
Setelah kepergian Via dari rumah besar milik mertua Nuri, kedua pengantin muda itu segera masuk kedalam kamar. Mengistirahatkan tubuh dan pikiran. Nuri telah membaringkan badannya di ranjang kebesaranya. Sementara Agung, lelaki itu hampir selesai mengejarkan sholat Isya' yang tertunda tadi.
"Mas bisa jelaskan mengapa dia bisa kerumah ini bersamamu?" Nuri menekan kata dia, membuat Agung hanya menelan saliva.
Memang Agung yang salah, seharusnya ia memberi kabar kepada istrinya jika akan bertemu dengan teman lamanya. Agung menganggap pertemuan hanya mereka berdua, ternyata disana juga ada Via, perempuan yang pernah mengisi kekosongan hatinya kala itu.
FLASH BACK ON
Abas, teman lama Agung yang baru saja pulang dari Jakarta ingin bertemu dengannya. Agung mengira bahwa pertemuan mereka hanya sebentar namun nyatanya memakan waktu lama sebab, ternyata Abas mengundang beberapa teman lama mereka juga termasuk Via.
Dalam perjalanan pulang naas, ban mobil milik Via kempes. Mendapat paksaan dari Abas dan yang lainnya, Agung- pun bersedia memberi tumpangan kepada Via.
"Jaga sikapmu baik baik! jangan kelewat batas! Aku sudah menikah!" ucap Agung dingin.
Via merasa seperti mendapat durian runtuh. Meski hubungan mereka telah usai dan Agung telah bergelar suami namun, bagi Via, Agung tetaplah Agung lelaki yang istimewa untuknya.
Suasana di mobil mencekam, Agung hanya fokus mengarah ke jalan depan, berbeda dengan Via, perempuan yang masih berharap besar kepada Agung terang terangan menatal Agung sepanjang perjalanan.
"Jaga pndanganmu!" tegur Agung.
Via tak merespon teguran Agung. "Kenapa? takut istrimu tahu?" tanya Via
Via menggerutu tak kunjung mendapat respon dari Agung.
"Kamu anggap aku apa? kita satu mobil, tapi kamu seperti tak menganggapku ada."
__ADS_1
Lima belas menit perjalanan, keduanya telah sampai di istana milik orang tua Agung.
"Jangan harap aku akan mengantarkan kamu pulang! silahkan segera cari jalanmu pulang!"
Via mengerutkan dahinya, sebenci itukah Agung terhadap dirinya, hingga sampai ia tak sudi untuk mengantarkannya pulang.
Mendengus kesal, Via berniat memicu kecemburuan Nuri, namun ternyata Nuri sama sekali tak terpacing, malah dirinya yang harus menahan emosi demi melawan adu mulut dari Nuri.
FLASH BACK OFF
Nuri segera memeluk tubuh suaminya setelah mendengar penjelasan daeinya. Dirinya merasa bersalah karena telah berburuk sangka terhadap Agung. Melirihkan kata maaf Nuri menenggelamkan kepalanya di dada lebar milik suaminya.
Agung mengusap kepala Nuri lalu mengecupnya.
"Sudahlah kamu tak perlu merasa bersalah, tapi aku sangat berterima kasih kamu teleh mempercayaiku," tutur Agung.
Seperti biasa tangan Agung melingkar di pinggang Nuri, meski awalnya merasa risi namun, Nuri kini sudah mulai terbiasa.
Saling berhadapan, hembusan nafas keduanya bisa saling di rasakan. Mata Nuri belum juga terpejam.
Gadis itu masih mengamati wajah yang tepat berada di hadapannya. Ingin sekali tangan Nuri menyentuh wajah damai tersebut namun tangannya hanya berhenti di udara, memilih mengurungkan niatnya.
Nuri terperanjat, saat hendak menutup mata, tangan Agung sudah terulur memegang tangan Nuri, bak mengerti niat istrinya, Agung meletakkan tangan Nuri di wajahnya.
"Beginikan?" tanya Agung.
__ADS_1
"Lihatlah wajahmu, menggemaskan," ucapnya lagi saat melihat wajah Nuri bersemu.
Agung mengelus pipi Nuri yang merah merona, perlahan mulai memajukan wajahnya untuk mencapai sesuatu yang telah membuatnya candu.
Tangan Agung sudah oindah ke tengkuk Nuri, dengan gerakan pelan, Agung mulai menjalankan misinya, menjelajahi setiap sudut rongga dengan lidahnya.
Nuri tak sanggup menolaknya, sengatan Agung seperti menghidupkan aliran listriknya yang membuat tubuh Nuri bergetar.
"Dek, bantu Mas melepaskan kecebong ya," bisik Agung, seketika tangan Agung menuntut pergelangan tangan Nuri menuju tongkat ajaib yang sudah mulai tegak sempurna.
Bibir Agung masih menempel pada bibur Nuri, lidah mereka saling beradu sesekali menghisap, sementara tangan Nuri sudah bermain di bawah sana dengan ritme sedang.
Seperti sedang berada di puncak kenikmatan duniawi, Agung melengkung saat para kecebong sudah hampir sampai di ujung puncak. Tangan Agung membantu gerakan tangan Nuri agar mempercepat gerakannya.
Dan... keluar juga benih kecebong, mereka tumpah menyembur ke arah seprei.
Setelah merasa telah keluar semua, Agung mendaratkan ciuman ke kening Nuri, merasakan kelegaan hasratnya yang sudah tak mampu ia bendung lagi. Toh tidak salah, mereka sudah sah, bahkan jika Agung meminta lebih dari itu.
Sebagai lelaki normal hal itu wajar, daripada menyalurkan hasratnya kepada wanita lain, cara itulah yang Agung lakukan untuk menunggu Nuri hingga istrinya menyerahkan rawa berlembah untuk pelepasan kecebong miliknya.
.
.
.
__ADS_1
.
Haduh, pagi pagi hareudang....