ah, sudahlah tidur dulu, besok harus ada rapat pagi, batin Agung
Nuri semakin merasa kesal saat mendengar dengkuran pelan dari Agung. Suaminya benar benar mengabaikannya dab malah milih tidur tanpa berniat membujuk dirinya.
. . .
Suasanya pagi di rumah Agung seperti di sebuah pasar pagi saja.
Pagi pagi buta kedua bocah kembar sudah beradu sesuka hatinya sendiri.
Hanya gara gara tak memakai baju yang sama, Briyan terus memprotes Brayan, sang kakak.
Sementara Nuri dan mbak Inah tengah menyiapkan sarapan pagi. Baru saja dengar derap langkah kaki dari tangga, Briyan segera menyambut.
Agung segera menggendong anaknya menuju meja makan.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Agung menatap Brayan yang sudah standby di meja makan.
"Lihat, Pa! Dia sudah tak mau memakai baju Tayo seperti yang aku pakai," rajuk Briyan.
"Aku sudah besar, Riyan! Baju itu hanya cocok untuk anak anak," ungkap Brayan.
"Stop!" tegur Nuri.
Mendadak suasan meja makan tersa sangat sepi. Agung hanya bisa melirik Nuri yang sedang mengambil nasi untuk anak anaknya.
__ADS_1
Apakah dia benar benar marah?
Saat Agung ingin mengambil nasi, tiba tiba tangannya di tahan oleh Nuri tanpa bersuara.
Dengan telaten, Nuri meladeni keperluan suaminya di meja makan.
"Ai," panggil Agung.
"Sebelum makan berdoa dahulu," perintah Nuri dengan terang terangan mengacuhkan panggilan suaminya.
"Siap, Ma," ucap kedua bocah dengan serentak.
Jika kedua bocah kembar menikmati sarapan dengan lahab, berbeda dengan Agung yang terasa susah untuk menelan makanannya.
Sekilas Nuri hanya melirik tanpa ingin bertanya keada suaminya, meski mengganjal rasa penasaran, mengapa dirinya tak selera makan.
"Papa, berangkat kerja dulj, kalian di rumah gk boleh nakal!" titah Agung saat kedua bicah itu telah siap bersantap.
"Siap, Papa! Kami kan sudah besar, mana boleh nakal. Iya kan Riyan?" Brayan menyenggol lengan Briyan lalu di setuju dengan sebuah anggukan.
"Ai, aku berangkat sekarang ya. Ada rapat penting. Jaga anak anak." Tanpa menjawab, Nuri meraih tangan Agung lalu menciumnya, sesaat kemuadian Agung mencium kening Nuri hingga beberapa detik.
"I love you. Kalian tenang saja, kita pasti akan segera liburan," bisik Agung saat melepaskan ciumannya.
Mendadak Nuri merasakan getaran di dadanya yang sulit diartikan setelah mendengar bisikan suaminya.
"I love you too," lirih Nuri.
Nuri mengamati punggung suaminya hingga masuk kedalam mobil. Terlihat Agung menyunggingkan senyumannya lalu melambaikan tangan sebelum menjalankan mobilnya.
"Perasaan apa ini," batin Nuri.
__ADS_1
Mungkinkah hanya sebuah rasa bersalahnya karena telah mengabaikan Agung atau rasa yang...
Nuri membuang jauh jauh pikiran yang tidak benar. Berharap Agung baik baik saja..