
...Sesulit apa pun hidup...
...jika kita masih bisa bersyukur...
...Maka hidup kita akan terasa lebih...
...Bahagia, meski dengan cara sederhana...
Happy Reading...
Setelah permainan malam yang panjang, Nuri dan Agung telah membuka matanya kembali kala mendengar seruan adzan berkumandang. Keduanya segera bergegas menuju kamar mandi, sial keduanya bangun terlambat.
"Semua gara gara kamu, Mas!" gerutu Nuri.
"Lho kok aku? Kan kamu menikmati," protes Agung.
Keduanya kini mandi bersama. Hanya sekedar mandi tanpa ada yang lainnya sebab, mereka harus mengejar waktu subuh mereka. Jika saja waktu masih panjang, Agung tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah di depan matanya.
"Mas, aku hari ini ada kuliah pagi, gimana dengan anak anak?" tanya Nuri saat melipat sajadahnya.
"Mbak Inah dan pak Mun hari ini sudah kembali kesini," ujar Agung.
Nuri bernafas lega. Bersyukur jika mbak Inah sudah kembali ke rumahnya, itu artinya ia tak mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Mungkin karena selama ini pekerjaan rumah di kerjakan orang lain membuat dirinya menjadi malas, kecuali memasak.
Karena anak dan suaminya lebih memilih masakannya ketimbang masakan mbak Inah.
__ADS_1
"Syukurlah," ucap Nuri.
Keduanya segera menuruni anak tangga. Nuri berjalan ke dapur, sedangkan Agung segera ke kamar mandi bawah. Membawa setumpuk pakaian kotor lalu memasukkan ke dalam mesin cuci.
Tak perlu merasa gengsi kala membantu istri. Karena dengan turun tangannya seorang suami akan membuat hati seorang istri terharu, meski itu hanya hal kecil. Rumah tangga yang harmonis bukan selalu tentang uang melimpah atau liburan yang mewah namun, dengan secuil perhatian dan saling memahami akan membuat rumah tangga terasa lebih dari harmonis.
Ya Allah, mampuslah. batin Agung saat hendak menjemur hasil cuciannya.
Setelah siap menjemur, Agung menghampiri Nuri yang sedang mencuci perkakas bekas ia bertempur di atas kompor.
Memeluk Nuri lebih dalam sambil mengecup rambutnya. Ya, kali ini Nuri sedang tak mengenakan hijabnya. Rambut panjang legamnya ia gerai begitu saja.
"Apa sih, sana minggir!" usir Nuri.
"Ai," lirihnya.
"Mas Agung pernah ngerasain di tabok pakai wajan?" sindir Nuri.
Seketika dengan cepat Agung melepaskan pelukannya.
"Galak amat sih, Ai. Masih pagi lho!" ucap Agung.
Nuri mendesah kesal. Entah apa mau suaminya, padahal tadi malam sudah ia beri servis dua kali lipat dari yang biasanya ia berikan.
"Ai." Agung masih ragu untuk berbicara.
__ADS_1
"Ada apa?" Nuri membalikkan tubuhnya, menatap Agung yang sedang kesulitan untuk berbicara.
"Anu... pembungkus itu busanya rusak kena giling mesin cuci." Dengan ragu Agung menunjuk pada bagian dada Nuri.
"Ha? kok bisa?" Nada Nuri meninggi.
Habislah sudah, belum sarapan udah di makan mentah mentah, batin Agung.
Nuri berjalan ke belakang, melihat pakaian yang sudah di jemur oleh suaminya. Saat melihat pakaian yang jemur, Nuri sedikit menahan tawanya.
Yang benar saja, cara menjemur yang naik turun serta letaknya berserak membuat Nuri menggelengkan kepalanya.
"Lho Mas, kok hancur semua?" Nuri mengambil beberapa benda penutup benda privasinya yang sudah tak karuan bentuknya.
"Kalau seperti ini gak perlu masuk ke mesin, Mas! Kan jadi rugi aku. Tuh lihat ada lima biji lo," sembur Nuri.
"Iya, maaf. Nanti siang aku ganti satu kodi. Berapa ukurannya?"
Pagi ini Agung mengantar anaknya terlebih dahulu sebelum mengantar Nuri ke kampus.
Selama perjalanan wajah kedua anaknya terlihat lebih ceria.
Brayan sudah tak sabar akan mengatakan kepada Ardan jika mama dan papanya juga akan membuatkan adik bayi seperti adiknya Ardan.
"Ingat jangan nakal! Kalian pulang di jemput sama pak Mun. Jadi, sebelum pak Mun menjemput kalian tidak boleh meninggalkan sekolah," pesan Agung pada kedua anknya.
__ADS_1
Kedua bocah itu hanya mengangguk. Sebelum turun keduanya menyalam tangan Agung dan Nuri dan mendapat kecupan di kepala mereka berdua.
"Da... Mama... Da Papa," teriak keduanya.