Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Bocah Ingusan


__ADS_3

Maaf atas keterlambatan up ..


Selamat membaca..


Adam segera meluncurkan mobilnya ke rumah sakit saat mengetahui bidan Erna masih tugas di sana.


Adam sesekali melirik ke arah spion untuk memastikan keadaan Nuri. Terlihat Nuri hanya merem sambil merebahkan kepalanya di bahu Tika.


Nuri segera di periksa oleh perawat, tak lama bu Erna yang telah mendapat pesan dari bu Nisa pun masuk ke ruangan periksa.


“Ini tidak apa apa kok Bu, hanya kelelahan dan telat makan saja. Apalagi dia mempunyai riwayat Asam lambung.”


Saat mendengar penjelasan dari bu Erna semua menjadi lega. Tapi Nuri harus tetap di rawat. Itu adalah permintaan dari Adam. Nuri tak bisa lagi memprotes karena badannya masih lemas.


Waktu sudah hampir magrib, dengan berat hati bu Nisa harus kembali ke asrama tapi ia berjanji akan kesini lagi selepas isya bersama pak Dzaki.


Galih yang kebetulan harus menyetorkan hafalan pun terpaksa ikut bu Nisa pulang.


“Tika, nitip Nuri sebentar. Saya akan mengantar Bu Nisa pulang sebentar!” titah Adam yang hanya mendapat anggukan dari Tika.


Dalam hati Tika merasa heran kenapa pak Adam yang judes itu bisa sangat perhatian kepada Nuri.


“Woi, ngelamun aja,” Nuri menyenggol lengan Tika. Sang empunya pun langsung tersadar.


“Eh, pak Adam itu sangat perhatian ya sama kamu ya? Bahkan aku liat jelas raut ke khawatiran di wajahnya,” ucap Tika.


Nuri pun menceritakan tentang Adam. Sontak mata Tika langsung terbelalak tak percaya.


Nuri meminta Tika tak menceritakan tentang hubungan Nuri dan Adam kepada yang lain termasuk dengan Ratna dan Galih.


“Jadi kamu adiknya pak Azam juga dong, masha Allah.” Tika masih tak percaya dengan kenyataan tentang Nuri adalah adik dari Pak Adam yng selalu ia maki selepas pelajarannya.

__ADS_1


“Maafin aku ya, udah sering ngata ngatain Mas mu.” Kali ini Tika berucap se manis mungkin berharap Nuri tak mengadukannya kepada mas nya. Nuri masih lemas pun hanya tersenyum.


Bagaimana jika kedua sahabatnya itu tau kalau Adam adalah kakak kandungnya Nuri?


Beberapa orang terlihat masuk ke kamar Nuri, awalnya Tika tak percaya namun itu nyata. Bu Nisa segera menghampiri kedua santrinya.


“Bagaimana, mbak Nuri?” tanya Bu Nisa.


“Saya gak apa apa kok Bu.” Saat menjawab pertanyaan itu netra Nuri menangkap sosok Mr Agung di samping Azam.


Kini orang orang itu mendekat ke arah Nuri menanyakan pertanyaan sebagai basa basi saja. Rasanya Nuri sangat malu jika harus di tatap banyak orang sedangkan ia sedang tak berdaya.


“Syukurlah, tapi ibu gak bisa nemenin mbak Nuri, kasihan Zahra kalau si tinggal di asrama.”


Sebenarnya walaupun tak ada yang menunggu Nuri tetap saja tidak takut di tinggal sendiri.


“Biar Azam yang menunggu Nuri, Bu,” pinta Azam.


Pak Dzaki pun setuju, toh dia adalah kakaknya.


Tika masih setia mendampingi Nuri terbaring di ranjang rumah sakit. Ia tak tega meninggalkan sahabatnya walaupun ia tahu ada kakak yang siaga menjaganya.


Tak ada jawaban dari Nuri, gadis itu malah sibuk dengan ponselnya, begitu juga dengan Tika, terlihat ia sedang membalas chat di aplikasi berwarna hijau itu.


Agung merasa di abaikan oleh kedua muridnya hanya mendesah pelan.


Tak lama Azam sudah nongol membawa tiga bungkus Nasi padang.


“Tika makan kamu makan nih, biar aku yang urus bocah ini,” titah Azam menyerahkan sebungkus nasi dan sebotol air mineral.


Tika yang merasakan cacingnya pada demo sedari tadi langsung mengambil sebungkus nasi. Tak ada kata malu lagi demi perutnya terisi.

__ADS_1


Untung saja di kamar itu hanya Nuri penghuninya. Dengan leluasa Tika bisa menggunakan ranjang sebelahnya untuk ia makan. Sementara Agung dan Azam duduk di kursi plastik yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.


“Mas, aku mau juga,” rengek Nuri saat ia hanya melihat ke arah tiga insan sedang makan dengan lahap tanpa memikirkan sedang berada dimana mereka. Wajar saja, kerena memang sudah pukul sembilan malam.


“Ingat kamu masih sakit, makan aja nasi jatahmu.” Cih, gak peka sekali.


Terlihat aura penuh pertanyaan dalam diri Agung saat mendengar percakapan dari kedua insan di sampingnya.


Bagaimana Nuri terlihat akrab dengan Azam. Padahal jika di bandingkan dengan dirinya, ia lebih lama mengajar ketimbang Azam.


“Tika kamu gak papa nemenin bocah ini?” Setelah makan Azam memastikan Tika, sebab di ruangan itu ada dua lelaki dewasa, takut jika dia merasa tidak nyaman.


“Tenang aja pak, saya tidak apa apa. Saya sudah menganggap Nuri seperti saudara saya sendiri.” Senyum manis dengan lesung pipi di sebelah kanan mengiringi ucapannya.


“Zam, apa hubunganmu sama murid ini? Ku perhatikan kalian begitu akrab.” Pertanyaan yang sedari tadi kini telah tersampaikan kepada Azam.


Sekilas Azam melirik Nuri dan Agung, Nuri terlihat membuang muka saat Agung menatapnya.


“Jadi sama sekali kamu gak ingat sama ini bocah?” Azam memastikan dengan bahasa formal.


Agung hanya mrnggeleng. Sementara Tika hanya berniat menjadi pendengar saja.


“Ini Nuri, bocah ingusan yang sering ngalahin lo saat main sepak bola di komplek depan rumah.” Jelas Azam.


Kali ini Azam menggunakan ucapannya kesehariannya. "Malu maluin masa anak SMP selalu kalah sama bocah ingusan kayak gini," imbuhnya lagi.


Seketika ucapan Azam mendapat cubitan di lengan. Siapa lagi kalau bukan Nuri pelakunya.


Tika yang mendengar ingin tertawa namun ia tahan. Sementara Agung berusaha mengingat kembali kejadian puluhanan tahun lalu.


“Oo jadi ini bocah ingusan yang selalu ingin jadi istri gue?” Ingatan Agung ternyata masih tajam.

__ADS_1


Sementara Nuri yang baru tahu bahwa gurunya itu adalah lelaki yang selalu ia gombali saat masih ingusan hanya bisa menahan rasa malu. Tak bisa di gambarkan lagi wajah Nuri. Gadis itu hanya mampu membuang muka ke samping tanpa ingin melihat Agung.


Maafkan Author yang baru bisa nongol, sebab dunia nyata begitu sangat menguras tenaga dan pikiran. sebagai permintaan maaf Author up double . Tapi jangan lupa tekan tombol Like. komen yang banyak 😘


__ADS_2