
Kabar burung ternyata cepat sekali menyebar luas.
Maya yang mendengar perselisihan antara anak, menantu dan wanita lain merasa telinganya panas dan tangannya terasa gatal untuk menjewer kuping Agung.
"Awas saja nanti!" Maya yang sudah tidak sabar untuk sampai di kediaman Agung. Ia terus saja mengoceh sepanjang perjalanan hingga membuat Dayu tak mampu untuk menyela.
Saat mobil sudah terparkir di halaman rumah Agung, terlihat anak dan menantunya tengah berada di teras. Nampak Agung hanya mengenakan celana training panjang dan kaos sweater serta sarung yang mengalung di lehernya.
Setelah Maya memastikan bahwa itu benar benar Agung, ia segera melangkah lebar meski awalnya ia tak percaya akan penmpilan sang anak.
"Aduh... ampun, Ma! Apa salahk?" Agung mengaduh memegangi kupingnya yang masih dijewer oleh Maya.
"Dasar anak nakal! Beraninya kamu bawa perempuan itu ke kantor!" Dengan kesal akhirnya Maya melepaskan telinga Agung yang sudah memerah. Agung masih menggosok pelan. Nuri dan Dayu hanya diam tidak berani memberi pembelaan terhadap Agung.
"Apa kalian tidak mau mempersilakan orang tua ini masuk?" sindir Maya.
Dengan segera Nuri mempersilakan kedua mertuanya masuk kedalam rumah.
"Mama mau menginap disini malam ini," ucap Maya.
Wajah Agung berubah seketika. "Ma! Mama 'kan punya rumah sendiri, ngapain harus nginap? mau mencuci pikiran menantu mama yang sedang hamil?" protes Agung.
Bantal sofa langsung melayang mengenai wajah Agung. "Justru karena Nuri sedang hamil, dia harus di jaga, mana tahu ada perempuan gila nyasar," ujar Maya.
"Terserah kalin saja, aku sudah telat. Awas Mama macam macam dengan Nuri!" ancam Agung.
Maya menakutkan alisnya. "Mau kemana?"
"Agung mau ronda malam dulu, Ma. Biar gak masuk ke kompeks ini wanita gila itu.," ketus Agung.
Maya hendak menahan tawanya. Sementara itu, Nuri telag datang membawa dua cangkir teh bersama dengan camilannya.
"Kenapa repot repot sih, Ai. Mama 'kan bukan tamu," ucap Maya.
Dayu segera meraih teh di depannya lalu menyesap pelan. "Gak apa apalah Ma, kebetulan Papa haus." keleh Dayu.
__ADS_1
Setelah mengutarakan niatnya, Nuri segera membersihkan kamar tamu. Meski di lantai atas ada dua kamar, mertua Nuri itu memilih kamar bawah yang tak kalah luasanya.
"Kalau gitu aku tinggal ya Ma, Pa. Ada tugas kuliah yang belum siao," alibi Nuri. Padahal semua tugas sudah ia kerjaan tadi siang bersama Rian dan Zahra.
Maya dan Dayu hanya mengangguk. Setelah mendengar bahwa Via akan bekerja sama dengan Agung, dirinya langsung meradang. Bukan tidak percaya kepada Agung namun, ia terlalu khawatir jika Agung akan goyah, mengingat Via bukanlah perempuan baik baik. Itulah yang membuat Maya tak menyukai Via, terlebih ia tahu jika saat ini Via tengah hamil. Takut, jika Agung akan di jadikan kambing hitam olehnya.
"Mikir apa sih, Ma?" tegur Dayu menepuk bahu istrinya.
"Sudah, jangan dipikirkan, anakmu sudah bisa mikir man yang baik dan yang buruk," lanjutnya lagi.
Maya hanya diam, dia bener benar takut jika keluarga anaknya akan terpecah belah.
"Ya sudah, tidurlah! Papa mau nonton tv dulu," ucap Dayu.
.....
Agung tertawa renyah bersama para bapak kompleks sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Meski Agung sudah menepati posisi Direktur namun, ia tidak gengsi untuk berkumpul bersama para tetangganya untuk ronda malam.
"Jadi gimana Pak Bayu?" tanya Pak Dewa penasaran.
"Ada gaya apa lagi Pak, biar nanti saya praktekkan lagi?" tanyanya kembali.
Agung yang tidak mengerti arah pembicaraan hanya terdiam, ikut tertawa saat kedua lelaki di sampingny tertawa.
Pak Bayu sibuk mengotak atikan ponselnya, setelah menemukan yang ia cari, ia langsung tersenyum lepas.
"Sudah saya kirim ya, Pak! itu gaya kesukaan isrti saya, katanya sih bisa keluar kembar," tutur pak Bayu.
Benar saja, pak Dewa segera memutar vidio yang dikirim oleh rekannya. Alangkah terkejut saat Agung mendengarkan desahan dalam vidio yng di tonton pak Dewa.
Ternyata itu vidio ples-ples.
"Pak Agung gak usah tegang seperti itu, nanti yang di bawah ikutan tegang lho," ejek Pak Bayu.
__ADS_1
Agung hanya mampu menelan saliva, ternyata bukan hanya dirinya yang terlalu mesum kepada istrinya.
"Pak Dewa, kecilkn suaranya, itu hanya membuatku gila, aku sedang puasa!" tegur Pak Bayu.
....
Pukul sebelas malam, ketika lelaki beristru itu membubarkan diri. Begitu juga dengan Agung, ia bergegas ingin sampai di rumah, ingin mencoba gaya yang baru saja ia tonton. Meski ia menolak untuk dikirim namum, ia masih ingat dengan jelas bagaimana caranya.
Melewati kamar tamu, langkah Agung terhenti sambil menggelengkan kepala.
Namun, langkahnya ragu untuk beranjak. Ia menempelkan telinganya di daun pintu.
Jelas terdengar, Papanya tengah mendesag nikmat. Penasaran, Agung pun mengintip dari lubang kunci .
Agung kembali menelan susah saliva, terlihat Maya dengang menghisap ice cream jumbo. Dayu hanya memejamkan matanya.
Agung segera menjauhkan diri saat merasakan sesuatu mengeras dibawah sana.
"Sial!" umpatnya segera menaiki anak tangga.
Tepat di depan ranjang, Nuri sudah tertidur pulas.
Antara iya dan tidak. Agung masih mempertimbangkan hasratnya untuk mecoba pengalaman baru.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai hai.... Mana nih tebaran hadiahnya ๐คจ